Perdamaian

Ayat bacaan: Roma 12:18
========================
“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”

perdamaian

Mayoritas orang tentu menginginkan dunia yang damai. Tidak ada peperangan, tidak ada kerusuhan, tidak ada perselisihan. Semua bisa hidup berdampingan secara harmonis. Itu bentuk dunia yang diimpikan oleh banyak orang. Sayangnya kebanyakan orang hanyalah berhenti pada bermimpi dan berharap. Dalam menjalani kehidupannya, mereka masih menerapkan begitu banyak sekat-sekat pembatas, fokus pada perbedaan dan akibatnya hidup dikuasai permusuhan. Apakah itu didasari oleh perbedaan keyakinan, perbedaan ideologi, perbedaan suku, bangsa, budaya, perbedaan pendapat, dan lain-lain, semua itu akan semakin mempersulit terciptanya kedamaian. Peace on earth, akhirnya berhenti sebagai slogan dan harapan, tapi tidak akan pernah bisa diwujudkan. Apakah mungkin kita mencapai dunia yang damai jika kita yang hidup di dalamnya tidak pernah bisa belajar untuk berdamai? Apakah sekat-sekat pembatas yang kita ciptakan akan membantu membuat dunia semakin baik? Apakah Tuhan menginginkan kita untuk saling bermusuhan berdasarkan segala perbedaan itu? Apakah memang tujuan Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda karakter, sifat dan sebagainya agar kita hidup bermusuhan? Tentu tidak. Tuhan tidak hanya penuh kasih, tapi Dia adalah kasih itu sendiri. (1 Yohanes 4:16).

Serangkaian pesan penting Paulus buat perdamaian tercatat pada Roma 12:9-21. Jangan pura-pura baik (ay 9), saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului memberi hormat (ay 10), berkomitmen menolong orang yang kesusahan (ay 13), memberkati yang jahat kepada kita, dan dilarang mengutuk (ay 14), memiliki empati terhadap orang lain (ay 15), hidup rukun dan rendah hati (ay 16), tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan dengan kebaikan (ay 17,21), tidak menuntut balas (ay 19), tetap memberi bantuan bahkan kepada musuh sekalipun (ay 20). Ini pesan luar biasa yang menggambarkan bentuk ajaran Tuhan Yesus yang penuh kasih. Mari kita lihat ayat berikut ini: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:18). Tidak ada diajarkan untuk membenci orang yang berbeda keyakinan. Kita tidak diajarkan untuk tidak membalas salam, malah dianjurkan untuk lebih dulu menyampaikan salam. Kita tidak diajarkan untuk menutup mata atas kesulitan hidup mereka yang berbeda kepercayaan, tapi kita diminta untuk membantu dan ber-empati. Kita tidak diijinkan untuk bergembira atas penderitaan orang lain, bahkan yang dianggap musuh sekalipun. Tidak boleh mengutuk, namun harus memberkati mereka. Kesimpulannya adalah, kehidupan penuh damai di dunia ini baru memungkinkan untuk terjadi jika komponen penting pengisi dunia, yaitu kita, manusia, mau memulai dari diri kita sendiri untuk belajar hidup rukun dan damai dengan semua orang, tanpa terkecuali.

Ketika banyak orang belum mampu menghayati hakekat perdamaian dalam kehidupan untuk mencapai dunia yang lebih baik, a better and safer world, ketika masih banyak orang yang lebih memilih jalan-jalan permusuhan dan kekerasan, sebagai anak-anak terang, hendaklah kita mulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu untuk menerapkan bentuk kasih yang penuh damai dengan orang-orang disekitar kita. Semua haruslah dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Sedapat mungkin, selama kita masih bisa, selama itu tergantung kita, berdamailah dengan semua orang. Hanya dengan demikian kita bisa menunjukkan bentuk kasih seperti yang diajarkan Kristus secara nyata kepada sesama, dan hanya demikian kita bisa turut serta untuk memperbaiki dunia yang carut marut kondisinya agar bisa menjadi tempat yang lebih baik untuk kita tinggali.

Runtuhkan tembok permusuhan dan ulurkan persahabatan dengan semua orang

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply