Percik Firman: Sulit Bukan Berarti Tidak Mungkin – Jumat, 25 Agustus 2017


Bacaan : Mateus 22: 34-40


“Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia” (Mat 22:34-35)


Saudari/a ku ytk.,


SAAT masih di Sekolah Dasar, kita mendengar ada peribahasa, “Malu bertanya sesat di jalan.” Pesan dari peribahasa tersebut, yaitu: jika kamu tidak tahu, bertanyalah kepada orang yang lebih tahu, supaya tidak tersesat atau keliru. Di sana ada nilai kerendahan hati yang mau ditanamkan. Juga ada nilai kemurahan hati untuk berbagi informasi kepada sesama.


Biasanya apa tujuan orang bertanya? Biasanya ingin tahu lebih mendalam atas sesuatu yang dia tanyakan. Tetapi ada orang yang bertanya dengan tujuan lain, yaitu mencari celah untuk menyalahkan dan menjebak orang yang ditanyai dengan jawaban yang diberikan. Kalau ini namanya kurang ajar alias tidak baik. Itulah yang dialami Tuhan Yesus saat berhadapan dengan tiga (3) kelompok orang Yahudi yaitu: Orang Saduki, Orang Farisi, dan Ahli Kitab.


Tiga kelompok itu menjebak Yesus dengan pertanyaan. Orang-orang Saduki bertanya tentang kebangkitan badan, dan syukurlah Yesus bisa menjawab dengan baik, sehingga mereka tidak dapat berkutik lagi. Kaum Farisi menjebak Yesus dengan pertanyaan tentang membayar pajak kepada kaisar, dan syukurlah Yesus juga bisa menjawabnya dengan bijak.


Dalam bacaan Injil hari ini dikisahkan giliran Ahli Kitab yang bertanya kepada Yesus untuk mencobai Dia. Mereka bertanya tentang sesuatu yang dipandang sungguh sulit, yaitu “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Padahal Hukum Taurat ada 613 butir. Mereka membagi hukum Taurat itu menjadi 248 perintah dan 365 larangan.


Yesus tahu arah pertanyaan mereka untuk menjebak-Nya. Maka Yesus dengan bijaksana menegaskan bahwa inti dari Hukum Taurat adalah mencintai Allah dan mencintai sesama manusia. Yang dikenal dengan Hukum Kasih. Dengan jawaban ini, Yesus telah merangkum semua Hukum Taurat, yang disebutkan dalam Kitab Ulangan (Ul 6:5) dan Kitab Imamat (Im 19:18).


Pertanyaannya sekarang adalah apakah setiap orang dapat mengasihi Tuhan dan sesama dengan tingkatan yang sama? Setiap orang mengasihi Allah dan sesama dengan tingkatan yang berbeda-beda. Namun, menjadi tujuan kita semua agar kita dapat mengasihi Tuhan dan sesama dalam tingkatan yang sempurna.


Santo Thomas Aquinas dan Santo Yohanes Salib menguraikan ada tiga tingkatan untuk mengasihi Allah, yaitu:


1)    Tingkatan pemula (beginners): seseorang berusaha agar dia tidak jatuh ke dalam dosa berat dan berusaha melawan kecenderungan berbuat dosa. Dalam tahap ini, seseorang masih berfokus pada bagaimana caranya untuk menghindari dosa-dosa yang sering dilakukan. Sebagai contoh kalau seseorang mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa melawan kemurnian, maka dia berjuang setengah mati agar dia tidak terjerumus ke dalam dosa yang sama.


2)    Tahap kedua (Illuminative Way): seseorang tidak lagi berfokus pada menghindari dosa, melainkan pada bagaimana bertumbuh dalam kebaikan. Dia membuat kemajuan spiritualitas dalam terang iman dan kontemplasi. Dia mulai berfikir apa yang dapat dilakukannya untuk semakin memuliakan Tuhan. Dia bertumbuh dalam kasih dengan cara berbuat kasih dan berusaha menjadi berkat bagi orang lain.


3)    Tahap sempurna (Heroic Love): seseorang secara sadar tidak mau melakukan dosa yang berat dan dosa yang kecil. Walaupun kadang dia masih melakukan dosa kecil, namun dosa itu terjadi dengan tidak disengaja. Dia mempunyai hati yang besar, sehingga membuatnya dapat menyingkirkan hal-hal dunia, agar dia dapat semakin bersatu dengan Tuhan. Dia mempunyai derajat kerendahan hati yang sempurna.


Tiga tingkat kesempurnaan kasih itu juga berhubungan dengan kasih kita terhadap sesama. Di tingkat awal, seseorang akan mengasihi orang-orang yang ia kenal tanpa mengabaikan orang-orang lain. Di tingkat kedua, seseorang dapat mengasihi orang-orang asing yang tidak dikenalnya. Dan di tingkat kesempurnaan, ia dapat mengasihi musuh-musuhnya, orang yang membenci, maupun orang yang telah menyakiti hatinya. Dalam proses itu kita dapat bertumbuh dari tingkat awal ke tingkat yang lebih tinggi. Namun kita juga dapat jatuh dari tingkat yang lebih tinggi ke tingkat yang paling awal. Hanya dengan rahmat Allah, kesediaan untuk terus bekerjasama dengan rahmat Allah dan karunia Roh Kudus, memungkinkan kita dapat mencapai kesempurnaan kasih.


Dalam menghayati Hukum Kasih itu, kita sebagai murid-murid Yesus diharapkan untuk mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri, termasuk mengasihi musuh kita, orang yang menyakiti kita, orang yang menfitnah kita, maupun orang yang telah mengkhianati kita. Sulit memang. Tapi mari kita terus mengusahakannya dari hari ke hari dengan bantuan rahmat Tuhan dan karunia Roh Kudus. Sulit bukan berarti tidak mungkin.


Pertanyaan Refleksinya: Apakah Anda pernah menjebak dan berusaha mencari kesalahan orang lain untuk menjatuhkannya? Apakah Anda pernah disakiti, difitnah, dan dikhianati? Sebagai Murid Kristus, apa niat Anda untuk menghayati Hukum Kasih itu? Selamat merenungkan.


Bunga matahari bunga melati
Bunga mawar mekar indah berseri
Dibenci dan dikhianati bikin sakit hati
Mari Hukum Kasih berusaha kita hayati.


Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Yohanes Gunawan Pr

Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); Pemimpin Umum/Pemred Majalah “Salam Damai” KAS dan Kepala Campus Ministry di Unika Soegijapranata Semarang.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: