Penghalang Pandangan

Ayat bacaan: Lukas 24:16
====================
“Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.”

penghalang pandangan

Ada satu pengalaman saya dalam meliput sebuah event yang terasa sangat mengesalkan tetapi sekaligus lucu untuk diingat. Pada waktu itu panitia ternyata tidak menyediakan ruang pers dimana saya dan rekan-rekan kerja bisa duduk menulis liputan. Bahkan mencari colokan kabel untuk laptop pun susahnya bukan main. Setelah berkeliling di seputaran lokasi yang sangat luas, akhirnya kami pun menemukan sebuah pos satpam yang masih ditutupi seng. Disana ada colokan yang ada aliran listriknya. Maka disanalah kami kemudian bermarkas sepanjang acara, dengan kondisi tidak bisa melihat apa-apa karena sekelilingnya tertutup seng. Lebih dari 12 jam kami berada disana tanpa melihat apapun selain selembar seng tepat di depan mata kami. Beberapa kali saya dan rekan-rekan tertawa jika mengingat kejadian itu. Acara tepat ada di depan mata, suara jelas terdengar, tetapi kami tidak bisa melihat apapun karena pandangan kami terhalang oleh selembar seng tipis saja.

Pandangan bisa terhalang ketika ada sekat yang menutupi jarak pandang kita. Bukan saja dalam kehidupan nyata secara fisik itu bisa kita alami, tetapi secara spiritual kita pun bisa mengalami hal yang sama. Kita tahu Tuhan ada, tetapi kita tidak mampu melihat sosok Tuhan dan kasih serta kebaikanNya secara benar. Ada sesuatu yang menghalangi pandangan iman kita sehingga kita pun lalu ragu bahkan hidup bagai tanpa semangat dan harapan. Dan penghalang itu tidak selalu harus sesuatu yang besar. Hal yang sangat kecil sekalipun jika tidak hati-hati bisa menutup pandangan kita dari Tuhan. Sebuah kisah penampakan Yesus setelah kematianNya di atas kayu salib berikut menggambarkan hal itu.

Belum lama. Baru saja tiga hari Yesus meninggalkan mereka. Itu waktu yang amat sangat singkat bukan? Bayangkan jika orang tua anda keluar kota selama tiga hari, apakah anda akan lupa kepada wajah mereka? Rasanya tidak mungkin kita tidak mengenal Sosok yang sudah sekian lama bersama-sama dengan kita yang baru beberapa hari meninggalkan kita. Tapi itulah yang terjadi. Pada suatu hari dua murid Yesus sedang berjalan menuju sebuah kampung yang letaknya kurang lebih 11 kilometer dari Yerusalem. Mereka sibuk membicarakan dan membahas apa yang terjadi. Saya yakin pada saat itu mereka sedang bingung, kalut, mungkin cemas, putus asa  dan tidak tahu harus berbuat apa setelah mendengar berita simpang siur mengenai hilangnya mayat Yesus dari kubur. Mereka tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, apakah diculik, atau bangkit seperti kesaksian beberapa perempuan yang bertemu dengan malaikat penyampai kabar itu. Mereka mungkin kehilangan harapan, kecewa dan sedih, bahkan mungkin ketakutan. Dan Alkitab mencatat sesuatu yang menarik setelahnya. “Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.” (Lukas 24:15). Yesus muncul tepat disamping mereka! Harusnya mereka tersentak kaget, bersorak dan menyambut Yesus dengan sangat gembira. Tapi itukah yang terjadi? Ternyata bukan. Yang terjadi adalah mereka ternyata tidak mengenal Yesus. Mengapa bisa demikian? Alkitab memberikan alasannya. “Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.” (ay 16). Ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, demikian kata Alkitab, sehingga mereka tidak mengenal Yesus. Ada awan tebal dan gelap yang menutupi pandangan mereka sehingga mereka tidak bisa melihat Terang. Mereka belum juga sadar bahkan ketika Yesus sudah menegur mereka dan menjelaskan nubuatan-nubuatan yang tertulis tentang Dia dalam kitab nabi-nabi. (ay 25-27). Sampai disitu mereka masih belum mengenal Yesus. Baru ketika mereka tiba di kampung dan Yesus mengambil roti dan memecah-mecahkan sambil mengucap berkatlah mereka menyadari bahwa orang yang berjalan bersama mereka sejak tadi ternyata Yesus. Bayangkan dalam perjalanan 11 kilometer panjangnya mereka tidak kunjung menyadari bahwa Yesus yang mereka perbincangkan ternyata ada ditengah-tengah mereka. Kebingungan, keraguan, kekecewaan, kesedihan, atau ketakutan menutupi pandangan mereka, membuat mereka tidak mengenali Yesus, meski Yesus berada tepat bersama mereka.

Ketika kita bergumul dengan berbagai permasalahan kehidupan, tekanan, masalah, pergumulan atau beban-beban, kita pun bisa mengalami hal yang sama seperti murid-murid Yesus di atas. Kita tidak lagi mendengar atau mengenali tuhan lagi. Kita lupa seperti apa kasih dan kebaikan Tuhan, kita mulai meragukan itu semua bahkan meragukan keberadaanNya di tengah-tengah kita. Ketika jalan yang kita lalui begitu banyak liku-likunya, kita pun tidak lagi percaya bahwa Tuhan telah menyediakan segala kebaikan di ujung jalan itu. Lalu kita putus asa, kehilangan harapan, dan mulai menuduh Tuhan tidak menepati janji, malah bisa jadi, kita kemudian jatuh ke dalam berbagai alternatif yang menyesatkan dan membinasakan. Padahal kesalahan bukanlah di pihak Tuhan. Masalah ada pada fokus kita terhadap beban penderitaan yang terlalu besar yang menutupi pandangan kita sehingga kita tidak lagi mengenal Dia. Bahkan setelah mendengar firman Tuhan sekalipun, orang-orang yang fokus sepenuhnya hanya kepada permasalahan dan beban berat tidak lagi bisa merasakan apapun, sebab awan tebal itu telah terlanjur menutupi hati mereka.

Tuhan sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita seperti yang bisa kita baca dalam Yosua 1:5: “…seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau”, dan Tuhan akan selalu setia akan janjiNya. Ketika Dia berkata “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28), Dia pun pasti akan teguh dengan janjiNya. Kita harus memastikan betul bahwa fokus pandangan kita dalam memandang ke depan bebas dari segala sekat yang merintangi atau membatasinya. Agar bisa tetap melihat dan mengenal Tuhan kita harus memiliki pandangan yang bersih dari segala hambatan yang menutupi pandangan kita. Singkirkan semua awan kelabu, dan miliki pandangan jernih tentang janji Allah.

Jangan biarkan hal-hal negatif menghalangi pandangan anda untuk melihat kebaikan dan kasih Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: