Pendengar Yang Baik

Ayat bacaan: Mazmur 116:1-2
========================
“Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku. Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya.”

pendengar yang baik

Selama saya mengajar, saya melihat bahwa seni berbicara memegang peranan penting dalam mengajar. Seberapa hebat kita memiliki ilmu, namun ketika kita tidak tahu bagaimana menyampaikannya dengan baik, maka semua ilmu yang kita miliki itu tidak akan bisa sampai secara baik kepada para murid. Tapi bukan itu saja. Ada satu hal lagi yang sangat penting, yaitu seni mendengar. Sebagai pengajar, saya harus meluangkan waktu untuk mendengar kesulitan atau keluhan anak-anak didik saya. Itu perlu, supaya saya tahu apa yang harus saya perbaiki atau bantu dari kelemahan mereka. Masing-masing orang pasti berbeda masalahnya, dan saya harus meluangkan waktu mendengar mereka satu persatu. Mungkin karena mereka tahu saya mau mendengar, banyak diantara mereka yang malah curhat mengenai hidup mereka, keluar dari konteks belajar. Akhirnya saya bisa melihat betapa banyaknya masalah di dalam kehidupan ini, dan tiap orang punya problema yang berbeda. Sesampainya di rumah, saya pun harus meluangkan waktu untuk mendengar istri saya. Bagi saya, saya tidak akan bisa menjadi suami/kepala rumah tangga yang baik jika saya tidak menyempatkan diri untuk mendengar istri saya. Mungkin ada masalah, mungkin bertanya ini itu, atau mungkin cuma menyempatkan diri ngobrol santai walaupun sebentar, itu semua adalah sangat penting. Lelah atau tidak, saya akan selalu berusaha meluangkan waktu untuknya.

Pernah suatu hari saya berpikir, mengapa Tuhan memberikan hanya satu mulut, tapi dua telinga. Yang saya dapatkan sebagai jawaban adalah, karena orang cenderung ingin didengar ketimbang mendengar. Orang lebih tertarik untuk berbicara dan didengar, tapi tidak begitu tertarik untuk mendengarkan. Bayangkan jika ada dua mulut, apa jadinya dunia? Satu saja sudah sulit untuk dikendalikan, apalagi dua. Indera pendengar dipasang Tuhan di kiri dan kanan dan karena segala yang diciptakan Tuhan itu baik adanya, maka sepasang telinga ini pun harusnya kita pergunakan dengan efektif untuk tujuan-tujuan yang baik. Dalam keluarga, kampus, sekolah atau lingkungan kerja, tetap saja ada orang-orang yang butuh pertolongan, dan salah satunya yang mungkin paling sulit untuk diperoleh adalah kehadiran seorang pendengar yang baik. Seringkali kita bisa memberi pertolongan maksimal bukan dengan menyumbang saran, melainkan ketika kita mendengarkan berbagai keluhan mereka dengan sabar. Menjadi ayah yang baik bukan hanya berbicara mengenai pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dari anak-anaknya, tapi juga harus menyediakan cukup waktu bagi keluarganya. Menjadi pendengar yang baik dari apa yang Tuhan katakan, juga apa yang keluarga katakan. Mengapa? Karena Tuhan pun selalu dengan penuh kasih mendengarkan kita. Lihatlah ayat bacaan hari ini Daud mengasihi Tuhan, sebab Tuhan selalu mau mendengarkan suaranya. “Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku. Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya.” (Mazmur 116:1-2).

Berkali-kali Yesus menyebutkan “siapa bertelinga hendaklah ia mendengar”. Tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia, termasuk di dalamnya telinga. Tapi seringkali kita mengabaikan fungsi telinga. Masuk kiri keluar kanan, atau bahkan pura-pura tidak mendengar sudah menjadi bagian hidup kita. Seni mendengar yang baik bukanlah sekedar mendengar dengan telinga, atau cukup dengan bantuan pandangan mata, namun juga mendengar dengan hati. Dalam keluarga, hadiah yang terindah bisa jadi adalah mendengarkan. Ayah yang mau mendengarkan seruan istri dan anak-anaknya, ibu yang mendengarkan suami dan anak-anaknya, atau kakak yang mendengar seruan adik-adiknya. Betapa indahnya jika komunikasi dalam keluarga bisa berjalan lancar.

Ketika banyak ayah yang merasa waktunya terbuang atau terlalu sibuk untuk mendengarkan anak-anaknya, Yesus menunjukkan hal yang sebaliknya. Yesus tidak menganggap anak-anak itu sebagai hal yang tidak penting. Dia memeluk anak-anak dan memberkati mereka. (Markus 10:13-16). Ini salah satu contoh bagaimana Yesus mau meluangkan waktuNya yang singkat di dunia ini untuk memberkati anak-anak. Dia tidak pernah terlalu sibuk untuk mereka. Perempuan Samaria yang bercerita mengenai dahaga hidupnya dalam Yohanes 4 pun Dia layani. Sementara para suami banyak yang merasa terlalu sibuk untuk mendengarkan istrinya. Banyak pria berpikir bahwa mereka sudah terlalu sibuk mencari nafkah sehingga tidak punya waktu lagi untuk mendengarkan. Tapi mendengarkan adalah bagian hadiah berharga yang bisa diberikan seorang ayah/suami bagi keluarganya. Demikian pula antara istri/ibu dengan keluarganya, atau kakak dengan adik-adiknya.  Menjadi pendengar yang baik menunjukkan betapa kita peduli dengan keadaan mereka. Sebaliknya, ketika kita malas mendengar, itu menunjukkan betapa kurangnya perhatian dan kasih sayang kepada mereka. Allah sendiri begitu mengasihi kita, maka Dia selalu mempunyai waktu untuk mendengarkan dan menjawab kita.

Petrus mengatakan demikian: “Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati..” (1 Petrus 3:8). Bagaimana mungkin kita bisa memberikan sikap seperasaan, sepenanggungan, menyayangi, mengasihi dan rendah hati jika kita tidak pernah mau mendengar? Marilah kita belajar untuk mau mendengarkan keluarga/teman-teman/tetangga atau saudara-saudara kita, seperti Tuhan pun mau mendengarkan kita.

Tuhan tidak pernah terlalu sibuk untuk mendengarkan kita, bagaimana dengan kita sendiri?

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply