Pencuri Sukacita (2)

(sambungan)Hal lain yang juga pantas menjadi perhatian kita adalah membereskan segala kesalahan dan masalah kita di masa lalu. Seberapa sadar kita bahwa hati yang tertuduh oleh masa lalu pun bisa merampas sukacita dari diri kita? Perhatikan ayat beriku…

(sambungan)

Hal lain yang juga pantas menjadi perhatian kita adalah membereskan segala kesalahan dan masalah kita di masa lalu. Seberapa sadar kita bahwa hati yang tertuduh oleh masa lalu pun bisa merampas sukacita dari diri kita? Perhatikan ayat berikut ini: “Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah” (1 Yohanes 3:21). Seringkali perasaan tertuduh dan bersalah menjadi penghalang bagi kita untuk mendekati Tuhan dan akibatnya kita tidak lagi merasakan sebentuk sukacita yang berasal dariNya. Ketahuilah bahwa iblis sangat senang memperdaya kita dengan terus menuduh kita atas segala kesalahan di masa lalu. Bisa begitu intensnya tuduhan itu dilempar kepada kita sampai-sampai kita tidak lagi ingat bahwa Tuhan sebenarnya sudah mengampuni kita ketika kita bertobat.

Pencuri ada dimana-mana, dan bukan hanya mencuri iman tetapi sukacita kita pun bisa jadi korbannya. Yesus mengingatkan kita: “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:10). Jika kita membereskan semua kesalahan kita, mengakuinya di hadapan Tuhan dan membereskan dengan orang-orang yang berkaitan dengan itu, memberikan pengampunan bagi mereka yang pernah menyakiti kita, kita pun akan terbebas dari perasaan tertuduh itu. Iblis tidak akan bisa mendakwa apa-apa lagi dari kita, ia tidak akan bisa lagi memperdaya kita. Kita bisa membangun kembali hubungan kita dengan Tuhan, dan dengan demikian sukacita daripadaNya akan kembali mengalir ke dalam diri kita.

Ingatlah bahwa berbagai ‘semak duri’ bisa menghimpit dan mencekik firman sehingga tidak bisa tumbuh dan berbuah. Dalam Markus 4:19 dikatakan “Then the cares and anxieties of the world and distractions of the age, and the pleasure and delight and false glamour and deceitfulness of riches, and the craving and passionate desire for other things creep in and choke and suffocate the Word, and it becomes fruitless.” Kekuatiran, tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain, keinginan-keinginan yang ditujukan untuk memuaskan dan berpusat pada daging merupakan pencuri-pencuri sukacita yang berbahaya jika kita lengah. Karenanya kita tidak boleh membiarkan pencuri-pencuri ini datang mengacau dan mengambil apa yang menjadi hak kita. Kita bisa setiap saat berhadapan dengan semuanya, tetapi adalah keputusan kita apakah kita mau membiarkannya masuk dan mencuri atau kita menjaga agar sukacita kita tetap berakar pada Tuhan sehingga tidak ada satupun yang mampu merebutnya.

Apa yang sedang membuat anda kesal hari ini? Apakah pasangan anda yang seperti tidak kunjung mengerti dan hanya menyusahkan di rumah? Pasangan yang mendengkurnya terlalu keras? Baju yang dilempar sembarangan disekeliling rumah? Ahli dalam mengacak-acak rumah? Sembarangan meletakkan barang lalu bikin pusing saat mencarinya? Apa yang membuat anda kuatir hari ini? Apakah itu kesulitan ekonomi? Kendala di kantor? Pelajaran dan tugas rumah yang sulit? Atau bahkan ketidakpastian hari depan? Tidak adanya jaminan keamanan? Apa yang anda kejar saat ini? Apakah memaksakan diri untuk terus update dengan gadget dan perkembangan teknologi terbaru, kepemilikan atas mobil mewah, rumah yang bisa dipamerkan karena ukuran dan kemewahannya? Baju, tas dan aksesoris bermerek? Semua itu bisa merampas sukacita dari kita, membuat kita lupa kepada Tuhan dan sukacita Surgawi yang Dia limpahkan pada kita.

Jangan dasarkan sukacita kita kepada orang atau situasi terkini yang kita hadapi. Jangan terpengaruh untuk mengejar segala hal yang kata dunia mendatangkan kebahagiaan kita.  Dasarkanlah sukacita kepada Tuhan. Letakkan hati kita kepadaNya, karena disanalah letak sumber sukacita yang sebenarnya. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersukacita, karena semua itu berasal dari Tuhan dan itu letaknya sangat jauh di atas segala permasalahan atau orang-orang yang mengecewakan kita. Begitu banyak orang yang keliru meletakkan sukacitanya hingga Firman Tuhan pun mengingatkan hingga berulang dalam ayat yang sama. “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4). Lalu dalam kesempatan lain: “Bersukacitalah senantiasa.” (1 Tesalonika 5:16). Percayalah bahwa kita punya Tuhan yang jauh lebih besar dari semua masalah, yang telah memberikan kita sukacita sejati terlepas dari apapun keadaan kita hari ini dan siapapun yang kita hadapi saat ini. Oleh karenanya, jangan biarkan sukacita kita dirampas. Let’s set our mind towards the real joy from the Real Source. “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:16-18). Apakah anda siap untuk menerima kembali sukacita dalam diri anda? Kalau begitu dasarkanlah kepada sumber yang sejati.

Sukacita sejati itu berasal dari Tuhan, jangan biarkan apapun mencurinya dari kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply