Penggelembungan Dana

Ayat bacaan: Lukas 3:13
===================
“Jawabnya: “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.”

Penggelembungan dana proyek atau dana apapun sudah menjadi sebuah kebiasaan begitu banyak orang hari ini, mulai dari yang relatif kecil seperti supir yang meminta petugas pom bensin menulis bon lebih dari jumlah liter yang diisi sampai proyek-proyek besar berjumlah milyaran atau trilyunan. Semua itu sepertinya wajar saja bagi kita. “Wajar dong saya menaikkan harganya, siapa sih hari ini yang tidak melakukan itu? Cuma orang bodoh dan sok jujur yang seperti itu..rugi sendiri.” kata seseorang yang saya kenal sambil tertawa ketika ia melakukan penggelembungan dana secara terang-terangan di depan beberapa orang, termasuk saya. Bahasa yang dipakai pun macam-macam. Ada yang menyebutnya uang kopi, uang rokok, atau yang agak lebih ‘keren’ dalam kasus suap wisma atlit yang sempat heboh disebut sebagai ‘apel washington’ untuk mata uang dollar dan ‘apel malang’ dalam satuan rupiah. Istilah-istilah itu dijadikan sebuah pembenaran agar penggelembungan harga beli dari kenyataan atau bentuk-bentuk suap menyuap menjadi berhak mereka peroleh bahkan dianggap sesuatu yang wajar hari-hari ini.

Hal seperti ini bukanlah bentuk penipuan baru. Setidaknya pada jaman Yohanes Pembaptis mulai melayani, pola seperti ini sudah ada. Kita bisa melihatnya dari sebuah kisah yang tertulis dalam Alkitab. Ketika Yohanes datang ke sungai Yordan untuk membaptis, datanglah beberapa pemungut cukai alias penagih pajak. Mereka mengajukan pertanyaan kepada Yohanes. “Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: “Guru, apakah yang harus kami perbuat?” (Lukas 3:12). Yohanes pun menjawab: “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.” (ay 13). Dari jawaban Yohanes, kita bisa melihat bahwa pada saat itu pun sebenarnya korupsi dengan sudah terjadi. Tampaknya para pemungut cukai waktu itu sudah memiliki kebiasaan untuk memungut lebih dari yang seharusnya, untuk keuntungan pribadi mereka. Maka tidak heran, ada banyak kisah mengenai pemungut cukai dalam Alkitab yang menunjukkan mereka sebagai orang-orang dengan profesi yang dibenci sesamanya. Mereka sering disamakan dengan orang berdosa (Matius 9:11), orang yang tidak mengenal Allah (Matius 18:17) dan sebagainya. Para pemungut cukai di jaman sekarang pun banyak yang masih melakukannya bukan? Ini masalah yang ternyata bukan hal yang baru terjadi akhir-akhir ini, tapi sudah merupakan bentuk penyelewengan selama ribuan tahun.

Apakah kita boleh menggelembungkan dana untuk keuntungan pribadi? Apakah kita memang harus melakukan demikian agar bisa hidup cukup? Apakah tanpa melakukan kecurangan dan memilih kejujuran kita pasti miskin dan susah? Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk berbuat curang, walau sekecil apapun. Tuhan bisa memberkati kita lebih dari apapun, dan itu justru akan Dia berikan apabila kita hidup jujur, bersih dalam ketaatan sepenuhnya kepadaNya. Baik yang disuap maupun yang menyuap sama-sama salah karena diperlukan peran keduanya dalam segala bentuk penyelewengan dana ini. “It takes two to tango”, kata peribahasa di luar sana. Bisa jadi kita mampu menjaga diri agar tidak menjadi “pelaku utama”, namun seringkali gagal menghindari menjadi “peran pembantu”. Atau kita mengira bahwa penggelembungan kecil itu tidak apa-apa. “hanya sejumlah kecil ini,kan tidak apa-apa?” kilah sebagian orang yang merasa bahwa dosa korupsi itu jumlahnya harus besar, katakanlah milyaran. Ingatlah di mata Tuhan korupsi tetap korupsi, berapapun nominalnya.

Firman Tuhan berkata: “Orang benar makan sekenyang-kenyangnya, tetapi perut orang fasik menderita kekurangan.” (Amsal 13:25). Lihatlah Tuhan sudah memberi janji bagi orang benar bahwa mereka akan dicukupkan, bahkan bukan sekedar cukup tapi bisa makan sekenyang-kenyangnya. Sementara orang yang terus berlaku curang bukannya untung tapi kelak malah buntung. Berbagai bentuk korupsi yang salah satunya lewat penggelembungan dana mungkin sepintas terlihat menjanjikan keuntungan instan, namun akibatnya bisa fatal. Ada begitu banyak pejabat yang sekarang harus meringkuk di dalam penjara karena kejahatannya terbongkar lalu istri dan anak-anaknya pun tidak lagi bisa hidup tenang. Kalau di dunia saja Kita sudah harus menanggung konsekuensi akibat tindakan itu, bagaimana dengan keselamatan dalam hidup yang kekal kelak? Tidakkah bodoh apabila kita hanya mengejar kepentingan sesaat lalu melupakan sesuatu yang sifatnya kekal dan akan berlaku selamanya? Kita tidak perlu melakukan itu, karena Tuhan selalu punya jalan untuk memberkati orang-orang yang memilih hidup jujur dan benar. Percayalah akan hal itu. Lihat apa yang disediakan Tuhan bagi orang benar. “Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin.” (Yesaya 33:15-16).

Kalaupun ada diantara teman-teman yang sudah terlanjur melakukan hal ini, bertobatlah segera. Sesungguhnya Tuhan telah menjanjikan sebuah pemulihan kepada yang bertobat dan berbalik dari jalan-jalan sesat. “Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, tentara-Ku yang besar yang Kukirim ke antara kamu. Maka kamu akan makan banyak-banyak dan menjadi kenyang, dan kamu akan memuji-muji nama TUHAN, Allahmu, yang telah memperlakukan kamu dengan ajaib; dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya.” (Yoel 2:25-26). Mulailah dari diri kita sendiri untuk menghindari berbagai bentuk penyelewengan atau kecurangan dalam bekerja. Mulailah mengambil langkah sederhana dengan tidak memberi toleransi pada korupsi sekecil apapun. Hindari pikiran-pikiran untuk berbuat curang. Sekali lagi, Tuhan tidak akan pernah kekurangan jalan untuk memberkati kita dengan berlimpah.

Kecil atau besar, korupsi tetap merupakan perbuatan yang sangat tidak disukai Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: