Percik Firman: Setia dalam Perkara Kecil – Sabtu, 2 September 2017


Sabtu Imam (Sabtu Setelah Jumat Pertama)


Bacaan : Matius 25:14-30


“Kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat 25:21)


Saudari/a ku ytk.,


BERBUAT baik aja. Yang lain itu ada Gusti Allah kok.” Itulah salah satu pernyataan singkat dan bernas dari Ignasius Jonan dalam orasi Dies Natalis ke-35 dan Sertijab Rektor Unika Soegijapranata Semarang (Kamis, 31/8) kemarin, yang ditayangkan live streaming. Pernyataan itu merupakan buah refleksinya atas pengalaman menjadi menteri di era Presiden Joko Widodo. Dia satu-satunya menteri yang dua kali menjadi menteri setelah diberhentikan di era kabinet dan presiden yang sama. Pada awalnya ia menjadi Menteri Perhubungan dan diberhentikan pada tanggal 27 Juli 2016. Sekitar 2,5 bulan kemudian ia diangkat menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral pada tanggal 14 Oktober 2016.


“Semua orang harus mempunyai cita-cita untuk mengabdi kepada orang lain, untuk bermanfaat bagi orang lain sebesar-besarnya. Jika kita berbuat apapun juga dengan cinta yang luar biasa, hasilnya akan luar biasa,” tegas Jonan.


Ignasius Jonan terinspirasi dari kebijaksanaan (wisdom) dari Ibu Teresa dari Kalkuta. Ibu Teresa pernah memberikan pesan wasiat, “Lakukanlah hal-hal yang biasa dan kecil dengan cinta yang luar biasa”. Kata kuncinya adalah kesetiaan atau komitmen. Orang akan dapat dipercaya dan diandalkan jika ia bertekun dan setia pada hal-hal yang kecil.


Hal ini pula yang ditegaskan Tuhan Yesus pada perumpaman dalam bacaan Injil hari ini. “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”


Hamba yang pertama dan kedua dipuji oleh tuannya karena mereka berani masuk ke “zona risiko” dan bisa dipercaya. Sedangkan hamba yang ketiga memilih “zona nyaman dan aman.” Ketakutan untuk menghadapi risiko membuat dia tidak berani melakukan apa-apa.


Talenta dalam perumpamaan tersebut lebih dari sekedar bakat. Menurut konteks Injil, talenta adalah segala anugerah dan fasilitas yang diberikan oleh Tuhan untuk mengembangkan Kerajaan Allah. Hal itu dapat berupa bakat, kesempatan, fasilitas, dsb. Bisa berwujud anugerah rohani maupun jasmani. Intinya segala pemberian itu cukup untuk mengembangkan Kerajaan Allah. Tinggal bagaimana kita mau dan mampu mengembangkannya.


Manusia diberi kebebasan penuh untuk mengembangkannya sesuai dengan kesanggupan masing-masing. Hamba yang ketiga sebenarnya bisa mengembangkan talenta tersebut, tetapi dia tidak mau. Hambatannya ada pada prasangka buruk bahwa tuannya seorang yang kejam, yang mau cari enak, dan untungnya sendiri.


Bagi kita umat beriman, semangat untuk mengembangkan segala anugerah Tuhan tergantung pula pada cara kita memandang jati diri Tuhan. Jika Tuhan dilihat sebagai hakim yang suka mencari kesalahan dan menghukum, maka hidup iman kita hanya berisi ketakutan dihukum dan benci pada  Tuhan. Jika kita melihat Tuhan sebagai pribadi yang penuh welas asih, kita akan menghayati iman dengan gembira dan tulus. Maka, cara pandang kita terhadap Tuhan akan menentukan cara kita menghayati iman dan mengembangkan segala anugerah-Nya.


Tuan dalam perumpamaan itu tidak memperhitungkan berapa banyak hasil yang diperoleh, tetapi lebih melihat bagaimana usaha untuk bertekun dan bertanggung jawab para hambanya. Dengan demikian, yang dinilai bukan kuantitas (jumlah) yang dihasilkan, tetapi kualitas (mutu) dari para hamba sebagai orang yang diberi kepercayaan.


Maka marilah kita setia dan bertekun pada tugas dan pekerjaan sehari-hari yang terlihat kecil, sederhana, dan sepele. Lakukanlah pekerjaan itu dengan penuh kasih, baik sebagai ibu rumah tangga, berjualan di pasar/warung, ngantor, antar jemput cucu, ternak teri (anter anak anter istri), mengajar di sekolah/kampus, mengoreksi ujian, belajar, merawat anggota keluarga yang sakit, dsb.


Pertanyaan refleksinya: Apakah hari-hari ini Anda sedang bergulat dengan masalah ketekunan dan kesetiaan dalam hidup ini? Apa niat Anda untuk merawat komitmen untuk bertekun dan setia dalam hidup ini? Selamat merenungkan. Terimakasih atas doa dan dukungan Anda untuk kami para imam dan calon imam. Semoga dengan doa-doa Anda kami bisa makin setia dan gembira dalam panggilan ini sampai akhir hayat. Selamat menikmati akhir pekan dengan keluarga dan sahabat.


Akhir pekan pergi bersama ke kota
Makan siang dengan lauk ikan patin
Mari terus merawat komitmen kita
Agar bahagia lahir dan batin.


Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Yohanes Gunawan Pr Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); Pemimpin Umum/Pemred Majalah “Salam Damai” KAS dan Kepala Campus Ministry di Unika Soegijapranata Semarang.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: