Percik Firman: Memancarkan Aura Kasih-Minggu, 6 Agustus 2017


Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya


Bacaan : Mat 17:1-9


“Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang” (Mat 17:2)


Saudari/a ku ytk.,


SAAT merenungkan sabda Tuhan dalam Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya hari ini, saya teringat akan lagu “DOA MENGUBAH SEGALA SESUATU”. Syairnya sangat inspiratif dan menguatkan hidup kita. Demikian syairnya:


“Saat keadaan sekelilingku / ada di luar kemampuanku,
ku berdiam diri mencari-Mu / doa mengubah segala sesuatu.
Saat kenyataan di depanku / mengecewakan perasaanku,
ku menutup mata memandang-Mu / sebab doa mengubah segala sesuatu.


Doa orang benar bila didoakan / dengan yakin, besar kuasanya,
dan tiap doa yang lahir dari iman / berkuasa menyelamatkan.
Seperti mata air di tangan-Mu / mengalir ke manapun Kau mau,
tiada yang mustahil di mata-Mu / doa mengubah segala sesuatu.”


Bacaan Injil hari ini mengisahkan pengalaman Yesus bersama tiga murid inti (Petrus, Yohanes, dan Yakobus) saat naik Gunung Tabor. Untuk apa Yesus naik gunung? Tidak lain untuk berdoa. Di tengah-tengah karya pelayanan-Nya, Yesus selalu mengkhususkan waktu untuk menyepi, masuk dalam keheningan dan berdoa kepada Allah Bapa-Nya.


Teladan Yesus ini semakin menegaskan kepada kita mengenai pentingnya doa dalam kehidupan kita. Di tengah kesibukan, pekerjaan, dan kegiatan-kegiatan kita sehari-hari, yang seringkali menyita banyak waktu dan tenaga, kita harus berani mengkhususkan waktu untuk masuk dalam keheningan dan berdoa.


Doa yang kita lakukan dengan setia, tekun, dan sungguh-sungguh, akan menghasilkan buah dalam kehidupan kita sebagaimana dialami Yesus. “Ketika sedang berdoa, wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.” Doa itu memancarkan aura kasih. Dalam aura kasih itu, ada kemuliaan dan kesucian. Maka, kita seringkali menjumpai bahwa orang-orang yang tekun berdoa itu menunjukkan kematangan hidup dan memancarkan kesucian hidup.


Mereka selalu gembira, wajahnya ceria, kata-katanya menyejukkan dan mencerahkan. Meskipun mereka sedang menghadapi aneka persoalan dan menanggung beban serta penderitaan hidup, mereka tetap tegar, kuat, bersemangat dan penuh pengharapan. Hal ini pun akan kita alami, kalau kita semakin tekun berdoa.


Doa juga memberikan serta menjernihkan arah dan tujuan dari setiap langkah hidup kita sebagaimana dialami Yesus. Dalam doa-Nya, Ia berjumpa dengan Musa dan Elia. Mereka adalah dua tokoh besar dalam Perjanjian Lama terkait dengan karya keselamatan Tuhan bagi umat manusia. Dan nanti puncak keselamatan terjadi dalam penyerahan diri Yesus di Yerusalem untuk mengemban misi keselamatan dari Bapa-Nya.


Doa juga menjadikan kita bisa memancarkan kebahagiaan bagi orang lain. Pada saat dan setelah Yesus berdoa, Petrus dan teman-temannya merasakan kebahagiaan, sehingga berkata, “Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini.” Artinya, doa itu membuahkan kedamaian dan kebahagiaan yang sejati. Juga kalau kita harus menghadapi beban, persoalan, dan derita.


Kalau kita sungguh-sungguh menghayati hidup doa kita, kehadiran kita dalam keluarga, komunitas, tempat kerja, pergaulan sehari-hari, dan di mana pun berada, kita akan membawa kebahagiaan bagi sesama. Wajah kita menampakkan keteduhan; senyuman kita membawa kegembiraan; kata-kata kita menghibur dan mencerahkan; dan tindakan kita membawa berkat. Orang lain merasa nyaman berada di dekat kita.


Maka, marilah kita mengembangkan 3 hal: (1) Menyediakan waktu untuk berdoa di tengah kesibukan/kegiatan kita; (2) Meyakini bahwa doa itu memancarkan aura kasih dan kesucian hidup; (3) Doa itu memancarkan (menyetrumkan) kebahagiaan kita yang juga dapat dirasakan orang lain.


Pertanyaan refleksinya: Masihkah Anda ingin tetap malas-malas berdoa dalam hidup sehari-hari? Apa tantangan terbesar Anda dalam menghayati hidup doa selama ini? Apakah doa-doa Anda juga memancarkan pengaruh positif bagi orang-orang di sekitar Anda? Selamat merenungkan.


Di Jogja sedang banyak orang muda
Mereka dari berbagai negara di Asia
Mari kita terus bertekun dalam doa
Memancarkan aura kasih bagi dunia.


Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Yohanes Gunawan Pr

Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); Pemimpin Umum/Pemred Majalah “Salam Damai” KAS dan Kepala Campus Ministry di Unika Soegijapranata Semarang.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply