Penolakan? Siapa Takut!

Ayat bacaan: Lukas 13:33
========================
“Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem.”

ditolak, penolakan, salesman

Kemarin ketika saya sedang dijalan saya melihat seorang pemuda berdasi dengan membawa tas menyeberang jalan. Dari penampilannya saya bisa menebak bahwa ia adalah seorang salesman. Untuk menjadi seorang salesman tidaklah mudah. Butuh mental baja dan kesabaran segudang untuk berhasil melakukan transaksi. Ditolak dan gagal adalah makanan sehari-hari yang harus mereka telan. Saya kemudian teringat kisah seorang pengusaha sukses yang mengawali karirnya justru sebagai seorang salesman. Dia menjalani pekerjaan itu tidak kurang dari 5 tahun di kota besar yang sama sekali asing baginya. Jangankan relasi, pelanggan atau network, yang dikenal saja tidak ada pada awal karirnya. Tapi kegigihan dan fokus pada tujuan membuatnya mampu bertahan. “Saya sendiri ditolak tidak apa-apa. Tidak boleh ada beban dalam menjual. Jika ada beban, maka kita akan menemui masalah ketika ditolak. Saya bekerja sebagai sales, tugas saya menawarkan barang. Jika yang satu tidak mau, masih ada ratusan orang lain yang mungkin mau.” begitu katanya. Dan dengan kegigihannya, akhirnya dia bisa menjadi seorang pengusaha sukses dengan karyawan ratusan orang saat ini.

Hal yang sama pun dilakukan oleh Tuhan Yesus semasa di dunia. Bukan satu dua kali Yesus mengalami penolakan, baik saat mengajarkan Injil maupun ketika melakukan mukjizat. Ada yang pernah berniat menjatuhkanNya dari tebing (Lukas 4:29), ancaman dibunuh Herodes jika masih bersikeras memasuki Yerusalem (Lukas 13:31), persekongkolan orang Farisi yang gerah atas sepak terjang Yesus untuk mencobai (Matius 16:1) bahkan untuk membunuhNya (Matius 3:6) seperti yang sudah saya sebutkan pada renungan kemarin. Tapi semuanya tidak menciutkan nyali Yesus untuk terus melakukan pelayanan. Mengapa? Karena Dia datang untuk menyelesaikan kehendak BapaNya, bukan hal lain. “Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku”. Itulah kehendak Bapa, dan itu menjadi fokus Yesus. Maka penolakan, gugatan, dan ancaman-ancaman tidaklah menjadi kendala bagiNya, bahkan ketika Dia disiksa dan wafat di kayu salib, semua Dia lakukan dengan patuh, karena itulah kehendak Bapa yang mengutusNya untuk turun ke bumi demi menyelamatkan kita semua dari kematian.

Penolakan dan berbagai kegagalan dalam hidup jangan sampai membuat kita patah semangat. Sebaliknya justru harus dijadikan pengalaman dan pembelajaran berharga agar kita bisa mencapai tujuan. Pengusaha yang saya ceritakan diawal berkata “saya bersyukur jadi sales, karena bisa berkeliling kemana-mana. Dan dari situ saya justru belajar kenapa mereka menolak untuk membeli produk kami.” Ya, menghadapi kegagalan pun pantas disyukuri, karena ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari kegagalan. Jika Thomas Alva Edison cepat menyerah, kita mungkin belum menikmati lampu hingga hari ini. Jika Yesus menyerah saat menghadapi tekanan dan penolakan, maka kita tidak akan selamat dan tidak dapat merasakan hadirat Tuhan yang luar biasa hingga hari ini. Kehendak Tuhan dalam hidup kita adalah yang terbaik buat kita, meskipun dalam perjalannya terkadang kelihatannya sulit dan penuh hambatan. Ketika kita menghadapi penolakan baik dalam pekerjaan, kehidupan ataupun pelayanan, saat kita melakukan apapun dan terbentur pada penolakan atau kegagalan, jangan pernah menyerah!

Kegagalan hanyalah sukses yang tertunda. Belajarlah dari segala kegagalan untuk mencapai kesuksesan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply