Penyetoran vs Penarikan

menahan diri by DPC Art RalfmaoSORE itu saat saya sedang repot dengan urusan keluarga yang tak bisa ditunda (sebab biasanya kalau ditunda akan banyak anggota keluarga yang complain sama saya) sebuah SMS masuk ke HP saya.Isinya adalah tawaran untuk mengikuti seminar dua hari berjudul Striving To Lead/Seven Habit di gereja. Saat benak belum sempat berpikir panjang tangan saya sudah mengetik […]

menahan diri by DPC Art Ralfmao

SORE itu saat saya sedang repot dengan urusan keluarga yang tak bisa ditunda (sebab biasanya kalau ditunda akan banyak anggota keluarga yang complain sama saya) sebuah SMS masuk ke HP saya.Isinya adalah tawaran untuk mengikuti seminar dua hari berjudul Striving To Lead/Seven Habit di gereja. Saat benak belum sempat berpikir panjang tangan saya sudah mengetik kata YA sebagai balasan SMS tadi.

Hmmm…. begitulah kadang saya tak bisa melewatkan “rezeki” macam ini padahal pikiran saya sedang bercabang-cabang. Saya sebut rejeki karena kapan lagi saya ditawari kesempatan belajar, merefresh pikiran, dan gratis lagi. Urusan nanti biar dipikir nanti yang penting sekarang sudah mengiyakan peluang ini.

Seminar yang dibawakan oleh Drs. Budi Santoso dari Komisi Pendidikan Keuskupan Agung Jakarta ini amat menarik bagi saya. Meski saya sudah membaca buku Seven Habit berkali-kali tetapi materi yang dibawakan tak pernah bosan untuk dilahap kembali. Dari tujuh kebiasaan baik yang dibahas ada satu kebiasaan yang menarik yakni kebiasaan nomor lima: Berusahalah untuk mengerti orang lain dahulu, baru kemudian dimengerti.

Ada istilah penyetoran dan penarikan dalam aplikasi kebiasaan efektif kelima yang dilakukan untuk mengisi rekening bank emosi orang lain. Hal ini berkaitan dengan dengan latihan diri memahami dahulu keadaan orang lain barulah minta dipahami. Hal ini menciptakan suasana kepedulian, menghormati, dan pemecahan masalah secara positif. Dengan mencoba mengerti dahulu perasaan dan kepentingan orang lain diharapkan akan mendorong orang lain juga balas mengerti dan berpikiran terbuka terhadap kita

Teori ini tidak semudah yang diucapkan. Butuh kerendahan hati dan kepedulian terhadap orang lain yang kadang kerap bikin hati kesal dan uring-uringan. Alih-alih ingin berbuat baik atau menyetor kebaikan di rekening bank emosi orang lain hati malah dibuat sungguh-sungguh emosi karena orang tersebut tidak memahami maksud baik kita. Alhasil kita batal melakukan penyetoran/ batal berbuat baik.

Penyetoran ke bank rekening emosi orang lain berupa kebaikan-kebaikan yang bisa dilakukan dengan cara sederhana, memberi senyuman/perhatian, meneguhkan saat sakit/kesepian, membantu saat kesusahan dan lain sebagainya. Penyetoran ini bila dilakukan terus menerus dapat memenuhi rekening bank emosi orang lain sehingga orang tersebut pada akhirnya mempelajari kebaikan diri kita dan dengan demikian iapun balas mengerti/memahami kita.

Sementara penarikan adalah tindakan/perilaku kita yang membuat rekening bank emosi orang lain semakin berkurang. Hal-hal yang berkaitan dengan penarikan adalah tindakan yang berlawanan dengan penyetoran, misalnya ingkar janji, tidak jujur, curiga, sulit memaafkan, pamrih, marah, tersinggung dan lain sebagainya.

Sebagaimana hukum tabur tuai demikianlah hukum penyetoran dan penarikan ini berlaku. Semakin banyak setoran di rekening bank emosi orang lain semakin banyak tabungan kebaikan yang bisa kita gunakan sewaktu-waktu. Kadang balasan kebaikan kita tak melulu berasal dari rekening bank emosi orang tersebut tetapi bisa jadi justru kita dapat dari orang lain/tempat lain dan situasi lain.

Demikian juga sebaliknya.

Semakin banyak penarikan yang kita lakukan dari rekening emosi bank orang lain maka semakin sedikit atau habislah tabungan kebaikan kita di sana. Yang terjadi kemudian bukan relasi dan berkat yang baik tetapi sebaliknya alias apa yang kita tabur itulah yang kita tuai.

Saya mencoba mengingat-ingat hal tersebut sambil jatuh bangun mempraktekkannya. Karena jujur saja kalau berhadapan dengan orang yang karakternya baik tentu mudah untuk saya setori rekening bank emosinya, tetapi kalau yang saya hadapi adalah orang sulit dan jutek ..hmmm….. kadang hati ini berontak…(orang kayak gitu, kok saya beri kebaikan?).

Namun ya, itulah hidup. Hidup itu indah justru karena di muka bumi ini bukan hanya dihuni orang-orang baik saja melainkan juga orang dengan macam-macam karakter dan perilaku. Tinggal pintar-pintar “menyelamatkan diri” agar tak ikut terjerumus dalam arus jahat yang membuat kita melakukan penarikan-penarikan rekening bank emosi yang merugikan diri sendiri.

13/09/2014

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply