Percik Firman: Membuka Hati untuk Bertobat

Minggu Adven II, 10 Desember 2017
Bacaan : Markus 1:1-8

“Yohanes Pembaptis  tampil di padang gurun dan menyerukan: ‘Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Markus 1:4)

Saudari/a ku ytk.,

SAYA pernah mendengar ada beberapa sikap umat terhadap dosa dan Sakramen Tobat. Beberapa hal yang sempat saya catat: (1) “Dosa saya apa yaaa, Romo? Kayaknya saya tidak punya dosa dech…Hidup saya baik-baik saja”; (2) “Wah saya malu ngaku dosa je karena dosa saya sama saja setiap tahun”; (3)”Mengaku dosa koq dengan romonya sendiri. Aku malu karena setiap saat bisa ketemu”; (4)“Eehhh, kalau ngaku dosa dengan romo yang sudah tua saja, khan pendengarannya sudah berkurang alias mulai budheg. Trus kita ngomongnya lirih saja”; (5) “Buat apa ngaku dosa dengan romo? Khan kita bisa ngaku dosa dengan Tuhan langsung”; (6) “Dulu saya itu sudah mengakukan dosa ini. Tapi koq saya masih merasa bersalah dan belum mantap yaaa…Saya mengakukan dosa itu lagi, boleh nggak, Romo?”

Ya, begitulah komentar beberapa umat. Komentar-komentar itu bagi saya sangat manusiawi dan wajar. Apa sekarang masih ada yang seperti itu nggak yach? Hehehee… Jika sudah nggak ada, syukurlah. Jika masih ada, mari kita berintrospeksi diri. Memang kita semua tidak sempurna, kita rapuh. Tetapi syukurlah kita mempunyai Allah Bapa yang Maharahim. Syukurlah, Gereja Katolik selalu menyediakan rahmat pengampunan lewat Sakramen Tobat. Hanya seorang imam yang ditahbiskan yang boleh memberikan absolusi pengampunan dosa. Bahkan, dalam kasus tertentu, ada yang imam yang tidak boleh memberikan pelayanan Sakramen Tobat kepada umat.

Pada hari ini kita memasuki Minggu Adven ke-2. Sabda Tuhan hari ini berbicara tentangpertobatan. Pada Minggu Adven I kemarin kita diingatkan untuk berjaga-jaga, hati-hati dan waspada. Sedangkan pada Minggu Adven ke-2 ini kita diajak untuk mewujudkan pertobatan. Bagaimana caranya? Caranya dengan mempersiapkan jalan bagi Tuhan, meluruskan jalan bagi-Nya, bersedia untuk dibaptis dan bertobat. Pertobatan tersebut diwujudkan dalam tindakan yang lebih bersifat aktif, seperti yang diwartakan oleh Yohanes Pembaptis.

Adven adalah masa penantian yang penuh pengharapan. Kedatangan Tuhan digambarkanseperti kedatangan untuk masuk dan tinggal di tengah umat. Oleh karena itu, umat secara bersama-sama maupun pribadi harus memberi jalan masuk bagi-Nya di dalam hidup kita. Memberi ruang bagi Tuhan berarti menyingkirkan segala kotoran dosa yang membuat Tuhan tidak akan nyaman tinggal di tengah kita. Itulah yang kita lakukan dengan pertobatan.

Kita sadar akan kerapuhan atau keringkihan diri kita. Orang Jawa berkata, “Sinaosa kita ringkih, sekeng, ananging Gusti tansah nresnani kita, lan ngersakaken kita ngalami karahayon lan kawilujengan.” Meski kita lemah dan rapuh, Allah selalu mencintai kita dan mengharapkan kita mengalami keselamatan. Yesus, Putra Allah diutus datang ke dunia menjadi Juru Selamat, menyelamatkan kita, tidak hanya dari perbudakan atau penjajahan secara fisik, tetapi dari perbudakan dosa. Dosa memutuskan hubungan kita dengan Allah, Sang Pencipta dan Maha Kasih. Dengan bertobat berarti kita memberi ruang atau tempat bagi Tuhan dalam hidup kita.

Dari Bacaan Injil, kita diingatkan dan diajak untuk melakukan pertobatan lewat seruan Yohanes Pembaptis. Dia  tampil di padang gurun dan menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.” Dia bukan hanya menyerukan pertobatan,tetapi memberi contoh kehidupan seorang yang menghayati pertobatan. Status keturunan Abraham bukanlah alasan untuk tidak perlu dibaptis. Jika dikenakan pada kita sebagai umat Kristiani, baptisan bukanlah alasan yang membuat kita tidak perlu lagi menghayati pertobatan. Justru status sebagai orang yang telah dibaptis, menjadi dorongan bagi kita untuk melakukan tobat terus-menerus. Dan merawat rahmat baptisan tersebut.

Yang menarik untuk direnungkan adalah makna padang gurun. Seruan pertobatan Yohanes tersebut dilakukan di padang gurun. Padang gurun menjadi tempat orang menghayati pertobatan dan pertemuan dengan Tuhan. Di padang gurun, bangsa Israel mengalami banyak cobaan,sekaligus juga meyakini kehadiran Allah. Padang gurun adalah tempat di mana seorang beriman melakukan renungan untuk menentukan pilihan hidupnya.

Dengan menyerukan pertobatan, Yohanes menantang kita untuk menentukan pilihan: mengikuti jalan Tuhan atau tetap hidup dalam dosa? Maka untunglah, setiap kali masa Adven selalu ada kesempatan untuk menerima Sakramen Tobat atau Rekonsiliasi. Artinya, kita didamaikan dengan Allah, sesama, dan diri kita sendiri.

Pertanyaan refleksinya: Bagaimana situasi batin Anda akhir-akhir ini? Apakah Anda bersedia dengan rendah hati mengakui dosa-dosa Anda dan siap menerima Sakramen Tobat pada masa Adven ini? Selamat merenungkan.

Di atas meja ada irisan tomat
Dinikmati sambil makan soto babat
Bersyukurlah Allah kita penuh rahmat
Marilah kita menerima Sakramen Tobat.

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Yohanes Gunawan Pr

Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); tengah studi Teologi Spiritual dengan Spesialisasi Formatio Panggilan di Universitas Kepausan Gregoriana Roma.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: