Percik Firman: Konsisten Perkataan dan Tindakan – Sabtu, 26 Agustus 2017


Bacaan : Matius 23:1-12


“Turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya” (Mat 23:3)


Saudari/a ku ytk.,


MUNGKIN Anda pernah tahu dan mendengarkan tentang “Litani Serba Salah Pastor”.
Di sana  dikatakan, “Kalau pastornya muda, dibilang masih blo’on. Kalau pastornya
sudah tua, dibilang merepotkan umat dan sebaiknya pensiun saja. Kalau homili
terlalu panjang, dibilang menjengkelkan dan membosankan. Kalau homilinya cepat,
dibilang tidak persiapan dan mengecewakan umat yang sudah berkorban datang ke
gereja. Kalau homilinya bagus, dibilang hanya biasa teori dan tidak mempraktekkan
langsung. Kalau homilinya keras, dibilang menyinggung dan menyindir umat. Kalau
homilinya datar, dibilang tidak menarik dan bikin mengantuk.”


Ternyata tidak mudah yaaa menjadi pastor… hehehe… Meski tidak mudah, puji Tuhan masih banyak pastor yang masih setia pada imamatnya sampai saat ini, bahkan sampai akhir hayat. Dan  masih banyak para calon yang sedang dididik di seminari. Juga  saya yakin masih banyak adik-adik dan teman-teman muda yang tertarik ingin masuk seminari menjadi pastor.


Memang terus menjadi tantangan sekaligus pergulatan kami para pastor untuk konsisten antara perkataan dan perbuatan, antara ajaran dan kesaksian. Memang ngeri jika sampai terjadi ungkapan “Gajah diblangkoni, isoh kotbah ora isoh nglakoni.” Mohon terus doakan kami agar bisa setia pada panggilan imamat serta bisa terus konsisten antara perkataan dan tindakan.


Kiranya hal ini bukan hanya berlaku untuk para pastor, tetapi juga berlaku untuk Anda para orang tua dan para pendidik. Apakah nasihat-nasihat Anda kepada anak-anak Anda juga Anda laksanakan dalam tindakan sehari-hari? Misal, Dhik, sebelum tidur, berdoa dulu yaaa…. Apakah Anda berdoa juga? Dhik sebelum makan, berdoa dulu yaaaa…. Apakah Anda juga berdoa? Apakah ajaran Anda di sekolah juga Anda laksanakan dalam hidup sehari-hari? Apakah Anda hanya memerintah, tetapi tidak memberi teladan terlebih dahulu pada para siswa?


Anda mengajarkan kepada para mahasiswa tentang jangan korupsi, jangan mencontek, jangan memalsu tanda tangan presensi kehadiran, dsb. Tetapi bisa jadi Anda malah mengkorupsi jam mengajar dan jam kerja Anda, Anda mengklaim karya mahasiswa sebagai karya Anda, Anda memanipulasi anggaran dan laporan keuangan lembaga, dsb. Apalagi jika Anda berkarya di lembaga pendidikan berlebel “Katolik”. Memang ngeri jika sampai terjadi ungkapan “Jarkoni – gelem ngajari ora gelem nglakoni.”


Bacaan Injil hari ini mengungkapkan kritik keras Tuhan Yesus kepada orang Farisi dan Ahli Taurat.“Turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” Kebobrokan orang Farisi dan Ahli Taurat itu tidak hanya karena mereka membenci Tuhan Yesus. Mereka membenci Tuhan Yesus juga karena selama ini mereka memang tidak mengajarkan kebenaran dari firman Tuhan. Kalaupun mereka mengajarkannya, mereka sendiri tidak mengakuinya dan tidak melakukannya di dalam hidup sehari-hari.


Kebobrokan inilah yang mendorong Tuhan Yesus mengkritik mereka. Bahkan, Tuhan Yesus memperingatkan mereka dengan kalimat-kalimat celaka yang sangat keras. Dalam bagian ini Yesus membongkar sifat sombong para pemimpin agama itu dengan sangat jelas. Meskipun demikian, Yesus tetap meminta orang banyak untuk mendengarkan ajaran ahli Taurat dan orang Farisi selama mereka mewakili Musa dengan benar. Jika ajaran mereka memang benar, silakan taati ajaran itu.


Terkait dengan homili, dalam Anjuran Apostolik “Evangelii Gaudium (Sukacita Injili)”, Paus Fransiskus mengungkapkan, “Homili merupakan batu uji untuk menilai kedekatan pastor dan kemampuanya dalam berkomunikasi dengan umatnya. Kita tahu bahwa umat memandang homili sebagai sesuatu yang sangat penting; umat kaum awam dan para pelayan tertahbis menderita karena homili: kaum awam karena harus mendengarkannya dan kaum klerus (imam) karena harus berkotbah kepada mereka” (no. 135).


Dan yang menarik, apapun komentar umat akan homili pastor, entah panjang atau pendek, menarik atau menjemukan, Paus Fransiskus mengakui bahwa tidak mudah menyiapkan dan menyampaikan homili. Homili tetap harus dilaksanakan oleh seorang pastor sebagai pewarta sabda Allah. “Pun kalau homili suatu ketika mungkin sedikit menjemukan, kalau semangat keibuan dan gerejani ini ada, akan dapat menghasilkan buah, sebagaimana nasihat-nasihat menjemukan dari seorang ibu menghasilkan buah, pada waktunya, dalam hati anak-anaknya” (no. 140).


Pertanyaan refleksinya: Apakah Anda sudah konsisten antara perkataan dan tindakan Anda dalam hidup sehari-hari? Anda lebih mudah menyalahkan orang lain ataukah introspeksi diri dulu sebelum menyalahkan orang lain? Selamat merenungkan dan menikmati akhir pekan.


Dan secara pribadi, saya dengan rendah hati mohon maaf jika percik firman Tuhan yang saya sampaikan selama ini menyakiti/menyinggung Anda; saya juga mohon maaf sebesar-besarnya jika saya belum bisa melaksanakan firman Tuhan itu dengan sempurna dalam tindakan saya. Mari kita saling mendoakan dan saling bertolong-tolong menghayati firman Tuhan dalam hidup sehari-hari.


Pergi ke museum di siang bolong
Di depan loket panjang antrian
Mari berjuang dan saling menolong
Agar konsisten dalam kata dan tindakan


Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Yohanes Gunawan Pr

Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); Pemimpin Umum/Pemred Majalah “Salam Damai” KAS dan Kepala Campus Ministry di Unika Soegijapranata Semarang.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply