Pengampunan Itu Memerdekakan Iman

Ayat bacaan: Markus 11:25======================”Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.”Saya pernah bertemu de…

Ayat bacaan: Markus 11:25
======================
“Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.”

pengampunan memerdekakan iman

Saya pernah bertemu dengan seorang kakek tua yang dahulu pernah berjuang membela tanah air pada masa sebelum kemerdekaan. Ia bercerita betapa sakitnya menjadi bangsa terjajah pada waktu itu. “Kita tidak bisa apa-apa, hidup pada masa itu penuh ketakutan..” katanya. Ia pun sempat menceritakan bahwa saudari perempuannya diambil oleh tentara Jepang dan sejak saat itu tidak pernah ia dengar lagi beritanya. Berada di bawah penjajahan membuat kita terbatas dalam bergerak atau memperoleh sesuatu. Nyatanya hari ini di alam yang katanya merdeka pun kita masih sering terjajah oleh banyak hal. Dalam hal iman pun sadar atau tidak seringkali kita belum merdeka. Padahal Yesus sudah memerdekakan kita dari belenggu dosa ribuan tahun lalu. Jangan dulu menyalahkan orang lain, karena bisa jadi kita justru terjajah oleh keputusan-keputusan kita sendiri yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Itu menghalangi berkat dan jawaban Tuhan turun atas kita, membuat jarak kita terpisah begitu jauh dari Tuhan.

Lihatlah apa yang dikatakan dalam kitab Yesaya berikut. “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:1-2). Dosa-dosa yang kita biarkan terus bercokol di dalam diri kita bisa membuat doa-doa kita terhalang untuk mendapatkan jawaban. Itu merupakan penghalang hubungan kita dengan Tuhan. Perlakuan suami terhadap istri yang tidak bijaksana pun bisa menghalangi kita menjadi orang-orang yang merdeka secara iman. “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (1 Petrus 3:7). Selain itu, ada satu lagi penghambat doa-doa kita didengar Tuhan, yaitu ketika kita masih menyimpan dendam dan belum bisa memberikan pengampunan terhadap seseorang yang pernah melukai perasaan kita atau merugikan hidup kita.

Banyak orang lupa betapa eratnya hubungan antara iman dan pengampunan. Yesus pernah mengajarkan mengenai hubungan ini ketika memberi nasihat tentang doa (Markus 11:20-26). Syarat yang diberikan Yesus agar kita bisa memiliki iman yang sanggup mencampakkan gunung ke laut adalah keteguhan hati kita. Tidak bimbang, tetap percaya, maka hal itu akan terjadi. Demikian kata Yesus dalam ayat 23. Kemudian Yesus melanjutkan lewat ayat yang sudah begitu kita kenal dengan baik. “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (ay 24). Iman yang kuat akan membuat kita bisa percaya penuh kepada Tuhan. Tapi kemudian lihatlah ayat berikutnya. “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” (ay 25). Bahkan kemudian menekankan sekali lagi akan hal sebaliknya “Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” (ay 26). Rangkaian ayat ini menunjukkan sebuah kaitan yang sangat erat antara iman dan pengampunan. Sebelum kita berdoa, kita wajib terlebih dahulu mengampuni orang-orang yang masih mengganjal dalam hati kita. Artinya, doa hanya akan berakhir sia-sia jika kita belum melepaskan sakit hati atau dendam yang masih bercokol di dalam hati kita dan memberi pengampunan.

Tentu saja bukan kebetulan jika Yesus menopang gabungan kedua kalimat itu. Tuhan Yesus ingin kita sadar bahwa mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita adalah dasar utama untuk menerima sesuatu dari Tuhan. Tuhan sendiri sudah menunjukkan sikap tersebut terlebih dahulu. Dia selalu siap mengampuni kesalahan kita sebesar apapun. Tapi lihatlah bahwa itu bisa terjadi apabila kita mau mengampuni kesalahan orang. “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.” (Matius 6:14). Pesan yang sangat penting dikemukakan Yesus lewat sandingan ayat antara menerima apa yang kita doakan dengan memberikan pengampunan kepada orang-orang yang sudah menyakiti kita: Jangan berharap doa kita didengar jika kita masih menyimpan sakit hati dan dendam terhadap orang lain. Dengan kata lain, kita tidak akan dapat memperoleh pengabulan doa dan dendam dalam hati kita sekaligus.

Tuhan selalu memberi kesempatan bagi kita untuk bertobat. Dia memberikan pengampunan yang tidak terbatas. Sudah seharusnya kita pun berlaku sama terhadap sesama kita. Menyimpan dendam tidak akan membawa manfaat selain akan menimbulkan berbagai penyakit dan membuat kita tidak bisa melangkah maju. Selain itu, terus mendendam dan tidak mau mengampuni pun akan membuat doa-doa kita terhalang, membelenggu iman kita sehingga tidak bisa tumbuh bahkan menghilangkan kesempatan kita untuk menerima pengampunan dari Tuhan. Sungguh perihal pengampunan ini memegang peranan penting bagi pertumbuhan iman kita dan sangat menentukan terhadap apakah doa kita didengar Tuhan atau tidak. Saya tahu bahwa itu bisa sangat sulit, apalagi jika kita mengandalkan kekuatan diri sendiri untuk memberikan pengampunan. Orang bisa menyakiti kita begitu rupa sehingga hidup kita seolah berakhir sampai disitu, apalagi jika yang dilakukan menyisakan trauma dan penderitaan yang harus kita pikul untuk waktu yang lama. Tapi biar bagaimanapun sudah menjadi perintah Tuhan bagi kita untuk bisa mengampuni, dan karena itulah kita wajib mentaatinya. Kekuatan kita mungkin terbatas, tapi serahkanlah kepada Tuhan dan mintalah Roh Kudus untuk menguatkan diri kita hingga membuat kita sanggup memberikan pengampunan. Diri kita sendiri mungkin tidak sanggup, tapi Roh Kudus akan memampukan kita untuk melakukan sesuatu diluar batas kemampuan kita.

Sesungguhnya Tuhan tidak sabar untuk menyatakan kasihNya kepada kita. Dia tidak sabar untuk menjawab doa-doa kita yang tetap menanti-nantikan Dia tanpa putus pengharapan. “Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!” (Yesaya 30:18). Seandainya anda telah berdoa untuk sesuatu dan tidak kunjung memperoleh jawaban, tidak ada salahnya untuk kembali memeriksa hati anda. Jika anda menemui ganjalan terhadap seseorang, memiliki sakit hati atau dendam, segeralah bereskanlah itu terlebih dahulu. Mintalah Roh Kudus untuk membantu anda mengeluarkannya dari hati anda. Bebaskan iman anda dari belenggu kepahitan, sakit hati dan dendam, dan merdekakanlah iman anda dengan segera dengan memberi pengampunan. Maka anda pun akan segera menyaksikan bagaimana Tuhan menjawab doa-doa anda dengan begitu luar biasa, bahkan memenuhi anda dengan berkat dan karuniaNya yang melimpah.

Merdekakan iman kita lewat pengampunan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply