“Percikan Kisah-kisah Anak Manusia”, Refleksi Iman Berangkat dari Keseharian Hidup

DARI pengalaman kesehariannya, manusia bisa mengambil sikap atas hidupnya sendiri. Mau membiarkan kesehariannya berlalu tanpa kendali atau sebaliknya “mengontrol” ritme hidup kesehariannya sesuai kaidah etika moral yang dia yakini.

Buku Percikan Kisah-kisah Anak Manusia ini mau memberi “terang” kepada sekalian orang beriman –utamanya umat katolik—agar bisa mengarahkan ritme hidupnya sesuai terang dan ajaran iman katolik. Dari berbagai pengalaman keseharian yang sederhana itulah, kita bisa mengaca diri dan kemudian memperoleh inspirasi positif untuk mengolah hidup ke arah yang lebih bermakna, berbobot, dan berkualitas.

Tergelar di sana

Sungguh, demikian keyakinan penulis buku yakni Romo Josef Lalu Pr, kebajikan hidup dan tataran nilai moral gampang kita temui dalam kehidupan keseharian kita. Entah itu pengalaman pribadi maupun kisah-kisah naratif yang ada dalam lingkungan masyarakat kita sendiri.

Apakah itu dongeng, fabel, mitos atau kebiasaan dan adat-istiadat sekeliling hidup kita. Intinya, nilai-nilai positif itu sudah ada dan tergelar di sana. Kini, tinggal inisiaitif kita sendiri untuk memetik buah nilai-nilai bagus itu sesuai tingkat kesadaran diri masing-masing.

Tapi, Romo Yosef Lalu Pr memberi kiat sederhana agar proses refleksi untuk menemukan rumusan “iman” bisa dilakukan lebih gampang. Memakai analagi “teologi” doa Aku Percaya, maka Romo Yosef Lalu Pr pun menggunakan tahapan berteologi mulai dari paparan tentang dokumen Gereja tentang iman katolik, lalu masuk ke paparan tentang bagaimana sebaiknya iman katolik itu bisa diwujudkan. Pada bagian terakhir, disajikan kisah-kisah tentang bagaimana sebaiknya orang beriman itu dibuat mampu mengungkapkan imannya secara benar dan bertanggungjawab.

Buku  Percikan Kisah-kisah Manusia –sesuai judulnya—sungguh merupakan paparan tentang nilai-nilai moral yang ada di tengah kehidupan kita. Namun kalau tidak pernah kita cermati,  maka harta nilai-nilai moral itu sungguh teramat sayang karena bisa hilang ditelan perjalanan waktu.

Itulah sebabnya, refleksi hidup itu menjadi penting ketika iman perlu dihayati dan diwujudnyatakan.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply