Penyamun

Ayat bacaan: Yeremia 7:11
===================
“Sudahkah menjadi sarang penyamun di matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini? Kalau Aku, Aku sendiri melihat semuanya, demikianlah firman TUHAN.”

Kata penyamun mungkin sudah jarang kita dengar. Tetapi dahulu kata ini cukup sering dipakai baik dalam percakapan sehari-hari, di film-film nasional tempo dulu atau bahkan dalam karya-karya sastra klasik seperti misalnya tulisan buah karya Sutan Takdir Alisjahbana yang berjudul “Anak Perawan di Sarang Penyamun”. Kalau kita mencari definisi kata penyamun menurut kamus, maka disana kita akan mendapatkan bahwa kata penyamun itu adalah perampok, perampas yang suka bersembunyi di semak-semak dalam menunggu mangsanya. Dalam bentuk akar kata kita pun bisa melihat kemana kata penyamun itu mengarah seperti yang bisa dilihat dalam gambar ilustrasi hari ini. Bajak laut, itu pun sama penyamun juga karena mereka menunggu musuh melintas di laut tempat wilayah kekuasaan mereka, kemudian menjarah korbannya tanpa ampun. Kalau begitu jelas, sarang penyamun tentu bukanlah tempat yang aman atau baik bagi kita. Alkitab  menyebutkan kata sarang penyamun pula, yang ternyata mengacu kepada sikap yang dimiliki bukan oleh orang asing, tetapi justru oleh sebagian orang-orang percaya sendiri.

Mari kita lihat dalam Injil Matius 21:12-17 yang mencatat kisah kemarahan Yesus ketika mendapati Bait Allah dipakai secara tidak pantas. Sudah seperti pasar saja layaknya, karena ada penjual dan pembeli berkumpul disana. Bukan saja penjual dan pembeli, tetapi meja-meja penukar uang atau money changer pun lengkap tersedia. Yesus pun menjungkir balikkan meja-meja dan bangku para pedagang disana, “dan berkata kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” (Matius 21:13). Perhatikan hal menarik ini.Yesus tidak marah ketika dia difitnah, ditinggalkan, disiksa sedemikian rupa bahkan hingga disalib sampai mati. Satu-satunya hal yang membuat Yesus marah besar adalah ketika orang menjadikan Bait Allah sebagai tempat berdagang, tempat mencari untung.

Mengapa Yesus sampai marah? Jika kita perhatikan, Yesus mengatakan bahwa Bait Allah itu adalah diriNya sendiri. “Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.” (Yohanes 2:21). Dengan demikian jelaslah mengapa Yesus sampai harus marah ketika Dia melihat orang-orang berdagang alias mencari untung disana. Betapa tidak. Dia begitu mengasihi kita, dan rela menjalani semua rangkaian proses yang mengerikan demi menyelamatkan kita, tetapi alangkah keterlaluan ketika sebagian diantara kita sama sekali tidak menghargai itu semua malah sibuk mencari keuntungan diri sendiri. Dan sadar atau tidak, faktanya memang seperti itu. Ada banyak orang yang memiliki tujuan dan agenda tersendiri ketika datang kepada Yesus dengan beribadah ke gereja. Ingin ditolong dari kesulitan finansial, ingin bisnisnya sukses, mencari jodoh dan lain-lain bisa menjadi dasar kedatangan mereka dan bukan karena mengasihi Yesus. Yang lebih memperihatinkan lagi, ada gereja-gereja yang berpusat pada untung rugi duniawi dalam menjalankan misinya dengan menjanjikan segala sesuatu mulai dari berkat sampai kesembuhan sebagai alat ‘promosi’ mereka. Dan disana Yesus dipergunakan hanya bagaikan sebuah produk yang menjanjikan keuntungan duniawi saja. Dan terhadap gereja atau oknum-oknum yang menjalankan fungsi bait Allah seperti layaknya pasar ini, Yesus benar-benar marah. Memang benar, segala sesuatu bisa diberikan Tuhan. Tuhan bisa menyediakan itu semua, bukan hanya sekedar menyediakan tetapi menyediakannya secara berkelimpahan. Tetapi alangkah kelirunya apabila kita menjadikan itu sebagai motivasi utama kita dalam mengikutiNya. Betapa kecewanya Yesus melihat sikap dan perilaku seperti ini dari manusia yang dikasihiNya. Tidaklah heran jika Dia kecewa dan menjadi begitu marah. Lalu sebutan sarang penyamun pun kemudian hadir dari Yesus sendiri ditujukan kepada orang-orang yang hanya sibuk mencari untung kepadaNya.

Kemarahan Yesus itu menggambarkan dengan jelas bagaimana murka Allah turun kepada orang-orang yang bersikap tidak pantas seperti itu. Dalam Perjanjian Lama pun kita bisa melihat kemarahan Tuhan ketika BaitNya dijadikan sebagai sarang penyamun. “Sudahkah menjadi sarang penyamun di matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini? Kalau Aku, Aku sendiri melihat semuanya, demikianlah firman TUHAN.” (Yeremia 7:11). Ini adalah sebuah pelanggaran berat yang membawa konsekuensi berat pula. Di dalam Alkitab ada setidaknya beberapa hal yang akan terjadi pada kita apabila kita hidup menjadi sarang penyamun dan memperlakukan bait Allah dengan tidak pantas, yaitu:
– Tuhan akan melemparkan kita dari hadapanNya. (Yeremia 7:15)
– Murka dan kemarahanNya akan tercurah secara menyala-nyala dan tidak padam-padam. (Yeremia 7:20)
– Tuhan menjauhkan diriNya dari kita (Yehezkiel 8:6)
– Tuhan siap membalas dalam kemurkaanNya (Yehezkiel 8:18)
– Tidak lagi sayang kepada kita (Yehezkiel 8:18)
– Tidak lagi mau mendengarkan kita (Yehezkiel 8:18)
– Kemuliaan Tuhan meninggalkan kita (Yehezkiel 10:1-22)

Lihatlah bagaimana beratnya konsekuensi yang harus ditanggung apabila kita menjadi orang-orang yang mendasarkan hubungan kepada Tuhan dengan didasarkan pada tujuan untuk mencari untung semata. Kecenderungan manusia hari-hari ini adalah hanya memikirkan kehidupan di dunia ini yang sesungguhnya hanyalah sementara atau fana, dan lupa untuk memikirkan kehidupan selanjutnya yang justru kekal sifatnya. Mari hari ini kita perhatikan benar motivasi kita ketika beribadah, ketika mencariNya dalam doa, perenungan, saat teduh maupun pujian dan penyembahan. Yesus sudah mengasihi dan menyelamatkan kita lebih dulu ketika kita masih berdosa (Roma 5:8), karena itu mari miliki motivasi yang benar dalam membangun hubungan denganNya.

Konsekuensi berat harus ditanggung jika kita menjadi sarang penyamun

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: