Peran Umat Tuhan Bagi Pemulihan Negeri: Mikha

Ayat bacaan: Mikha 7:7======================”Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!”Beberapa hari terakhir saya mengajak teman-teman semua untuk merenungkan apa yang seb…

Ayat bacaan: Mikha 7:7
======================
“Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!”

Beberapa hari terakhir saya mengajak teman-teman semua untuk merenungkan apa yang sebenarnya bisa dilakukan oleh orang percaya dalam memulihkan kondisi bangsa yang sudah carut marut, retak bahkan hancur di sana-sini. Kita cenderung membandingkan kemampuan kita secara perorangan terhadap kondisi yang sudah terlanjur berantakan sedemikian rupa, sehingga rasanya tidak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya. Doa orang benar dikatakan sangat besar kuasanya (Yakobus 5:16b), sehingga doa-doa syafaat yang dipanjatkan oleh umat Tuhan yang benar akan membawa dampak yang besar bagi terjadinya pemulihan sebuah bangsa. Dalam 2 Tawarikh 7:14 Tuhan sudah mengingatkan: “dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” Karena itulah Paulus pun mengingatkan akan pentingnya doa syafaat dari para orang percaya dalam 1 Timotius 2:1-2. Kita juga bisa belajar dari kehancuran Sodom yang terjadi karena pada masa itu semua orang sudah begitu jahat sehingga bahkan 10 orang benar pun tidak ada lagi di dalam kota itu. (Bacalah Kejadian 18). Kita sudah melihat dalam renungan terdahulu bagaimana Daniel berdoa bagi bangsanya dengan melibatkan dirinya yang sebenarnya tidak ikut-ikutan hidup buruk sebagai bagian terintegrasi dari bangsanya sendiri. Ini adalah sebuah contoh yang sangat baik tentang bagaimana seharusnya sikap umat Tuhan dalam menyikapi kehancuran bangsanya. Hari ini mari kita lihat contoh lain di masa Mikha yang ada di dalam Alkitab.

Mikha ini adalah seorang nabi dari desa terpencil yang masa pelayanannya berada dalam rentang masa pemerintahan raja Yotam, Ahaz dan Hizkia. Segala kerusakan yang terjadi di negeri kita saat ini sudah pula terjadi pada masa tersebut. Secara rinci Alkitab mencatat segala keburukan atau kejahatan yang ada saat itu. Mari kita lihat apa saja yang terjadi pada masa itu dalam Mikha pasal 7.
– Kelaparan, gagal panen (ay 1),
– kemerosotan moral, hilangnya orang saleh dan jujur, saling jebak, saling tipu, bahkan saling menghancurkan (ay 2)
– sudah begitu terbiasa berbuat jahat, pejabat dan hakim korupsi dan menerima suap, pemimpin memaksakan kemauannya, hukum diputar balikkan (ay 3)
– orang yang terbaik sekalipun di dunia diibaratkan bagai semak duri yang tidak berguna dan menusuk (ay 4)
– tidak ada lagi yang bisa dipercaya (ay 5)
– kehancuran rumah tangga, permusuhan antara anggota keluarga (ay 6).

Bukankah ini yang menjadi problema bangsa kita hari-hari ini? Begitu parahnya, bahkan Mikha menggambarkan semua itu sebagai sebuah luka yang tidak dapat sembuh dan menular (Mikha 1:9).

Apakah Mikha berpangku tangan dan hanya mengeluh melihat situasi gonjang ganjing yang tengah dialami bangsanya? Sama sekali tidak. Ayat bacaan kita hari ini menggambarkan reaksinya untuk menyerahkan sepenuhnya pada Tuhan sekaligus peran aktifnya sebagai umat Tuhan. “Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!” (Mikha 7:7). Mikha percaya dengan imannya bahwa seberapa hancur moral bangsanya, ia tidak akan pernah kecewa dalam menanti pemulihan yang berasal dari Tuhan. Mikha tahu bahwa Tuhan sanggup memulihkan bangsa yang sudah terlanjur jatuh sedemikian jauh dalam kesesatan, dan ia pun tahu bahwa Tuhan akan mendengarkannya, mendengarkan doa-doa yang ia panjatkan. “Allahku akan mendengarkan aku!” katanya. Itu tepat seperti apa kata Tuhan langsung dalam 2 Tawarikh 7:14 diatas. Mikha, nabi yang hidup benar pada jamannya dan selalu tekun dalam berdoa mencari wajahNya, mau merendahkan diri dengan tidak merasa diri paling benar, maka Tuhan berjanji untuk mendengarkan doa-doanya. Jika Tuhan mendengar doa Mikha, Daniel atau umat-umatNya yang benar lainnya, hari ini Tuhan pun mendengar doa kita, umat-umatNya yang memilih untuk hidup benar. Jika Tuhan mampu menyelamatkan anak-anakNya di masa lalu, jika kita sudah berkali-kali melihat bahwa Tuhan mampu melakukan mukjizat lewat cara-cara yang ajaib, jika dulu Dia sanggup, sekarang pun Tuhan pun sanggup! Tuhan tidak pernah berubah, Dia selalu sama, dulu, sekarang sampai selamanya. (Ibrani 13:8)

Pemazmur juga tahu bahwa dalam kondisi seperti apapun tidak akan pernah sia-sia untuk mengandalkan Tuhan dalam keadaan terburuk sekalipun. “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut;sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi. Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumipun hancur. TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub.” (Mazmur 46:2-8). Ini janji penyertaan Tuhan yang luar biasa, karenanya kita tidak perlu takut untuk hidup dalam masa suram dan penuh ketidakpastian dan kemerosotan moral serta kejahatan seperti saat ini. Tentu saja kita pun tidak boleh lupa bahwa sesungguhnya keadaan bangsa dan pemulihannya akan sangat tergantung dari seberapa besar kepedulian kita untuk mau mendoakan bangsa ini.

Mikha tetap menanti-nantikan Tuhan, percaya penuh pada kuasa Tuhan yang akan selalu siap memulihkan bangsanya. Mikha tahu bahwa apabila ia hidup kudus dan benar, Tuhan akan mendengar doanya. Yesus sendiri berkata: “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9:23). Jadi jangan takut, jangan pula bersikap pesimis, apatis dan hanya menyesali, berpangku tangan tanpa mau berbuat apa-apa. Ini saatnya kita melakukan peran nyata lewat doa-doa kita agar bangsa yang kita cintai ini bisa dipulihkan dan kembali memasuki era yang gemilang. Secara logika manusia itu akan tampak sulit, tapi percayalah bahwa tidak ada satu hal yang mustahilpun bagi Tuhan. Dia selalu siap mendengar doa anak-anakNya yang taat kepadaNya, Dia akan selalu mendengar seruan anak-anakNya yang prihatin terhadap nasib bangsa.

Doa orang benar itu sangatlah besar kuasanya, dan Tuhan akan selalu mendengarnya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply