Percik Firman: Mengusahakan Bersih Luar Dalam – Rabu, 30 Agustus 2017

Bacaan: Matius 23: 27-32

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran” (Mat 23:27)

Saudari/a ku ytk.,

BAGAIMANA gambaran orang pada umumnya tentang kuburan atau makam? Pada zaman saya kecil, kuburan di desa itu banyak ditumbuhi rumput yang tinggi dan liar. Ada kesan kurang terawat. Rumput biasanya dipotong saat bulan ruwah (menjelang bulan puasa ramadhan). Akibatnya, menimbulkan rasa takut. Berbeda dengan kuburan di kota, yang biasanya dirawat rutin oleh petugas. Kuburan yang terawat dengan baik pada umumnya nampak bersih, indah dan menarik, dan tidak ada kesan menakutkan. Meskipun demikian, di dalamnya tetap berisi mayat atau jenasah yang sudah membusuk.

Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dengan sangat keras, “Kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.” Kuburan yang dilabur putih berarti kuburan yang dicat dengan kapur putih.

Saat saya berziarah ke Yerusalem, saya melihat banyak kuburan orang Yahudi di pinggir jalan yang berwarna putih. Pada saat siang dan malam, tetap jelas terlihat bahwa itu kuburan. Mengapa orang Yahudi melabur kuburan mereka? Bagi orang Yahudi, menyentuh kuburan, bahkan secara tidak sengaja, akan membuat mereka najis. Dan setahun sekali biasanya mereka mengecat putih kuburan-kuburan pada masa menjelang perayaan Paskah.

Menjelang Paskah, semua orang ingin ikut merayakannya. Namun jika mereka tersentuh kuburan, hal itu akan membuat mereka terhalang dalam mengikuti perayaan Paskah. Untuk menghindari kenajisan itu, mereka melabur putih kuburan-kuburan. Kuburan-kuburan itu ditandai secara mencolok supaya orang tidak menginjak atau menyentuhnya. Bahkan di dalam gelap sekalipun mereka tidak akan menginjaknya karena cat putih itu tetap terlihat di kegelapan.

Di mata Tuhan Yesus para ahli Taurat dan kaum Farisi seperti kuburan. Mereka hanya peduli pada hal-hal yang lahiriah saja. Perilaku mereka tidak mencerminkan hal yang batiniah. Kenyataan  yang tampak dan yang di hati tidak selaras. Hidup mereka benar-benar keropos karena perilaku penuh dusta, arogansi (sombong), egois, serakah, penuh hawa nafsu dan kebencian. Mereka tak peduli pada sesama, terutama para janda, kaum kecil, lemah, miskin, dan tersingkir.

Mungkinkah kita juga seperti para ahli Taurat atau orang Farisi, yang nampak bersih, rapi dan indah di bagian luar, tetapi bagian dalam, hati dan jiwa serta pikiran kita busuk? Seandainya demikian, marilah kita sadari, segera bertobat atau memperbaiki diri. Dengan penuh penyesalan dan kerendahan hati, marilah kita berdoa bersama-sama:

Saya mengaku kepada Allah Yang Maha Kuasa, dan kepada saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa. Oleh sebab itu, saya mohon kepada Santa Perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus, dan kepada saudara sekalian, supaya mendoakan saya pada Allah Tuhan kita. Amin.

Liburan piknik ke Candi Prambanan
Roro Jonggrang gadis cantik rupawan
Menjadi tua itu sebuah kepastian
Menjadi suci dambaan setiap insan.

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Yohanes Gunawan Pr Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); Pemimpin Umum/Pemred Majalah “Salam Damai” KAS dan Kepala Campus Ministry di Unika Soegijapranata Semarang.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply