Percik Firman Senin, 31 Juli 2017: Teken-Tekun-Tekan

Peringatan Wajib St. Ignatius Loyola

Bacaan: Mat 13: 31-35

“Memang biji sesawi itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya” (Mat 13:32)

Saudari/A ku ytk.,

BEBERAPA waktu yang lalu beredar di media sosial tentang sharing seorang rektor perguruan tinggi yang bertemu dengan seorang ibu yang sepuh (tua) memakai pakaian Jawa tradisional kain batik dan kebaya, wajahnya tampak tenang dan keibuan. Dari obrolan di bandara Jogja itu, diketahui bahwa si ibu mau pergi ke Singapura untuk menengok anaknya yang nomor dua, dimana istrinya akan melahirkan. “Anak saya insinyur perminyakan, kerja di perusahaan minyak asing, sekarang jadi kepala kantor cabang Singapura”, kata ibu itu.

Ibu itu mempunyai 4 anak, yaitu 3 laki-laki dan 1 perempuan. Anak yang nomer 3 menjadi dosen Fakultas Ekonomi UGM yang sedang studi program doktor di Amerika. Anak yang bungsu perempuan menjadi dokter spesialis anak. Anak sulung menjadi petani dan tinggal di Godean, menggarap sawah warisan almarhum bapaknya.

“Tentunya ibu kecewa kepada anak sulung ya. Kok tidak sarjana seperti adik-adiknya”, tanya sang rektor.

“Sama sekali tidak, pak. Malahan kami sekeluarga semuanya hormat kepada dia, karena dari hasil sawahnya dia membiayai hidup kami dan menyekolahkan semua adiknya sampai selesai jadi sarjana,” jawab si ibu itu.

Bekerja sebagai petani dikenal sederhana, kecil, dan prasaja. Tetapi jika ditekuni pekerjaan itu akan menghasilkan buah yang melimpah. Banyak orangtua yang bertani bisa menyekolahkan anak-anaknya, atau adik-adiknya, sampai bisa bekerja sukses. Seperti cerita ibu tadi. Orang Jawa bilang, “Teken, tekun, tekan. Teteken kanthi tekun apa sing digayuh bakal tekan” (Sesuatu yang dijalani dengan tekun akan bisa mencapai apa yang diinginkan).

Bacaan Injil pada peringatan Santo Ignatius Loyola hari ini menyadarkan kita akan makna ketekunan, seperti tumbuhnya biji sesawi yang kecil. “Memang biji sesawi itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya”.

Orang Yahudi mengetahui bahwa biji sesawi adalah yang terkecil dari segala jenis biji yang ditaburkan.  Besarnya hanya satu milimeter, dan beratnya seperseribu gram.  Tetapi jika biji sesawi itu tumbuh, sering tekun dirawat, disirami, dan dipupuk akan menjadi tumbuhan atau pohon besar dan tinggi, bisa mencapai tiga meter. Sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.

Yesus  memakai perumpamaan ini untuk mengungkapkan bahwa Kerajaan Allah dimulai dari yang kecil, sederhana; tetapi jika terus bertumbuh maka akan menjadi besar. Perumpamaan ini memotivasi kita untuk belajar bahwa Allah tidak memulai sesuatu yang menakjubkan dari hal-hal yang besar dan tampak spektakuler. Tetapi justru Allah memulai dari hal yang kecil dan sederhana. Ingat, kisah penciptaan. Allah bisa saja menciptakan dunia dan segala isinya sekaligus, tetapi Dia memilih menciptakan dunia ini dari hari ke hari satu per satu, setahap demi setahap.

Tak jarang kita manusia justru menghindari untuk tekun melakukan hal-hal kecil dalam hidup sehari-hari. Pinginnya serba cepat, instan. Iya nggak? Allah memulai karya-Nya dalam hidup kita dari hal-hal yang kecil. Oleh karena itu, marilah kita belajar melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar kepada Tuhan.

Hal ini pula yang dihayati oleh Santo Ignacio López de Loyola atau Santo Ignasius Loyola (1491-1556), pendiri Ordo Serikat Yesus. Ia dilahirkan di kastil keluarga bangsawan Loyola di Spanyol.

Puji Tuhan saya pernah diberi kesempatan Tuhan berziarah ke Basilika Santo Ignatius Loyola di Spanyol dan mimpin misa di sana bersama para peziarah.

Dalam kondisi sakit waktu itu, Ignatius meminta buku-buku bacaan untuk menghilangkan rasa bosannya. Ia menyukai cerita-cerita tentang kepahlawanan, tetapi di sana hanya tersedia kisah hidup Yesus dan orang-orang kudus. Karena tidak ada pilihan lain, ia membaca juga buku-buku itu. Hari demi hari buku-buku itu mulai menarik hatinya.

Hidupnya mulai berubah pelan tapi pasti. Ia berkata kepada dirinya sendiri, “Mereka adalah orang-orang yang sama seperti aku, jadi mengapa aku tidak bisa melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan?”

Ketekunan dan keterbukaan hati Ignatius pada bimbingan Tuhan membentuk dia menjadi pribadi yang luar biasa dan inspiratif sepanjang zaman. Apa yang dia lakukan diarahkan demi kemuliaan Tuhan yang lebib besar (Ad Maiorem Dei Gloriam). Seringkali Ignatius berdoa, “Berilah aku hanya cinta dan rahmat-Mu, ya Tuhan. Dengan itu aku sudah menjadi kaya, dan aku tidak mengharapkan apa-apa lagi.”

Refleksinya: Apakah Anda mau membuka diri atas bimbingan Tuhan seperti Santo Ignatius Loyola? Bersediakah Anda bertekun dalam tugas dan kegiatan Anda sehari-hari?

Bersama misdinar ke Toko Darmakarya

Beli lilin untuk Misa Malam paskah
Mari kita terus bertekun dalam karya

Agar bisa berbuah dan bawa berkah.

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.

Selamat berpesta bagi para romo dan bruder Yesuit, serta Anda yang bernaung di bawah perlindungan Santo Ignatius.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Yohanes Gunawan Pr Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); Pemimpin Umum/Pemred Majalah “Salam Damai” KAS dan Kepala Campus Ministry di Unika Soegijapranata Semarang.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: