Percik Firman: Kerjasama dalam ‘Kejahatan’ – Kamis, 17 Agustus 2017


Hari Kemerdekaan RI


Bacaan : Matius 22:15-21


”Orang-orang Farisi berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan; lalu mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada Yesus” (Mat 22:15-16)


Saudari/a ku ytk.,


MERDEKAAAA….Merdekaaaaa….Merdekaaaaaa…..


Kalau orang mau jujur dan mendengarkan suara hatinya, pasti akan kagum akan kepemimpinan Presiden RI saat ini, Bapak Joko Widodo. Mengapa? Ia sungguh memikirkan kesejahteraan rakyatnya dan masa depan bangsa Indonesia dengan aneka kebijakan pembangunan yang diambil, antara lain: pembangunan infrastruktur jalan, waduk, tol laut, dan daerah perbatasan; kebijakan ekonomi; jaminan sosial dan kesehatan; serta berkomitmen pada NKRI dan Pancasila sebagai dasar negara. Selain itu kebijakan standarisasi harga bahan bakar minyak (bbm) yang sama di seluruh pelosok tanah air menunjukkan passion(perhatiannya) pada nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


Apakah ada orang yang tidak senang dengan presiden kita dengan aneka kebijakan yang memihak kepada kepentingan rakyat dan bangsa saat ini dan ke depan? Tentu saja ada. Anda mungkin lebih tahu daripada saya. Beberapa bulan terakhir ini ada sekelompok orang yang bekerja sama dalam ‘kejahatan’ berupaya menggulingkan presiden yang sah, menyebarkan isu dan fitnah yang tak berdasar fakta, mencari-cari kesalahan presiden, dsb.


Apa yang terjadi saat ini pernah terjadi pada zaman Yesus. Dalam injil hari ini, dikisahkan ada sekelompok orang yang tidak senang dengan Yesus. Mereka bersekongkol dan berusaha mencari-cari kesalahan Yesus, lalu menjebak Yesus, supaya mereka bisa menyalahkan dan akhirnya menyingkirkan Yesus. Padahal Yesus telah berbuat banyak untuk kebaikan rakyat Yahudi, dengan karya kesehatan (menyembuhkan orang-orang sakit), karya pendidikan (mengajar tentang bersikap adil, bijaksana, taat beragama, peduli pada sesama, kerajaan Allah, pengampunan, dsb), karya sosial-ekonomi (memberi makan pada banyak orang), dsb.


Orang-orang Farisi berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu kasus pertanyaan terkait dengan kewajiban membayar pajak. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada kami pendapat-Mu: apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?”


Pertanyaan ini kelihataNnya bagus dan sederhana, tetapi di balik pertanyaan itu mereka bermaksud menjebak Yesus supaya dapat dijadikan alasan sebagai hasutan melawan pemerintah romawi. Mengapa? Sebab mereka sengaja mengajak orang-orang Herodian dari pihak penguasa saat itu ( = pengikut dinasti Herodes ). Jika Yesus menjawab “orang perlu membayar pajak”, maka orang banyak bisa memusuhi Yesus karena Yesus pro penjajah. Jika menjawab “orang tidak perlu membayar pajak”, maka Yesus akan dipandang sebagai pembangkang kaisar dan penghasut rakyat. Dilema…


Orang-orang Farisi iri hati dan takut tersaingi oleh popularitas Yesus yang melambung tinggi. Masyarakat saat itu menyaksikan betapa hebat dan ajaib kiprah Yesus menyembuhkan banyak orang sakit, melepaskan orang kerasukan roh jahat, memberi makan 5.000 orang, membangkitkan orang mati, pengajarannya dan tindakannya menyentuh hati orang-orang kecil. Sedangkan eksistensi dan pengaruh orang-orang Farisi sebagai tokoh publik mulai merosot.


Memang harus hati-hati, sabar dan bijaksana dalam menghadapi orang-orang yang sudah tidak suka, orang-orang yang iri hati. Apa saja yang diperbuat selalu salah di mata mereka dan ada-ada saja alasan untuk menyalahkan. Jenis orang seperti ini masih bisa dijumpai di sekitar kita saat ini. Ketika kita sukses, kita disanjung-dipuji banyak orang karena prestasi dan keberhasilan, kita dipercaya menduduki jabatan, tetap ada orang-orang di sekitar yang tidak suka. Apakah Anda mengalaminya?


Sebagai pengikut Kristus di bumi Pancasila-Indonesia, kita perlu terus menghidupi semangat Mgr. Albertus Soegijapranata SJ, uskup pribumi pertama sekaligus pahlawan nasional. Apa semangatnya? Dia menegaskan, “In dubius, libertas; in necesariis, unitas; in omnibus, caritas”. Artinya, dalam hal yang belum pasti, kebebasan; dalam hal yang penting, persatuan; dan dalam segala hal, cinta kasih.


Bahkan dalam Surat Gembala Masa Prapaskah 6 Februari 1956, Mgr. Soegija menegaskan: “Jika kita sungguh-sungguh Katolik sejati, kita sekaligus patriot sejati. Karenanya, kita merasa bahwa kita 100% patriot, justru karena kita adalah 100% Katolik. Lagi pula, bukankah menurut perintah ke-4 dari ke-10 Perintah Allah –sebagaimana ada dalam Katekismus– kita wajib mencintai Gereja kudus, juga kita wajib  mencintai Negara, dengan seluruh hati kita. Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar, dan berikanlah kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.”


Selamat merenungkan. Selamat menjadi patriot (pembela dan cinta tanah air) sejati di bumi Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Dirgahayu Republik Indonesia. Selamat merayakan 72 tahun Indonesia merdeka. Merdekaaaa….Merdekaaaaa….Merdekaaaaaa…..


Di Jakarta ada air mancur menari
Di Prambanan ada panggung Sendratari
Mari kita menjadi patriot masa kini
Peduli dan mencintai ibu pertiwi.


Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Yohanes Gunawan Pr

Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); Pemimpin Umum/Pemred Majalah “Salam Damai” KAS dan Kepala Campus Ministry di Unika Soegijapranata Semarang.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: