Perhentian

Ayat bacaan: Ibrani 4:1
=================
“Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku.”

Seandainya diminta membayangkan sebuah suasana yang paling nyaman buat anda, apa yang muncul dibenak anda? Saya membayangkan sebuah tempat di pinggir pantai, angin sejuk berhembus sepoi-sepoi menerpa lembut saya yang tengah duduk dibawah pohon kelapa, menikmati suasana penuh kedamaian tanpa ada beban pikiran, tanpa tugas-tugas, tanpa ada masalah yang harus diselesaikan, tanpa kekurangan apapun. Itu adalah suasana yang paling nyaman yang akan langsung terbayang jika pertanyaan itu diberikan pada saya. Masing-masing orang tentu punya suasana favorit untuk refreshing. Mungkin anda membayangkan suasana pegunungan, ada yang berjalan-jalan dan hang out bersama sahabat di mal, pergi ke tempat-tempat rekreasi, atau mungkin juga yang paling nyaman adalah bisa menonton dvd di rumah sambil rebahan tanpa gangguan. Apapun yang anda bayangkan, tentu saja faktor yang akan selalu ada adalah situasi dimana tidak lagi ada kesulitan, beban hidup, masalah, kesedihan dan hal-hal berat lainnya yang menyita pikiran dan perasaan. Dan yang juga pasti, setelah anda bekerja keras selama beberapa waktu, sebuah perhentian, sebuah masa jeda, masa istirahat akan terasa sangat indah bahkan mewah bagi kita.

Sudahkah kita sadar bahwa Tuhan sudah menyediakan sebuah tempat sebagai perhentian kita, sebuah  tempat dimana kita tidak lagi harus setengah mati bekerja, tidak lagi harus mengalami penderitaan hidup?,dimana tidak ada lagi ratap tangis dan sakit. Ini jelas sebuah tempat yang luar biasa nyaman, lebih dari tempat liburan terindah manapun yang pernah anda datangi di dunia ini, dari apapun yang sanggup anda bayangkan. Perhatikan cara Alkitab menggambarkannya. “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” (Wahyu 21:3-4). That’s a place where all the problems and sadness no longer disturb us. Dan itu bukan hanya impian, tapi merupakan sesuatu yang sudah disediakan bagi kita, tapi perhatikan bahwa tidak semuanya akan berhasil mencapai tempat perhentian itu dan masuk di dalamnya.

Kitab Ibrani menjelaskan panjang lebar mengenai tempat perhentian ini dan bagaimana agar kita tidak ketinggalan untuk mendapat bagian di dalamnya. Disana dikatakan “Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku.” (Ibrani 4:1). Perhentian itu masih berlaku dan tetap akan berlaku bagi orang percaya. Apa yang harus kita lakukan adalah terus waspada, terus menjalani hidup dengan ketaatan yang sungguh-sungguh agar kita tidak sampai ketinggalan kereta untuk mencapai tempat yang penuh sukacita dan damai sejahtera itu.

Kitab Ibrani juga mengingatkan kita agar jangan sampai melakukan kesalahan fatal seperti halnya bangsa Israel yang gagal mencapai tempat perhentian mereka, sebuah tanah terjanji yang berlimpah susu dan madunya. Bacalah Ibrani 3:7-19 untuk mendapatkan gambaran jelas. 40 tahun lamanya mereka ditempa dalam perjalanan memasuki sebuah tempat perhentian yang indah, namun mereka tidak mampu memanfaatkan kesempatan yang ada. Mereka terus saja menyakiti hati Tuhan, melakukan berbagai kesalahan dan pada akhirnya mereka pun luput dari tempat itu. “..nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku, sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.” (ay 9-11). Belajarlah dari kegagalan bangsa Israel pada jaman itu agar kita tidak ikut-ikutan terperosok dan kehilangan kesempatan untuk masuk ke tempat perhentian yang sudah disediakan Tuhan itu. Janji itu tetap sama berlaku, “Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula.” (ay 14).

Apa yang dapat membuat kita gagal memperoleh tempat perhentian ini? “Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup.” (ay 12). Murtad dari Tuhan, memiliki hati yang jahat dan tidak percaya. Itu hal yang akan merintangi kita dan membuat kita melenceng, dimana masalah tidak saja terus berlangsung, tapi intensitasnya akan semakin tinggi. Dalam ayat 14 yang sudah saya kutip di atas kita melihat pula bahwa kita harus terus berpegang teguh kepada iman kita. Memulainya sudah baik, jangan sampai kita terjatuh di tengah jalan. Adalah penting bagi kita untuk terus berpegang kepada iman, sebentuk iman yang kuat, iman yang teguh, iman yang percaya penuh, iman yang penuh pengharapan, iman yang mampu melemparkan gunung ke laut. Secara jelas Penulis Ibrani juga menyebutkan kategori orang yang akan tidak akan diikutsertakan untuk masuk ke dalam tempat perhentianNya. “Dan siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat? Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka.” (ay 18-19).

Bagi semua orang tempat ini disediakan. Kepada semua orang pula telah diberitakan kabar gembira seperti halnya kepada kita. Tapi bagi sebagian orang berita itu dibiarkan berlalu sia-sia, sehingga bagi mereka kesempatan untuk beroleh tempat itu akan berlalu di depan mata. “Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya.” (Ibrani 14:2). Dikalangan orang percaya sekalipun, jika hidup tidak dengan iman yang taat dan percaya, mereka tidak akan bisa mencapainya. (ay 6). Bagaimana cara kita hidup saat ini akan sangat menentukan kemana kita akan masuk nanti. Apakah ke tempat perhentian yang penuh damai sukacita tanpa ratap tangis penderitaan, sakit penyakit dan sebagainya, atau ke tempat dimana penderitaan akan milyaran kali lipat lebih parah selama-lamanya. Oleh karena itu Penulis Ibrani mengingatkan: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!” (ay 7)

Tempat perhentian telah disediakan bagi kita. Apa yang penting diingat adalah agar kita jangan sampai ketinggalan sehingga gagal menerimanya. Jika hidup ini diibaratkan sebagai perlombaan, mari kita semua berlomba dengan baik untuk mencapai garis akhir sebagai pemenang (Ibrani 12:1). Anda rindu tempat peristirahatan seperti tempat rekreasi/wisata yang penuh nyiur melambai, angin sepoi-sepoi, langit biru berawan dan lautan yang jernih seperti kaca, yang bisa anda nikmati tanpa harus memikirkan hal-hal sulit apapun? Apa yang disediakan Tuhan jauh lebih indah dari itu, bahkan kekal sifatnya. Hiduplah dengan iman dan ketaatan penuh hingga akhir, agar tempat perhentian itu bisa menjadi milik anda.

Tuhan menyediakan tempat perhentian yang penuh sukacita kepada orang percaya yang beriman

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: