Percik Firman: Memohon Belas Kasih Tuhan – Sabtu, 12 Agustus 2017


Bacaan : Matius 17:14-20


“Kata orang itu kepada Yesus: ”Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air” (Mat 17:14)


Saudari/a ku ytk.,


ORANGTUA mana yang tidak peduli pada anaknya? Jika anaknya lapar, pasti akan berusaha dicarikan makan. Jika anaknya mau sekolah, pasti akan dicarikan biaya agar bisa tetap sekolah. Jika anaknya mau ikut piknik bersama teman-teman sekolah, pasti akan dicarikan biaya dan ‘sangu’ agar bisa ikut piknik. Jika anaknya sakit, pasti akan dicarikan obat agar bisa sembuh. Iya nggak?


Jika ada kemauan dan kehendak baik, pasti ada jalan keluar. Tuhan akan peduli. Tuhan akan berbelaskasih. Tuhan akan memberikan solusi. Dengan keyakinan seperti itu, orang sampai pada kesadaran dan refleksi bahwa bagi Tuhan tak ada yang mustahil untuk umat-Nya. Ada sebuah lagu yang menyejukkan hati saat kita punya masalah dan berbeban berat. Lagu itu dinyanyikan oleh Sari Simorangkir. Judulnya: “Bagi Tuhan Tak Ada Yang Mustahil.” Berikut ini syairnya:


“Ku yakin saat Kau berfirman/
Ku menang saat Kau bertindak/
Hidupku hanya ditentukan oleh perkataanMu.//


Ku aman karna Kau menjaga/
Ku kuat karna Kau menopang/
Hidupku hanya ditentukan oleh kuasaMu.//


Reff:
Bagi Tuhan tak ada yang mustahil
Bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin
MujizatNya disediakan bagiku
Ku diangkat dan dipulihkanNya.”


Kalau Tuhan sudah berencana dan bertindak dalam hidup kita, tak ada yang mustahil. Peristiwa penyembuhan yang dilakukan Tuhan Yesus terhadap orang-orang sakit dan pengusiran setan seperti yang kita baca dalam Injil hari ini, menegaskan bahwa Yesus adalah Tuhan yang berkuasa. Ia berkuasa atas penyakit yang kita alami. Ia berkuasa atas setan-setan. Ia menunjukkan diriNya sebagai anak Allah yang Mahakuasa, sekaligus sangat peduli dengan nasib kita. Ia pasti membantu kita. Kasih dan kepedulian Yesus membuat “orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik”. Bahkan, orang yang dikuasai setan pun diselamatkan. Tuhan Yesus dengan keras mengusirnya agar keluar dari tubuh anak itu.


Para murid dan orang banyak yang menyaksikan peristiwa itu diingatkan untuk mempercayakan hidupnya kepada Yesus. Di saat sakit, sedih, bingung, susah, dan segala situasi hidup kita, hendaklah kita datang kepadaNya dan berserah diri dalam iman kepadaNya. Kita hanya diminta melapor pada Tuhan dan minta belas kasih Tuhan seperti seseorang yang minta dikasihani dalam injil hari ini: ”Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air”. Iya khan? Dari kata-katanya itu, Tuhan sudah tahu kerinduannya. Dengan rendah hati minta belas kasih Tuhan itulah yang utama. Tidak memaksa Tuhan, tidak mendikte Tuhan, dan tidak mengatur Tuhan.


Pertanyaan refleksinya: Bagaimana sikap Anda dalam menyampaikan sesuatu kepada Tuhan selama ini? Dengan rendah hati datang meminta belas kasih atau mengatur Tuhan dengan paksaan? Selamat merenungkan dan menikmati akhir pekan menjelang 17-an.


Di halaman gereja ada banyak pohon Jati
Tempat asyik untuk ngobrol dan bercanda
Mari datang pada Tuhan dengan rendah hati
Dia Mahatahu atas kerinduan kita semua.


Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Yohanes Gunawan Pr

Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); Pemimpin Umum/Pemred Majalah “Salam Damai” KAS dan Kepala Campus Ministry di Unika Soegijapranata Semarang.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment