Percik Firman: Mengembangkan Budaya Mampir


Selasa, 10 Oktober 2017
Pekan Biasa XXVII
Bacaan : Lukas 10:38-42


“Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan ke Yerusalem, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya” (Luk 10:38)


Saudari/a ku ytk.,


KAMI bertiga para pastor Banyumanik waktu itu, sebelum saya pindah ke Paroki Sambiroto, menyediakan waktu bersama untuk refreshing sekaligus membangun persaudaraan imamat sebagai rekan sekomunitas pastoran. Kami sepakat dua hari semalam meninggalkan paroki untuk berziarah. Kami naik mobil dan nyopirnya bergantian. Kami berziarah ke Taman Doa Santa Maria Fatima Ngrawoh, Sragen. Malam harinya kami mampir sebentar di Ngawi, tempat karya para suster Abdi Kristus. Kami berdoa untuk komunitas susteran dan karya para suster di sana. Lalu perjalanan berlanjut ke Sarangan dan malamnya menginap di Sarangan. Paginya kami ziarah ke Gua Maria Tawangmangu.


Lalu kami mampir ke Pertapaan “Triniji Suci”, tempat Rama Martin Suhartono di lereng Gunung Lawu. Meski tidak janjian terlebih dahulu, Romo Martin menyambut kami bertiga dengan senang hati. Beliau bersharing banyak hal tentang kehidupan di pertapaan yang dijalaninya, termasuk sosialisasi dengan warga desa dan pondok pesantren di dekat pertapaan. Bahkan kami diajak berdoa bersama di kapel pertapaan. Sebelum pulang, kami diajak berdoa mohon perlindungan pada Bunda Maria. Saya senang karena secara khusus saya didoakan dan diberkati Romo Martin. Di tengah kebun pertapaan, ada patung Bunda Maria yang memakai sandal jepit, diletakkan di atas pohon bercabang tiga. Pohon itu diberi nama pohon Triniji Suci.


Ya, mampir ternyata menyenangkan. Ada hal yang tak terduga bisa dialami. Dalam tradisi mampir itu, terkandung nilai luhur, yakni keramahan dan persaudaraan. Silahturahmi terjalin. Persaudaraan terbangun. Satu sama lain bisa saling menguatkan. Itu pula yang digambarkan dalam injil hari ini. Dikisahkan bahwa dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, Tuhan Yesus dan para murid-Nya mampir ke sebuah kampung, tempat tinggal Marta dan Maria. Namanya Kampung Betania. Nama Betania berasal dari bahasa Aram Ibrani (bahasa Ibrani: beit-te’enah, beit: ‘rumah’; te’enah: ‘pohon ara’), artinya: rumah dari (pohon) ara. Betania dekat Yerusalem atau sekitar 2 mil jaraknya, atau terletak 1,5 mil (2,4 km) di lereng sebelah tenggara dari Bukit Zaitun.


Saat Yesus mampir, Dia disambut dengan hangat dan sukacita oleh keluarga Marta-Maria. Mereka berdua menyambut Yesus dengan caranya masing-masing secara khas. Marta menyibukkan diri untuk mempersiapkan segala hidangan (makanan-minuman). Sedangkan Maria dengan nyaman menyambut Yesus melalui kerinduannya mendengarkan ajaran Tuhan Yesus. Meski bentuk dan cara penyambutannya berbeda, tetapi keduanya mau menunjukkan sikap ramah penuh persaudaraan atas kedatangan Tuhan Yesus di rumah mereka. Di sana terjalin suasana persaudaraan, keakraban, dan kehangatan. Yang mampir senang, dan yang didatangi juga senang.


Dalam masyarakat Jawa, ada ungkapan “Urip ing donya iki mung mampir ngombe”. Artinya, hidup di dunia hanya sementara. Manusia hidup di dunia ini adalah ‘mampir ngombe’ (mampir/singgah untuk sekedar melepas dahaga). Hal ini menggambarkan bahwa dunia ini hanya tempat persinggahan yang sementara. Meski hanya mampir, tetap ada tugas dan misi yang harus dijalankan selama mampir itu, sebagaimana Tuhan Yesus lakukan di rumah Marta-Maria. Seberapa lama kita mampir (hidup di dunia) tidak penting. Yang lebih penting, apa yang kita lakukan selama mampir ini dan bagaimana kita memaknai serta mengisi hidup di dunia ini.


Pertanyaan Refleksinya: Apa yang Anda lakukan jika ada orang yang mampir atau berkunjung ke rumah Anda? Apa yang Anda lakukan jika Anda mampir atau berkunjung ke rumah saudara atau teman Anda? Bagaimana Anda mengisi (memaknai) hidup Anda di dunia yang hanya sementara ini? Selamat merenungkan.


Ada anak kecil bercita-cita jadi tentara
Mengabdi untuk bangsa dan negara
Hidup di dunia ini hanya sementara
Mari kita isi dengan kebaikan dan cinta.


Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Yohanes Gunawan Pr

Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); Pemimpin Umum/Pemred Majalah “Salam Damai” KAS dan Kepala Campus Ministry di Unika Soegijapranata Semarang.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply