Pepesan Kosong itu Namanya Pendidikan Karakter

SEKARANG ini,  banyak orang tua mengeluhkan anaknya yang baru duduk di bangku sekolah dasar sudah menemui tuntutan akademiknya makin beragam. Di usia TK, anak sudah dituntut harus bisa membaca-menulis ketika nantinya menamatkan jenjang TK. Padahal zaman saya dulu, baca tulis itu hanya diperuntukkan untuk anak-anak SD kelas 1,. Jenjang pendidikan TK murni  masa untuk bermain. […]

SEKARANG ini,  banyak orang tua mengeluhkan anaknya yang baru duduk di bangku sekolah dasar sudah menemui tuntutan akademiknya makin beragam. Di usia TK, anak sudah dituntut harus bisa membaca-menulis ketika nantinya menamatkan jenjang TK. Padahal zaman saya dulu, baca tulis itu hanya diperuntukkan untuk anak-anak SD kelas 1,. Jenjang pendidikan TK murni  masa untuk bermain.

Dengan tuntutan “prestasi belajar” yang tinggi tanpa diimbangi pembekalan dari segi sisi karakter pribadi anak, bisa dibayangkan akan menjadi apa mereka di masa depan? Sangat mungkin di masa mendatang akan muncul generasi robot. Di mana robot tidak mempunyai sisi hati dan budi yang membentuk karakter diri manusia.

Fenomena ujian nasional

Contoh riil adalah hadirnya fenomena UNAS. Dengan standar dan prosedur kelulusan UNAS yang berubah-ubah dan selalu naik tiap tahunnya, ini menjadi beban tersendiri bagi generasi kita. Tiap tahun kita bisa mendengar peristiwa  bocornya soal-soal ujian nasional.

Lebih heboh lagi ada berita tentang siswi sekolah X bunuh diri karena tidak lulus UNAS. Sudah banyak peristiwa yang berkaitan dengan UNAS yang menjadi sasaran pemberitaan media kita. Dan akhirnya kita hanya bisa berkata betapa rapuhnya generasi muda kita. Sehingga semboyan “menjadi sekolah berkarakter” hanyalah sebatas khayalan semata.

Mana pendidikan karakter?

Lalu mengapa pendidikan di Indonesia sekarang masih dinilai mengistimewakan pengembangan intelektual saja, padahal visi pendidikan di Indonesia yang disosialisasikan ke sekolah-sekolah sudah mengarah pada sekolah yang berkarakter? Bahkan yang ter-up to date, penanaman karakter dimasukkan dalam silabus pengajaran.

Di lain pihak, beberapa sekolah sudah melaksanakan kegiatan untuk menjawab tantangan dari Dinas Pendidikan mengenai sekolah berkarakter, namun mengapa masih saja dirasa sekedar semboyan bagus yang menjadi nilai promosi untuk sekolah mereka?

  • Pertama karena adanya tuntutan akademik yang terlalu tingginya yang diberikan kepada peserta didik. Seperti yang menjadi pengalaman riil saya, dengan adanya model kurikulum KTSP saat ini dan beberapa sekolah yang mempunyai SKM (Standar Kelulusan Minimal) tinggi, saya melihat peserta didik hanya dikondisikan untuk bagaimana caranya memenuhi standar tersebut. Bukan suatu hal yang mudah untuk memenuhi standar tersebut. Sehingga, wajar saja seorang siswa yang mendekati UNAS berburu kunci jawaban.
  • Boro-boro dia mempertimbangkan apakah yang kulakukan benar atau salah? Yang mereka kejar hanyalah bagaimana caranya agar bisa lulus UNAS. Daripada jujur ajur dan hasilnya dia sampai tidak lulus, maka berburu kunci soal menjadi perhatian mereka. Ini jelas membelokkan arah pendidikan dalam artian sesungguhhnya. Di keluarga pun anak hanya dipenuhi sisi intelektualnya saja, diikutkan les untuk mencapai prestasi setinggi mungkin. Dari sisi orang tua, ada juga yang berpikiran sebagai bentuk timbal balik karena menyekolahkan anak dengan biaya yang besar.  Akhirnya mereka menuntut anak mencapai peringkat tertentu atau masuk penjurusan tertentu (IPA atau IPS) tanpa melihat kemampuan dan minat anak.
  • Jika prestasi anak masih kurang, itu berarti anak belum atau tidak bekerja keras. Padahal penting juga kita lihat bagaimana proses anak meraihnya, tidak hanya sekedar nilai dan hasil akhir saja. Ironisnya para orangtua pun juga tidak menyadarinya. Anak juga  melihat secara salah. Mereka tak jarang melihat orangtua bisanya hanya menuntut saja, tidak mau memahami hasil usaha mereka. Padahal mereka ingin orangtuanya memahami kondisi dan memberikan solusi dari yang mereka alami. Bukan malah terus menuntut dan memberikan label negatif yang memperparah keadaan.
  • Kedua, yaitu tidak ada waktu khusus bagi pengembangan karakter anak. Selama ini, waktu yang digunakan untuk pengembangan karakter anak diambil dari sisa jam efektif sekolah dan seringkali terkorbankan diambil para pendidik untuk mengejar target materi yang ditentukan. Kalaupun diberikan waktu khusus, porsinya pun tidak sebanyak waktu yang digunakan untuk akademisnya.
  • Bagaimana bisa membentuk generasi berkarakter kalau sebagai pendidik –entah guru atau orangtua—kita  tidak memberi waktu khusus untuk pengembangan karakter anak kita?  Padahal kita tahu mengasah kepekaan hati dan budi anak untuk menjadi generasi yang berkarakter tidak cukup jika hanya dikerjakan sambil lalu saja, melainkan butuh waktu khusus dan secara kontinyu untuk mengerjakannya. Sisi karakter anak tidak bisa dicetak instan, melainkan bertahap dengan jalan pembiasaan yang terus menerus kepada mereka.
  • Ketiga adalah miskinnya keteladanan. Keteladanan di sini bukan hanya ketika anak berada di sekolah, namun juga ketika mereka berada di lingkungan keluarga. Menurut psikologi, anak belajar bukan hanya dari apa yang mereka dengar, namun juga dari yang mereka lihat (modelling). Sehingga keteladanan karakter yang diajarkan kepada anak pun harus tercermin di karakter para pendidik mereka, baik guru di sekolah maupun orangtua di rumah. Sehingga mendidik tidak hanya sekedar menasihati dan memberi tahu apa yang seharusnya dan selayaknya anak lakukan, tetapi kita harus bisa menjadi contoh bagi mereka.
  • Tugas memberi keteladanan dimana pun anak berada, tanggung jawabnya bukan hanya dibebankan kepada beberapa pihak saja. Misalnya di sekolah, tanggungjawab pengembangan karakter siswa tidak hanya dibebankan wali kelas dan BK saja, namun harusnya juga menjadi tanggungjawab dan dilakukan mulai dari Kepala sekolah, seluruh guru, bahkan seluruh karyawan sekalipun. Sehingga secara tidak langsung  follow-up yang kontinyu bagi pendidikan karakter anak juga terlaksana.
  • Keempat adalah konsistensi perlakuan terhadap anak. Pendidikan pertama bagi seorang anak berada di lingkungan keluarga. Pendidik pertama bagi mereka adalah kedua orang tuanya. Maka masalah pembiasaan karakter  anak, pertama kali seharusnya ditanamkan oleh orangtuanya dan selanjutnya bekerjasama dengan pihak sekolah sesuai tahap perkembangannya. Selain itu, pihak sekolah dan keluarga pun harus sama penanganannya untuk masalah karakter anak.
  • Keempat poin di atas jika benar-benar disadari urgent  yang memengaruhi pengembangan karakter  anak,  maka akan semakin banyak lagi sekolah-sekolah yang menata kembali sistem di sekolah mereka untuk menyeimbangkan sisi intelektual anak dengan memperbanyak porsi pengembangan karakter. Memang butuh perhatian khusus dari sekolah yang bersangkutan. Ini  bukan merupakan pekerjaan rumah yang mudah. Namun usaha keras dengan didasari cita-cita yang mulia untuk mencetak generasi muda yang utuh: berkembang intelektual dan karakternya, saya optimis pendidikan di Indonesia akan semakin lebih baik lagi.

Salah satu keprihatinan masalah pendidikan inilah yang akhirnya semakin meneguhkan saya untuk terus berkarya di dunia pendidikan hingga saat ini. Karena memang tidak mudah menjadi sosok seorang pendidik bagi para siswanya. Walaupun saat ini saya sangat jauh dari kategori “guru yang baik”, namun dengan menyakini motto Mother Teresa untuk “melakukan hal kecil dengan cinta yang besar dalam setiap karya yang saya lakukan, saya yakin suatu hari nanti usaha saya akan berdampak besar bagi anak didik saya.

Itu rasanya sudah cukup bagi saya.  Semoga Tuhan senantiasa memberkati setiap karya kita.

Photo credit: Mathias Hariyadi, Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan (KBKK) Indonesia

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply