Penyemangat (2)

(sambungan)

Paulus bukanlah orang yang tidak punya kerjaan. Ia sangat sibuk dalam melakukan pelayanannya dari kota ke kota, lengkap dengan segala penderitaan dan tekanan bahkan ancaman yang terus ia hadapi. Ia pun masih harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan pelayanannya. Akan tetapi Paulus tahu bahwa manusia butuh satu sama lain. Di saat yang satu lemah, yang lain menguatkan. Dalam kesempatan lain ketika Paulus dan Barnabas melayani bersama-sama, mereka pun terus memberi dorongan semangat kepada orang-orang yang baru percaya. “Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh banyak murid. Lalu kembalilah mereka ke Listra, Ikonium dan Antiokhia. Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.” (Kisah Para Rasul 14:21-22).

Coba perhatikan sejenak sekeliling kita. Tidakkah masih ada banyak orang yang terlalu lemah untuk berdiri sendiri, tidak tahu harus berbuat apa dan tidak punya tempat untuk berbagi dan mendapat dukungan atau penguat semangat? Bukankah kita pun mengalami masa-masa ketika kita tidak sanggup lagi untuk melangkah ke depan dan butuh dorongan semangat? Kita butuh penyemangat, tapi sebaliknya kita juga harus siap menjadi seorang penyemangat.

Karena itulah semangat kerjasama, saling dorong dan saling bantu berulang kali diingatkan dalam alkitab. “Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.” (1 Tesalonika 5:11), atau lihatlah ayat ini “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!” (Pengkotbah 4:9-10). Bahkan dengan tegas dikatakan bahwa dengan saling tolong menolong, itu artinya kita sudah memenuhi hukum Kristus. (Galatia 6:2).

Sudahkah kita cukup peduli terhadap kesulitan saudara-saudara kita, keluarga, sahabat dan orang disekitar kita atau kita masih egois hanya memusatkan segalanya kepada kepentingan diri sendiri? Apakah kita sudah dipenuhi kerinduan untuk berbagi dan menjadi berkat, atau kita masih sibuk menimbun segalanya untuk kita sendiri saja? Apakah kita mau aktif dalam persekutuan-persekutuan dimana kita bisa saling menguatkan dan dikuatkan atau kita merasa tidak perlu? Firman Tuhan berkata “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:24-25).

Jika anda berada dalam kondisi lemah hari ini, dan mendapatkan dorongan semangat dari orang lain, bersyukurlah untuk itu. Atau jika belum ada yang peduli,ketahuilah bahwa Tuhan siap menggendong anda untuk berjalan dari satu kemenangan kepada kemenangan berikutnya, from glory to glory. Di sisi lain, jika Roh Kudus menggerakkan anda untuk menjadi penyemangat atau penolong bagi orang lain, jangan tunda, jangan tolak, tapi segeralah lakukan. Tidak ada seorangpun manusia yang sanggup  hidup sendirian, karena itu betapa indahnya ketika kita saling peduli dalam kesulitan-kesulitan yang tengah kita hadapi.

Saling membantu satu sama lain artinya memenuhi hukum Kristus

Follow us on Twitter: https://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: