Penyayang Binatang

Ayat bacaan: Keluaran 23:12
========================
“Enam harilah lamanya engkau melakukan pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh haruslah engkau berhenti, supaya lembu dan keledaimu tidak bekerja (your ox and your donkey may rest) dan supaya anak budakmu perempuan dan orang asing melepaskan lelah.”

penyayang binatang, Tuhan peduli terhadap binatang

Sungguh sedih rasanya melihat seekor anjing yang diikat dengan rantai pendek dan diletakkan di depan rumah. Anjing ini selalu saya lihat setiap hari karena berada pada lokasi yang selalu saya lewati ketika hendak pergi dan pulang. Panas terik, hujan lebat pasti dialami setiap hari, saya tidak tahu berapa lama lagi anjing itu harus hidup dengan penderitaan seperti itu. Bagi sebagian orang, anjing adalah penjaga rumah yang paling baik, tidak lebih dari itu. Bagi sebagian lagi, anjing adalah sahabat setia, seperti kata pepatah, dogs are man’s best friend. Anjing biasanya setia sampai mati pada pemiliknya. Tidak hanya itu, beberapa anjing juga bisa memiliki sifat bersimpati dan mengasihi. Satu dari anjing kami begitu sensitif. Setiap melihat istri saya kesakitan atau sedang sedih, maka ia akan segera menghampiri, memegang tangan istri saya dan menjilatinya. Orang bisa sangat sayang pada binatang peliharaannya, bisa pula begitu kejam terhadap binatang. Bukan pemandangan baru lagi bagi kita ketika melihat orang melempari anjing, kucing, atau ayam dengan batu. Saya jadi ingat sebuah program di Animal Planet yang berjudul “Animal Precinct”, sebuah reality show yang menyoroti pekerjaan “animal cops” alias polisi khusus hewan dalam menangkap orang-orang yang berlaku kejam terhadap hewan peliharaan mereka. Acara ini menjadi sebuah “melting pot” antara penyayang binatang dan orang-orang yang bukan. Komentar seperti “come on, it’s just a pet..” sering terdengar sebagai pembenaran dari orang-orang yang jahat ini. Memang, binatang bukan manusia. Tetapi apakah itu pantas menjadi alasan untuk memperlakukan mereka ini dengan semena-mena? Seharusnya tidak. Karena lihatlah, Tuhan sendiri begitu peduli terhadap binatang.

Ada pesan Tuhan kepada Musa yang menyangkut hukum perlindungan, dimana hukum ini juga menyinggung sampai kepada binatang. “Enam harilah lamanya engkau melakukan pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh haruslah engkau berhenti, supaya lembu dan keledaimu tidak bekerja dan supaya anak budakmu perempuan dan orang asing melepaskan lelah.” (Keluaran 23:12). Tuhan tidak ingin binatang ternak seperti lembu dan keledai dipekerjakan secara berlebihan tanpa diberi waktu cukup untuk beristirahat. Dalam bahasa Inggris bagian ini terlihat lebih jelas. “Six days you shall do your work, but the seventh day you shall rest and keep Sabbath, that your ox and your donkey may rest” Jelas sekali Tuhan begitu peduli kepada kelangsungan hidup binatang sekalipun, yang juga merupakan kreasi dan ciptaanNya yang luar biasa. Beberapa ayat sebelumnya juga menggambarkan hal ini. “Apabila engkau melihat lembu musuhmu atau keledainya yang sesat, maka segeralah kaukembalikan binatang itu. Apabila engkau melihat rebah keledai musuhmu karena berat bebannya, maka janganlah engkau enggan menolongnya. Haruslah engkau rela menolong dia dengan membongkar muatan keledainya.” (ay 4-5). Keselamatan binatang adalah lebih penting dari hubungan permusuhan sekalipun. Ini pesan yang penting dari Tuhan agar kita tidak menganggap binatang semata-mata hanya sebagai benda yang tidak punya arti dan bisa diperlakukan seenaknya. Bahkan dalam pasal pertama kitab Kejadian, Tuhan sudah berpesan mengenai hal ini. “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. (Kejadian 1:28). Berkuasa atas ikan, burung dan binatang di atas bumi bukan berbicara mengenai penindasan atau penyiksaan semena-mena, namun berbicara mengenai perintah untuk mengurus dengan baik. Kelangsungan hidup hewan-hewan ini terletak di pundak kita manusia. Ada banyak hewan yang hampir punah, dan hewan-hewan ini butuh usaha sungguh-sungguh dari manusia yang berakal budi untuk menjaga kelestariannya.

Dalam kisah Yunus pun kita melihat tingginya kepedulian Tuhan terhadap binatang. Ayat terakhir dari kitab Yunus berbunyi sebagai berikut: “Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?” (Yunus 4:11). Lihatlah bahwa Tuhan tidak mau berpangku tangan dan membiarkan kehancuran menimpa sebuah kota besar. Bukan saja banyak penduduknya, tapi ada banyak juga ternak disana yang bisa ikut kena getah akibat kelakuan penduduk Niniwe yang tidak bisa membedakan yang baik dan yang jahat. Tuhan peduli kepada binatang, dan sudah sepantasnya kita pun peduli. Tuhan mengasihi mereka, kita pun sudah sepantasnya demikian. Ayat Yunus ini menggambarkan kasih Tuhan yang tidak hanya berhenti pada manusia semata, tapi juga kepada ternak dan hewan-hewan. Meskipun manusia dan binatang itu berbeda, namun Tuhan memberi perhatian kepada keduanya. Sebuah pesan penting pun hadir. Jika kepada hewan saja Tuhan begitu peduli, apalagi kepada kita, manusia yang telah dianugerahkanNya keselamatan lewat kematian anakNya yang tunggal di atas kayu salib. Karenanya, janganlah berlaku kejam terhadap binatang, dan jangan pernah takut menjalani hidup. Ini dua pesan penting dalam renungan hari ini. Tuhan memberkati.

Tuhan sangat peduli pada kita, dan meminta kita untuk peduli pada ciptaanNya

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply