Saturday, 01 November 2014

Pentas Seni Lima Gunung pada Puncak Perayaan 100 Tahun Seminari Mertoyudan (1)

Ratusan petani dengan kostum berbagai kesenian berjajar di jalan utama memasuki kompleks berpepohonan rindang yang dipenuhi ribuan umat, ketika misa akbar puncak perayaan Seabad Seminari Mertoyudan dipimpin Uskup Agung Semarang Monsinyur Johannes Pujasumarta hampir rampung.

Mereka membentuk pagar betis sepanjang sekitar 100 meter untuk menghadang umat agar tidak melewati jalan beraspal itu tatkala rombongan sejumlah uskup, termasuk Kardinal Julius Darmaatmaja, diarak dari altar menuju panggung dengan intalasi bahan alam untuk pementasan kolosal “Ensiklopedia Agrobudaya”.

Begitu dua lagu terakhir misa itu, “Gereja Bagai Bahtera” dan “Mars Seminari”, rampung dikumandangkan oleh kelompok paduan suara dengan kemegahan ensambel musiknya di dekat altar, para seniman petani menyambungnya melalui lantunan tabuhan gamelan mereka dari atas panggung seluas 150 meter persegi.

Asap kemenyan di dalam tempayan yang dibawa seorang petani, Cipto pun mengepul, sedangkan seorang lainnya Supadi Haryono menaburkan bunga mawar merah putih sepanjang perarakan para uskup tersebut.

Sejumlah tokoh seniman petani Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Magelang seperti Sitras Anjilin, Sumarno, Ismanto, Pangadi, penari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Nana Ayomsari, dan dua penyair Dorothea Rosa Herliany serta Atika mengiring perarakan sebagai rangkaian pembuka pergelaran “Ensiklopedia Agrobudaya” yang ditonton berdesakan para umat berasal dari berbagai tempat yang memadati kompleks seminari itu.

Panas terik satu jam menjelang tengah siang itu seakan menjadi tidak terasakan ribuan orang saat prosesi tersebut. Apalagi halaman kompleks pendidikan awal calon imam Katolik di tepi Jalan Raya Magelang-Yogyakarta itu penuh dengan pepohonan yang rindang.

Siang itu, keluarga besar Seminari Menengah Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menggelar puncak rangkaian perayaan ulang tahun ke-100 lembaga pendidikan tersebut. Berbagai kegiatan telah mereka selenggarakan selama setahun terakhir untuk merayakan peristiwa penting itu.

Seminari Mertoyudan yang dirintis oleh misionaris Belanda Romo F. Van Lith telah melahirkan puluhan ribu alumni yang kemudian sebagian menjadi pastor dan beberapa di antara mereka berlanjut sebagai uskup yang saat ini berkarya di beberapa daerah di Indonesia, termasuk dua kardinal yakni Justinus Darmayuwono (almarhum) dan Julius Darmaatmaja.

Alumni seminari Mertoyudan juga menjadi para awam dan tokoh Katolik yang melalui profesi masing-masing, tersebar di berbagai tempat di dunia. Saat ini, seminari setempat merengkuh sekitar 300 kaum muda Katolik untuk menelusuri panggilan khusus sebagai imam Katolik.

Usia seabad Seminari Mertoyudan jatuh pada 30 Mei 2012, sedangkan puncak perayaan 100 tahun itu berlangsung pada Sabtu (2/6) antara lain melalui misa akbar dipimpin Uskup Agung Semarang Monsinyur Johannes Pujasumarta dan pergelaran seni budaya kolosal bertajuk “Ensiklopedia Agrobudaya” digarap oleh Sutanto Mendut, pemimpin tertinggi kelompok seniman petani yang tergabung dalam Komunitas Lima Gunung Magelang.

Mereka yang hadir pada puncak perayaan seabad Seminari Mertoyudan dengan tema besar “Setia Menyemai Benih Panggilan” itu antara lain para romo provinsial, umat Katolik, para seminaris (siswa seminari), orang tua, wali, dan keluarga seminaris, imam, bruder, frater, suster, serta alumni.

Pada masa lalu, kata Uskup Pujasumarta saat khotbah misa itu, Romo Van Lith menyelami kebudayaan Jawa untuk mewartakan kabar gembira keselamatan dari Yesus.

“Romo Van Lith pergi ke tempat yang dalam, ke dalam kebudayaan Jawa sehingga pelajarannya sangat hidup,” katanya.

Uskup Pujasumarta pun di atas panggung “Ensiklopedia Agrobudaya” Komunitas Lima Gunung didaulat membuka pergelaran tersebut didampingi Sutanto Mendut, dengan memukul gong yang dipegang seorang seniman petani berpakaian tarian tradisional Gunung Merbabu “Soreng”, Parmadi.

“Kita buka pentas seni Lima Gunung siang ini (2/6). ’Lima roti menjadi lima gunung’,” katanya disambut tepuk tangan para penonton.

Sutanto menimpali sambutan Uskup Pujasumarta melalui pernyataan terima kasih komunitas seniman petani lima gunung karena berkesempatan menyuguhkan karya mereka dalam peristiwa penting itu.

“Siang ini (2/6), kami dari dusun-dusun di lima gunung mendapat kesempatan penting untuk bergaul dengan seminaris yang sedang merayakan puncak seabad berdirinya Seminari Mertoyudan,” katanya.

Kredit foto : Damar, Antara

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Pentas Seni Lima Gunung pada Puncak Perayaan 100 Tahun Seminari Mertoyudan (1)"

Response on "Pentas Seni Lima Gunung pada Puncak Perayaan 100 Tahun Seminari Mertoyudan (1)"