Percik Firman: Mendukung Niat Baik Anak – Sabtu, 19 Agustus 2017


Bacaan : Matius 19:13-15


”Yesus berkata: ‘Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat 19:14)


Saudari/a ku ytk.,


DI Semarang saya mengenal seorang ibu yang selalu mengajak anaknya yang masih SD ikut misa jam 12 siang di gedung Sekinah. Anak itu sering memperhatikan homili saya dan ingat dengan apa yang saya katakan, sampai ibunya heran. Nah, beberapa hari yang lalu ibu itu menyampaikan informasi ke saya bahwa anaknya itu sudah terima komuni pertama bulan Juni kemarin.


“Met Sore Romo Gun. Maaf mengganggu nih. Romo masih ingat anak saya? Ia Juni kemarin sudah terima komuni. Senangnya minta ampun. Setiap habis terima komuni, senyum-senyum. Dia sekarang ikut misdinar. Kemarin malam anak saya ngomong, ‘Ma, sekarang saya ikut misdinar, tahun besok sudah kelas 6, terus SMP, 3 tahun lulus. Aku senang, Ma’. Lalu saya tanya, ‘Kenapa senang lulus SMP?’ Ia menjawab lulus SMP mau masuk ke seminari katanya, Mo. Terus aku bilang kalau lulus SMP ke seminari itu kamu masih kecil. Malah anak saya bilang, ‘Dulu Romo Gunawan juga lulus SMP ke seminari, Ma.’ Lalu saya jawab, ‘Ndak lah.’ Anak saya langsung jawab, ‘Mama kalau dikasih tahu ndak percaya.’


Lalu lebih lanjut ibu itu menulis, “Terus saya juga kasih tahu lagi, terus ngomong papah gimana (soalnya papanya Islam, Mo). Anak saya menjawab, ‘Gini aja yang penting izin dari mama dulu. Untuk papa urusan sama Tuhan’. Gimana ini romo solusinya? Kok anakku ini sudah berpikir sampai ke situ, malah juga bilang sudah lihat-lihat di internet syarat masuk seminari.”


Lalu saya menjawab bahwa yang ngomong seperti itu bukan anaknya. Tapi malaikat pamomong (pelindung) yang menyertai dia. “Sippp, bu. Didukung dan didoakan saja. Saya bawa juga dalam doaku. Yang ngomong seperti itu bukan dia, bu. Tetapi malaikat pamomong yang menyertai dia, bu. Salam untuk Romo cilik Klemens, yaaa.”


Kemudian, ibu itu menjawab, “Iya, Mo, saya sampaikan. Dulu waktu kecil dipanggil romo senang sekali. Kalau dia baca mesti senang, Mo. Dulu waktu TK anak ini suka main misa-misanan, Mo. Mainannya di dalam kamar di kunci, takut ketahuan papanya. Bahkan ia minta dibelikan baju romo. Pengin baju romo itu sampai ia sakit, terus saya pesankan di Kanisius Jogja. Seminggu sebelum pesanan dikirim, ia terus menanyakan kok belum datang. Begitu pesanan baju romo datang, panasnya sembuh. Apa dulu Romo Gun pernah cerita di Sekinah kok anak saya tahu kalau Romo masuk seminari lulus SMP?”


Jawab saya, “Kayaknya dulu saya pernah kotbah itu di Sekinah, bu. Hebat daya ingatnya anak ibu. Saya dulu pas kecil main misa-misanan. Aku jadi romonya. Adikku misdinar dan kakakku umatnya. Rotinya pake roti mari hehehe… Lalu habis komuni, saya dulu juga menjadi misdinar, terus lulus SMP masuk Seminari.”


Saudara/i ku ytk.,


Hebat yaa, anak kecil sudah memiliki niat baik dan kerinduan menjadi imam. Kerinduan anak kecil yang mau dekat dengan Tuhan seperti dhik Klemen tersebut, juga menjadi kerinduan anak-anak kecil yang datang kepada Tuhan Yesus, yang dikisahkan dalam Injil hari ini. Ketika sedang mengajar, tiba-tiba Tuhan Yesus didatangi oleh orang-orang yang membawa anak-anak kecil. Mereka meminta agar Tuhan Yesus memberkati dan mendoakan mereka.


Tetapi apa tanggapan para murid Yesus? Mereka justru memarahi dan melarang orang-orang untuk membawa anak-anak kecil dekat dengan Tuhan. Coba diperhatikan, yang memarahi anak-anak itu bukan Yesus, bukan pula orang banyak yang merasa terganggu. Yang memarahi justru para murid (orang dewasa). Mereka menganggap bahwa Yesus terlalu “tinggi” bagi anak-anak kecil. Gak level jika anak-anak bertemu Yesus. Padahal, Yesus sendiri tidak pernah melarang anak-anak datang kepada-Nya. Yesus tidak pernah membenci dan memarahi anak-anak. Iya khan?


Justru Yesus mengatakan bahwa orang-orang yang seperti anak-anak kecil inilah yang empunya Kerajaan Surga. Yesus justru dengan sukacita meletakkan tanganNya atas mereka. Artinya, Yesus mau mendoakan dan memberkati mereka. Dan kemudian barulah Ia pergi dari situ.


Mengapa Yesus mau melakukan hal tersebut, padahal mungkin Ia sedang lelah? Karena Tuhan Yesus ingin memberi suatu pengajaran kepada orang-orang dewasa, termasuk kepada para murid-Nya, bahwa Tuhan sendiri tidak pernah menghalang-halangi anak-anak (bahkan mungkin bayi sekalipun) untuk datang kepada-Nya. Jangan pernah menghalang-halangi niat baik anak-anak Anda. Dukunglah dan fasilitasilah dia jika perlu.


Pertanyaan refleksinya: Apakah Anda sebagai orangtua pernah melarang anak-anak Anda yang ingin dekat dengan Tuhan (terlibat kegiatan Gereja, ikut misa, masuk seminari menjadi imam, masuk menjadi suster/bruder, dsb)? Apa niat-niat Anda agar anak-anak Anda semakin dekat dengan Tuhan dan Gereja? Selamat merenungkan dan selamat menikmati akhir pekan dengan sukacita.


Di luar Jawa masih banyak lahan
Lahan kosong baik diberi tanaman
Mari kita dukung anak dekat Tuhan
Seperti Tuhan Yesus teladankan.


Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); Pemimpin Umum/Pemred Majalah “Salam Damai” KAS dan Kepala Campus Ministry di Unika Soegijapranata Semarang.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply