Peringatan 1.000 Hari Meninggalnya Yustina Monica Amirah: Merayakan Tiga Hal Penting, Kata Mgr. Ignatius Suharyo (1)

Bapak Uskup Agung KAJ Mgr. Ignatius Suharyo tengah memberi paparan homili pada Perayaan Ekaristi misa peringatan 1.000 hari meninggalnya Yustina Monica Amirah di Kapel St. Albertus Magnus Unika Atma Jaya, Minggu (11/3/18) petang by Christoporus Tri Djoko Irwanto.

KAPEL St. Albertus Magnus di lantai 13 Gedung Karol Wojtyla Unika Atma Jaya di kawasan Semanggi, Jakarta Selatan, Minggu petang tanggal 11 Maret 2018 kemarin riuh oleh banyaknya tetamu yang datang memasuki ruang ibadat. Mereka ingin mengikuti Perayaan Ekaristi bersama Mgr. Ignatius Suharyo (Uskup Agung KAJ), Mgr. Dominikus Saku (Uskup Dioses Atambua, Timor, NTT), dan Romo Damian Doraman OFMCap (Pastor Gereja St. Fransiskus Assisi – Paroki Tebet, Jaksel).


Intensinya satu yakni menghadiri  misa peringatan 1.000 hari meninggalnya Ibu Yustina Monica Amirah, isteri Herman Yoseph Susmanto, bersama dua orang uskup dan satu pastor paroki tersebut.


Tentu sempat menjadi pertanyaan bagi banyak orang, mengapa bisa ada dua orang uskup dan seorang imam untuk acara  peringatan 1.000 hari meninggalnya Yustina Monica Amirah ini?


Tentang hal ini harus dijelaskan sebagai berikut.


Kiprah sosial HY Susmanto dan keluarga di wilayah gerejawi KAJ, Keuskupan Atambua, dan Paroki Fransiskus Assisi Tebet terbilang sangat aktif dan juga produktif di banyak jenis karya pelayanan untuk Gereja. Maka, dengan sukahati pula kedua uskup dan pastor tersebut merespon permintaan keluarga untuk bersama di meja altar memimpin misa peringatan 1.000 hari meninggalnya Ny. Yustina Monica Amirah tersebut.


Pada misa kemarin, ikut tampil Paduan Suara Accordia dari Paroki Tebet dengan iringan musik jenis keroncong. Tujuannya,  “Agar semakin terasa nuasana ke-Bhinneka-an Indonesia,” demikian tutur Antonius Prasetya Yossanto, anak bungsu pasangan Herman Yoseph Susmanto dan almarhumah Yustina Monica Amirah di akhir misa.


“Inilah Allah yang kita nanti-nantikan”


Di awal homilinya yang selalu mentes dan renyah dimengerti, Uskup Agung KAJ Mgr. Ignatius Suharyo menyatakan telah dengan sengaja tidak menyinggung konten bagian pendahuluan yang tersaji di buku panduan misa. Ini, kata beliau, agar masih punya ‘bahan’ homili untuk bisa dipaparkan sebagai pokok-pokok permenungan dalam konteks peringatan 1.000 hari meninggalnya Yustina Monica Amirah.


Menurut Mgr. Ignatius Suharyo, ada hal yang layak dijadikan panutan dari sosok alm.Yustina Monica Amirah, isteri HY Susmanto. Tiada lain, kata Monsinyur, adalah pengalaman iman almarhumah akan kasih Allah yang pernah dia rasakan dan alami, bahkan dalam kondisi fisik sakit yang serius.


Menurut perspektif iman, tegas Monsinyur, kita semua umat Kristiani percaya bahwa Yustina Monica Amirah kini sudah tinggal-bersama-dalam  kedamaian ilahi bersama Sang Pencipta dan ikut merasakan kemuliaan abadi bersama Tuhan.


Pada kondisi hidup seperti itulah, kata Mgr. Ignatius Suharyo sembari mengutip teks Bacaan Pertama dari Yes 25:6a.7-9,  kita semua akan dimampukan berucap seperti ini. “Pada hari itu, orang akan berkata: ‘Inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan.’ Inilah Tuhan yang kita nanti-nantikan, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya.”


“Saya kira, Ibu Yustina Monica Amirah sekarang ini sudah dimampukan mengucapkan kalimat itu: ‘Inilah Allah kita, yang kita nanti-natikan.” Inilah sebuah situasi sudah mengalami  kemuliaan abadi bersama Tuhan,” tutur Monsinyur Suharyo, mantan dosen Kitab Suci di Fakultas Teologi Wedabhakti Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.


Suasana misa peringatan 1.000 hari meninggalnya Yustina Monica Amirah dalam Perayaan Ekaristi Konselebrasi bersama Mgr. Ignatius Suharyo, Mgr. Dominikus Saku, dan Romo Damian Doraman OFMCap, di Kapel St. Albertus Magnus Unika Atma Jaya, Minggu 11 Maret 2018. (Tri Djoko Irwanto)

Inti Perayaan Ekaristi


Kasih Allah kepada manusia dengan puncaknya terjadi pada pengorbanan Yesus yang mati, namun kemudian bangkit kembali mengalahkan alam maut itu selalu dikenang oleh umat kristiani melalui Perayaan Ekaristi. Pada Perayaan Ekaristi dalam rangka memperingati 1.000 hari meninggalnya Yustina Monica Amirah inilah, kata Mgr. Ignatius Suharyo, kita semua diajak kembali merasakan pertalian kasih ilahi Allah dengan manusia.


Ini sekaligus juga menabur harapan bahwa semoga kasih Allah itu semakin menyempurnakan pertalian kasih insani antardua manusia sebagaimana sudah dialami dalam ikatan perkawinan Katolik oleh HY Susmanto dan alm. Yustina Amirah.


Perkawinan insani antarmanusia itu banyak mengalami pasang-surut. Namun melalui Perayaan Ekaristi, perkawinan insani itu diharapkan bisa ‘lebih sempurna’ lagi sehingga juga makin menyerupai kasih Allah yang tidak terbatas kepada manusia. “Inilah yang ingin kita rayakan dalam misa peringatan 1.000 hari meninggalnya Ibu Yustina,” papar Mgr. Ignatius Suharyo.


Membantu Keuskupan Atambua


Mgr. Dominikus Saku mengenal akrab HY Susmanto di Komisi Seminari KWI. Pertalian hubungan pertemanan ini kemudian berlanjut di Atambua.


Di wilayah tapal batas Indonesia dengan Timor Leste ini, demikian Mgr. Domi, HY Susmanto selama beberapa tahun terakhir ini sukses merintis sebuah prakarsa pengembangan sosial-ekonomi untuk masyarakat lokal di Atambua.


Sekali waktu, kata Monsinyur, Susmanto berhasil memboyong pergi isterinya alm. Yustina Monica Amirah datang ke Atambua dan merayakan Perayaan Ekaristi bersama umat Katolik setempat di Gereja Katedral Atambua.


Waktu itu, kondisi fisik Yustina sudah sangat lemah karena sakitnya, ketika kunjungan itu terjadi. Namun dalam pengakuannya kepada suaminya, Yustina bisa merasakan sukacita luar biasa saat berkunjung ke Atambua ini.


Hal sama juga dialami dan dirasakan  oleh semua anggota rombongan kelompok Bimbingan Hidup Sehat asuhan Anton Porat di Kupang yang diajak ikut serta ke Atambua. Sebagian besar malah bersaksi bahwa baru kali itu mereka bisa  duduk makan siang bersama Uskup dan kemudian mengikuti Perayaan Ekaristi di Gereja Katedral Atambua.


Perjalanan dari Kupang ke Atambua waktu itu ditempuh dengan mobil dan menempuh waktu perjalanan selama tujuh jam. Sekarang, jasa layanan terbang sudah tersedia guna menjangkau  Atambua dari Kupang dan sebaliknya.


Penggalan kisah hidup yang bersinggungan dengan alm. Yustina dan kemudian menyaksikan kiprah HY Susmanto dalam segala upaya menaikkan kapasitas sosial-ekonomi umat di Atambua inilah, demikian kata Mgr. Dominikus Saku, “Inilah yang akhirnya membawa saya ikut naik altar ikut merayakan Perayaan Ekaristi memperingati 1.000 hari meninggalnya Ibu Yustina.”


Pastor Damian Doraman OFMCap ikut naik altar, karena beliau adalah pastor paroki di Gereja St. Fransiskus Assisi Tebet di mana keluarga HY Susmanto tinggal dan menjadi salah satu umatnya. (Berlanjut)


Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: