Pemurnian Perak dan Emas (2)

(bersambung)

Proses pemurnian perak dan emas kemarin menggambarkan proses keimanan kita. Ada kalanya Tuhan mengijinkan kita masuk dalam proses “pembakaran” seperti ini, dan itu tujuannya tidak pernah untuk menyiksa kita, namun sebaliknya untuk memurnikan iman kita. Seperti halnya emas diproses hingga menjadi emas murni, iman kita pun terkadang harus melalui proses pemurnian lewat penderitaan-penderitaan yang mungkin rasanya sangat menyakitkan seperti dibakar. Seperti halnya perak atau emas yang dimasukkan ke dalam api hingga menjadi murni, demikian pula iman kita. Reaksi dan tindakan dalam menghadapi permasalahan dan pergumulan hidup bisa menunjukkan tingkat keimanan seseorang. Bagaimana mungkin seseorang bisa dikatakan memiliki iman besar jika menghadapi masalah kecil saja sudah bersungut-sungut, takut, khawatir atau bahkan menyerah? Orang yang beriman teguh akan selalu tegar, karena mereka percaya penuh pada rancangan Tuhan beserta penyertaanNya dalam setiap aspek kehidupan kita. Dan untuk memperoleh iman seperti itu ada kalanya kita harus diproses terlebih dahulu.

Kita tentu tahu bahwa pada jaman Petrus tampaknya menjadi orang Kristen bukanlah sesuatu yang ringan. Ada banyak tekanan, ancaman bahkan siksaan sampai mati yang menjadi konsekuensinya. Maka Petrus pun mengingatkan akan manfaat dari pencobaan, agar orang-orang percaya mampu tegar menghadapi itu semua. Petrus memulainya dengan ayat yang mengingatkan esensi hidup yang sejati dalam Kristus. “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.” (1 Petrus 1:3-4). Petrus menggambarkan sebuah hidup baru yang penuh dengan pengharapan, yang dipersiapkan untuk menerima bagian dalam kerajaan Surga yang disediakan lewat Yesus Kristus. Petrus kemudian mengingatkan agar jemaat tetap kuat ketika menghadapi bermacam-macam pencobaan. Bukan hanya kuat, tapi ia menasehati supaya bergembira. “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.” (ay 6). Bagaimana bisa bergembira ditengah-tengah permasalahan hidup? Petrus mengambil contoh pemurnian emas untuk menjelaskannya. “Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.” (ay 7). Perhatikan bagaimana Petrus membandingkan proses pemurnian iman dengan proses pemurnian emas. Kalau emas saja butuh dimurnikan dengan mengalami proses hingga akhirnya menjadi emas murni yang berharga, apalagi iman kita yang jauh lebih berharga dari emas. Emas adalah benda fana, yang tidak kekal, sementara iman kita akan membawa kita kedalam keselamatan jiwa yang kekal sifatnya. (ay 9). Jelaslah bahwa iman kita jauh lebih berharga dari emas. Jika emas saja harus dimurnikan agar bisa menjadi berharga, apalagi iman kita yang bisa membawa kita kepada kehidupan yang penuh sukacita yang kekal sifatnya. Ayub pun pernah mengalami serangkaian penderitaan yang tak terperikan. Itu berat, tapi pada suatu ketika Ayub pun menyadari bahwa apa yang ia alami adalah sebuah proses pengujian. “Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” (Ayub 23:10).

Pesan Petrus yang menguatkan jemaat di masa itu agar tidak goyah ketika menghadapi penderitaan tetap relevan bagi kita, demikian pula dengan apa yang kita baca dalam Maleakhi 3:3 tentang pemurnian perak. Apa yang kita alami hari-hari ini pun tidak mudah. Ada banyak ancaman, intimidasi, tekanan yang kita hadapi, belum lagi berbagai bentuk godaan duniawi yang setiap saat bisa merontokkan iman kita. setiap hari kita berhadapan dengan berbagai ujian yang bisa menjadi alat ukur kemurnian iman kita. Bagaimana kita menyikapi permasalahan akan menjadi ukuran seteguh apa iman kita percaya pada Tuhan. Pencobaan yang terkadang membawa kita ke dalam penderitaan akan membangkitkan pengharapan dan ketekunan kita serta melatih iman kita agar lebih kuat. Proses “pembakaran” iman kita akan melepaskan segala kotoran yang melekat pada iman kita, sehingga akhirnya kita bisa memiliki sebentuk iman yang murni, seperti emas murni. Semua itu bertujuan untuk kebaikan kita. Kita dipersiapkan agar layak menerima segala janji Tuhan yang sudah disediakanNya bagi kita semua. Apakah hari ini ada diantara teman-teman yang merasa seperti berada di tengah api yang panas? Jangan putus asa, dan bersyukurlah dalam melewatinya. Jangan menyerah dan terburu-buru mencari alternatif yang menyesatkan ketika sedang menghadapi proses pemurnian, karena di ujung proses itu ada upah besar yang sedang menanti kita. Percayalah Tuhan saat ini tengah menanti anda untuk menjadi murni, dimana Dia akan dapat melihat cerminan wajahNya di dalam diri anda.

Proses pemurnian bisa menyakitkan, tapi hasilnya akan sangat bermanfaat bagi kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: