Percik Firman: Merawat Perkawinan Setiap Hari – Jumat, 18 Agustus 2017


Bacaan : Matius 19:3-12


 ”Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat 19:6)


Saudari/a ku ytk.,


ADA sebuah cerita anekdot yang menyentil terkait perkawinan. Begini ceritanya: “Pada suatu hari ada seorang anak yang masih SD pulang dari sekolah. Ia baru saja ujian. Sampai di rumah ia masih penasaran dengan jawaban-jawabannya atas pertanyaan dalam ujian tadi. Sambil makan, ia masih memikirkan jawabannya tadi. Sikapnya ini diperhatikan oleh ibunya. Lalu bertanyalah si ibu, “Ada apa dhik? Kok kelihatan tidak bisa menikmati makanannya?”


Lalu si anak itu menjawab, “Iya, bu. Saya masih penasaran dengan jawaban saya dalam ujian tadi.” Lalu ibunya mendekati dan bertanya lebih lanjut, “Pertanyaannya mengenai apa?”


“Mengenai nama-nama jenis perkawinan, bu,” jawab anak itu.


Lanjut anak itu, “Kalau perkawinan antara seorang pria dengan beberapa wanita, namanya apa ya bu?”


“Ooo itu namanya poligami”, jawab sang ibu. “Horeee, betul. Kalau perkawinan antara seorang wanita dengan beberapa pria, namanya apa ya bu?” tanya sang anak.


“Oooo itu namanya poliandri,” jawab sang ibu. “Asyik, betul lagi. Kalau perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita, namanya apa ya bu?” tanya sang anak.


“Ooo itu namanya monogami,” jawab sang ibu. “Wah, salah….,” jawab anaknya kecewa.


“Lho emangnya adik tadi menjawab apa?” tanya sang ibu. “Ayah pernah bilang kalau perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita itu namanya monoton, bu,” jawab si anak.


“Apaaa?” reaksi spontan sang ibu. Sekian cerita anekdotnya.


Saudari/a ku ytk.,


Saya mengenal beberapa pasutri katolik yang sudah menikah sekian tahun, belum diberi anak oleh Tuhan. Mereka tetap rukun, kompak, dan setia. Anak memang anugerah Tuhan. Anak tidak menjadi alasan untuk berkonflik, apalagi bercerai. Mereka sadar betul bahwa tujuan orang menikah dalam perkawinan Katolik bukan keturunan, tetapi saling membahagiakan. Anak adalah buah kasih dan anugerah Tuhan.


Ajaran Gereja tentang kesucian perkawinan tersebut bersumber dari sabda Tuhan Yesus dalam injil hari ini: “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Hidup berkeluarga adalah panggilan yang mulia. Gereja menyadari martabat luhur perkawinan. Maka perkawinan dipersiapkan dengan sungguh-sungguh melalui kursus persiapan perkawinan, adanya surat baptis terbaru, penyelidikan kanonik dengan pastor, dan diumumkan 3x di gereja.


Banyak orang bilang bahwa menikah itu gampang, tetapi merawat perkawinan itu yang tidak gampang. Butuh komitmen dan kesetiaan dari hari ke hari. Juga butuh kerendahanhati untuk siap mengampuni pasangan yang bersalah setiap saat. Hidup perkawinan harus dirawat setiap hari. Bapa Suci Paus Fransiskus dalam perayaan Ekaristi bersama keluarga karyawan Vatikan mengungkapkan: “Rawatlah pernikahanmu dan anak-anakmu. Rawatlah dan jangan terlantarkan mereka: bermainlah bersama anak-anakmu. Perkawinan itu bagaikan sebuah tanaman. Perkawinan itu bukan seperti kloset yang ditaruh di dalam kamar mandi dan bisa dibersihkan sewaktu-waktu. Tanaman itu hidup, perlu rawat dan diperhatikan setiap hari. Orang tahu bagaimana caranya merawat tanaman dan menyiraminya dengan air setiap hari, dan seterusnya.”


Lebih lanjut ditegaskan, “Perkawinan adalah sebuah realitas yang hidup; pasangan tidak bisa dibiarkan begitu saja di dalam setiap tahap kehidupan keluarga. Kita perlu menyadari bahwa anugerah paling berharga bagi anak-anak bukanlah barang-barang, melainkan kasih dari orangtuanya. Saya tidak hanya memaksudkan cinta orangtua kepada anak, melainkan juga cinta di antara orangtua itu sendiri, yakni antara suami dan isteri. Cinta itu akan sangat berpengaruh besar bagi kalian dan bagi anak-anakmu. Jangan terlantarkan keluargamu!”


Pertanyaan refleksinya: Apakah hari-hari ini Anda sedang menghadapi masalah dalam merawat perkawinanmu yang suci? Apakah Anda sudah merawat hidup keluargamu dengan sungguh-sungguh? Apa tantangan terberat yang Anda hadapi dalam merawat keluargamu? Bagaimana penghayatanmu selama ini dengan janji suci perkawinan di hadapan Tuhan, imam dan para saksi? Selamat merenungkan.


Ke toko membeli beberapa guci
Tak lupa membeli lensa kacamata
Perkawinan itu panggilan hidup yang suci
Rawatlah dalam doa dan tindakan nyata.


Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Yohanes Gunawan Pr

Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); Pemimpin Umum/Pemred Majalah “Salam Damai” KAS dan Kepala Campus Ministry di Unika Soegijapranata Semarang.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: