Percik Firman: Berbuat Baik atau Berbuat Jahat – Senin, 11 September 2017


Bacaan: Lukas 6:6-11


“Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Luk 6:9)


Saudari/a ku ytk.,


PERNAH suatu hari saya melayani Sakramen Tobat kepada para mahasiswa yang sedang retret. Ada salah seorang katekumen yang ingin menerima Sakramen Tobat. Para panitia bingung karena setahu mereka Sakramen Baptis adalah pintu gerbang bagi sakramen-sakramen yang lain. Seorang katekumen itu belum dibaptis, sehingga tidak boleh menerima sakramen lain sebelum menerima Sakramen Baptis. Padahal, si katekumen itu bisa mutung (kagol) tidak jadi katolik jika tidak boleh ikut mengaku dosa bareng teman-temannya. Piye jel kalau begini? Boleh tidak dia menerima Sakramen Tobat?


Waktu itu saya meminta panitia untuk memperbolehkan mahasiswa yang katekumen itu masuk ke ruang pengakuan dosa. Seperti pada umumnya, saya mendengarkan dia mengakukan dosanya dulu. Lalu saya memberikan penjelasan dengan hati-hati terkait dengan katekese Sakramen Tobat. Ia pun memahaminya. Dan sebelum dia keluar dari ruangan, saya mendoakan dia, tetapi tidak memberikan absolusi atas dosanya. Ia merasa lega dan plong meski tidak mendapat absolusi.


Dalam hidup sehari-hari seringkali kita dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Pilihan itu bisa membuat orang menjadi dilema, bingung, dan galau. Nilai apa yang mau diikuti dan dijadikan dasar tindakan? Keputusan apa yang perlu diambil? Lalu tak jarang muncul pertanyaan di antara kita: boleh atau tidak saya melakukan ini? Boleh tidak menikahkan anak pada masa Adven? Boleh tidak menikahkan anak pada masa Prapaskah? Boleh tidak menyampaikan intensi doa pada hari raya Natal atau Paskah? Boleh tidak misa requiem saat ada umat meninggal pada hari Jumat Agung? Dan sederet pertanyaan yang membutuhkan kebijaksanaan untuk menjawabnya.


Bacaan Injil hari ini berbicara tentang belas kasih Tuhan Yesus pada hari Sabat kepada orang yang mati tangan kanannya. Bagi orang Farisi dan ahli Taurat hari Sabat adalah istirahat total dan bekerja pada hari Sabat adalah hal yang tabu. Hukum melarang orang untuk bekerja pada hari sabat. Menyembuhkan termasuk kategori bekerja dan tabu (dilarang hukum Taurat). Padahal di rumah ibadat itu ada orang yang mati tangan kanannya sudah lama. Lantas apa yang dilakukan Tuhan Yesus? Apakah Tuhan Yesus mengalami andilau (antara dilema dan galau)? Tidak. Tuhan Yesus mudah tergerak hati-Nya, apalagi Ia melihat orang yang menderita. Karena belas kasih-Nya itulah, akhirnya Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang mati tangan kanannya meskipun pada hari Sabat.


Tuhan Yesus menegaskan bahwa hari Sabat harus digunakan dengan baik untuk kemuliaan Allah dan keselamatan umat-Nya. Berbuat baik atau berkarya untuk orang yang sedang menderita janganlah dijadikanmasalah. Secara hakiki Tuhan Yesus menggugah hati nurani hukum dan peraturan, untuk melihat lebih pada tujuan tindakan. Sehingga apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan itu bergantung pada tujuan dari tindakan, bukan sekedar aturannya. Maka tindakan menyembuhkan orang pada hari Sabat itu termasuk perbuatan baik, menyelamatkan dan diperbolehkan. Tindakan menyelamatkan nyawa orang tidak semestinya mendatangkan kemarahan.


Pertanyaan refleksinya: Selama ini perbuatan Anda lebih banyak didorong oleh aturan ataukah tujuan? Apakah Anda pernah mengalami situasi yang andilau (antara dilema dan galau) dalam hidup ini? Apa yang Anda lakukan jika menghadapi pilihan yang tidak mudah atau membingungkan? Selamat merenungkan.


Di kota Roma banyak reruntuhan
Bangunan kuno saksi peradaban
Hidup ini memang penuh pilihan
Jangan sungkan minta bimbingan Tuhan.


Berkah Dalem dan salam teplok dari Roma.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Yohanes Gunawan Pr

Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); Pemimpin Umum/Pemred Majalah “Salam Damai” KAS dan Kepala Campus Ministry di Unika Soegijapranata Semarang.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply