Penggelembungan Uang

Ayat bacaan: Lukas 3:13
===================
“Jawabnya: “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.”

Saya masih ingin melanjutkan soal kecurangan dari sisi lain yang seringkali dianggap orang sebagai hal yang wajar, yaitu penggelembungan dana. Banyak orang yang menganggap perbuatan ini bukan korupsi tetapi sebuah kewajaran. Melebihkan dari tagihan yang sebenarnya, yang bisa tidak terlihat karena tulisan di bon atau nota yang sudah disesuaikan dengan penjual. Pada suatu kali saya memerlukan bon ketika mengisi bensin karena ingin mencatat pengeluaran bulanan secara lebih jelas. Sebelum mencantumkan angka, petugasnya bertanya: “Mau ditulis berapa pak?” Dia malah merasa aneh ketika saya minta mengisi angka tepat seperti yang dibayarkan. Kalau dalam hal kecil seperti itu saja orang sudah terpikir untuk menggelembungkan uang, bisa dibayangkan apa jadinya pada proyek-proyek yang jauh lebih besar yang membutuhkan dana milyaran. Ketika penggelembungan dana dilakukan disana, berapa besar uang rakyat yang seharusnya dikembalikan kepada masyarakat lewat pendidikan, pembangunan dan kesejahteraan lainnya tapi masuk ke kantong pribadi atau golongan? Ada pula yang menagih lebih besar supaya ada sebagian yang masuk ke kantong pribadi. Hal-hal seperti ini dianggap wajar karena kita terbiasa dengan yang namanya uang jasa yang sangat relatif dan tidak pernah dirasa cukup. Atas sesuatu yang dilakukan harus ada imbalan, jadi wajar kalau angkanya dinaikkan sedikit. Semakin banyak yang minta jatah semakin besar pula kenaikan angkanya. Maka kita melihat perbuatan ini dilakukan mulai dari masyarakat bawah hingga pejabat dengan nilai uang yang jaraknya sangat besar. Dari ribuan rupiah, puluh-ribu, ratus ribu, juta sampai milyar bahkan triliunan.

Perbuatan ini mungkin wajar bagi sebagian orang terutama yang terbiasa melakukan, tetapi sebenarnya Alkitab dengan tegas melarang kita untuk melakukan seperti itu. Ada kisah mengenai hal ini dalam Alkitab yaitu pada masa Yohanes Pembaptis.  Ketika Yohanes datang ke sungai Yordan untuk membaptis, datanglah beberapa pemungut cukai alias penagih pajak. Mereka mengajukan pertanyaan kepada Yohanes. “Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: “Guru, apakah yang harus kami perbuat?” (Lukas 3:12). Yohanes pun menjawab: “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.” (ay 13). Dari jawaban Yohanes, kita bisa melihat bahwa pada saat itu pun sebenarnya korupsi dengan cara menggelembungkan uang sudah terjadi. Tampaknya para pemungut cukai waktu itu sudah memiliki kebiasaan untuk memungut lebih dari yang seharusnya demi keuntungan pribadi. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan ada banyak kisah mengenai pemungut cukai dalam Alkitab yang menunjukkan mereka sebagai orang-orang dengan profesi yang dibenci sesamanya. Mereka sering disamakan dengan orang berdosa (Matius 9:11), orang yang tidak mengenal Allah (Matius 18:17) dan sebagainya. Para pemungut cukai atau pajak di jaman sekarang pun banyak yang masih melakukannya bukan? Ternyata ini bukanlah masalah baru melainkan sudah terjadi sejak ribuan tahun lalu.

Apakah kita boleh menggelembungkan nilai uang untuk keuntungan pribadi? Apakah kita memang harus melakukan demikian agar bisa berkecukupan? Apakah tanpa melakukan kecurangan dan memilih kejujuran kita pasti miskin dan susah? Itu bukanlah pemahaman yang benar dalam kekristenan. Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk berbuat curang, walau sekecil apapun. Berkat bukan berasal dari dunia melainkan dari Tuhan, dan kita harus tahu dan percaya bahwa Dia sanggup memberkati kita lebih dari apapun. Itu justru akan Dia berikan apabila kita hidup jujur, bersih dalam ketaatan sepenuhnya kepadaNya.

Apa yang terjadi ketika kita melakukan kecurangan seperti itu adalah kita hanya mendapat sedikit ‘remah-remah’ tapi kehilangan hak-hak kesulungan kita. Bandingkan dengan berbuat jujur dan menerima berkat dari Tuhan secara penuh bahkan melimpah tanpa kehilangan hak-hak sulung, itu tentu sangat tidak sebanding. Perhatikan firman Tuhan berkata “Orang benar makan sekenyang-kenyangnya, tetapi perut orang fasik menderita kekurangan.” (Amsal 13:25). Tuhan sudah memberi janji bagi orang benar bahwa mereka akan dicukupkan, bahkan bukan sekedar cukup tapi bisa makan sekenyang-kenyangnya. Di lain pihak orang yang terus berlaku curang bukannya untung tapi kelak malah buntung. Selain hukuman di dunia jika ketahuan, penghakiman Tuhan pun akan menjadi sesuatu yang nanti harus dipikul.

Penggelembungan harga atau uang sebagai salah satu bentuk korupsi mungkin sepintas terlihat menjanjikan keuntungan instan, tetapi akan membawa konsekuensi berat. Ada begitu banyak pejabat yang sekarang harus meringkuk di dalam penjara karena kejahatannya terbongkar lalu istri dan anak-anaknya pun tidak lagi bisa hidup tenang. Kalau di dunia saja Kita sudah harus menanggung konsekuensi akibat tindakan itu, bagaimana dengan keselamatan dalam hidup yang kekal kelak? Bukankah sebuah kebodohan jika kita sibuk mengejar kepentingan sesaat lalu membuang segala janji Tuhan kepada anak-anakNya yang hidup benar sesuai ketetapanNya?

Kalaupun orang dunia masih banyak yang menganggap hal ini sebagai sebuah kewajaran, kita tidak perlu ikut-ikutan melakukan itu. Lewat janji-janji Tuhan kita tahu bahwa Dia siap untuk memberkati kita berkelimpahan. Tuhan akan selalu punya jalan untuk memberkati orang-orang yang memilih hidup jujur dan benar. Perhatikan ayat berikut ini: “Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin.” (Yesaya 33:15-16).

Mulailah dari diri kita sendiri untuk menghindari berbagai bentuk penyelewengan atau kecurangan dalam bekerja. Mulailah mengambil langkah sederhana dengan tidak memberi toleransi pada korupsi sekecil apapun. Hindari pikiran-pikiran untuk berbuat curang, termasuk menggelembungkan uang untuk kepentingan pribadi atau golongan. Sekali lagi, Tuhan tidak akan pernah kekurangan jalan untuk memberkati kita dengan berlimpah.

Kecil atau besar, korupsi akan selalu merupakan perbuatan yang dibenci Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: