Percik Firman: Menjadi ‘Teplok’ Masa Kini – Jumat, 1 September 2017


Jumat Pertama (Devosi Hati Kudus Yesus)


Bacaan : Matius 25:1-13


“Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki” (Mat 25:1)


Saudari/a ku ytk.,


SETIAP akhir Percik Firman yang saya sampaikan selalu saya akhiri dengan ucapan sapaan “Berkah Dalem dan Salam Teplok”. Lalu ada umat yang membalasnya dengan berbagai sapaan salam. Ada yang menjawab, “Salam Teplok”, “Salam Bakpia Pathuk”, “Salam Teplok, Damai dan Olah raga”, “Salam Seroja (Sehat Rohani Jasmani)”, “Salam dan Doa dari Tanah Air”, dsb. Setiap sapaan dan salam tersebut pasti mempunyai maksud dan maknanya. Demikian juga Salam Teplok yang saya sampaikan. Anda tahu apa maksudnya?


Salam Teplok terinspirasi dari lampu teplok (pelita) di desa waktu saya kecil. Lampu itu dari bahan bakar minyak tanah. Meski nyalanya kecil, tetapi sangat berguna menerangi rumah, karena waktu itu belum ada listrik. Maksud dan makna dari sapaan Salam Teplok itu adalah marilah kita  berbuat sesuatu yang berguna bagi sesama meskipun hanya kecil (sederhana). Maka setiap hari saya merenungkan satu ayat dari bacaan Injil harian, lalu saya share ke teman-teman dan umat melalui media sosial, baik WhatsApp, Facebook, maupun www.sesawi.net. Satu ayat Firman Tuhan sangat kaya, penuh inspiratif, dan memberikan kesejukan serta peneguhan hidup.


Salam Teplok (Pelita) itu makin mendapat peneguhan dari bacaan Injil pada hari Jumat Pertama di bulan September ini. Bulan September disebut juga sebagai Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Dari Kitab Suci kita dapat mengetahui dan mengenal Sabda Tuhan. Sang Pemazmur menegaskan “Sabda-Mu adalah pelita bagi langkahku, cahaya untuk menerangi jalanku” (Mzm 119:105).


Santo Hieronimus (347-419), penerjemah Kitab Suci, menegaskan, “Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus” (Ignoratio Scripturarum, Ignoratio Christi Est). Dari mengenal Kristus, kita diharapkan mengimani, mengikuti, dan mewartakan Kristus dalam hidup sehari-hari. Paus Fransiskus dalam Anjuran Apostolik ‘Evangelii Gaudium’ (Sukacita Injil) mengungkapkan, “Mewartakan Kristus berarti menunjukkan bahwa mempercayai dan mengikuti-Nya bukan hanya soal baik dan benar, namun pula sesuatu yang indah, sanggup mengisi kehidupan dengan kegembiraan yang indah dan mendalam, juga saat di tengah-tengah kesulitan” (No. 167).


Lebih lanjut ditegaskan Bapa Suci, “Kitab Suci merupakan sumber utama evangelisasi. Konsekwensinya, kita perlu berlatih terus-menerus dalam mendengarkan sabda” (No. 174). Namanya berlatih ya harus tekun, setiap saat, hari demi hari.


Kerajaan Sorga diumpamakan Tuhan Yesus dengan sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Mereka adalah lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh. Cerita perumpamaan itu kita tahu. Pelita (bahasa Yunani: lampas; bahasa Indonesia : lampu) di sini adalah obor yang memakai minyak zaitun sebagai bahan bakarnya.


Pertanyaannya, kenapa lima gadis bijaksana itu pelit, egois, tidak mau berbagi minyak zaitun dengan lima gadis yang lain? Soalnya bukan egois atau tidak, pelit atau tidak, tetapi kita dihadapkan pada hal praktis. Jika cadangan minyak yang terbatas itu dibagi-bagi, maka mereka semua tidak bisa ikut prosesi sampai ke rumah mempelai pria dengan pelita tetap bernyala. Tentu ini suatu aib, memalukan. Hal ini menjadi penilaian bahwa pihak mempelai perempuan tidak mempersiapkan diri dengan baik. Oleh karena itu, bagi Tuhan Yesus, penolakan mereka untuk berbagi minyak adalah sikap yang bijaksana.


Yang namanya kebijaksanaan itu tidak bisa dibeli. Juga tidak ada secara instan. Tetapi sebuah anugerah sekaligus kebiasaan yang terus-menerus harus dihidupi dan diperjuangkan dengan tekun hari demi hari. Kalau sudah dihidupi dan menjadi milik, kebijaksanaan itu selalu bersinar dan tidak dapat layu. Hidup di dunia ini seperti sebuah peziarahan, suatu kesempatan untuk mempersiapkan diri memasuki kehidupan abadi. Persiapan itu terbatas waktunya, namun kita tidak tahu kapan saat habisnya. Kita tidak tahu kapan dipanggil Tuhan. Bisa dalam waktu dekat, bisa masih lama. Yang penting kita mengisi hidup ini dengan hidup yang layak sebagai anak-anak Allah, yaitu mengikuti Sabda atau Firman Tuhan yang ada dalam Kitab Suci sebagai pelita bagi langkah hidup kita.


Pertanyaan Refleksinya: Apakah Anda mempunyai Kitab Suci di rumah? Seberapa sering Kitab Suci itu Anda buka dan Anda baca? Apa makna Kitab Suci bagi hidup Anda selama ini? Selamat merenungkan. Mari kita menjadi “teplok-teplok” masa kini yang memberikan terang kepada sesama di sekitar kita meski nyalanya kecil.


Di Brasil ada Tari Samba
Tari Pendet dari Pulau Bali      
Bulan September sudah tiba
Mari baca Kitab Suci setiap hari.


Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Yohanes Gunawan Pr

Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); Pemimpin Umum/Pemred Majalah “Salam Damai” KAS dan Kepala Campus Ministry di Unika Soegijapranata Semarang.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply