Uskup Agung Eamon Martin (Katolik) dan Uskup Agung Richard Clarke saat Peluncuran "Flesh and Blood Ireland" di Katedral Santo Patrick di Armagh. Kampanye mobilisasi Gereja-Gereja itu bertujuan untuk membantu peningkatan jumlah pendonor darah dan organ tubuh di seluruh negeri.

Uskup Agung Eamon Martin (Katolik) dan Uskup Agung Richard Clarke (Anglikan) saat Peluncuran “Flesh and Blood Ireland” di Katedral Santo Patrick di Armagh. Kampanye mobilisasi Gereja-Gereja itu bertujuan untuk membantu peningkatan jumlah pendonor darah dan organ tubuh di seluruh negeri.

Para pemimpin dari empat Gereja Kristen utama di Irlandia datang ke Roma hari Senin, 21 Mei 2018, untuk mengikuti acara peringatan ulang tahun ke-20 Perjanjian Jumat Agung di Irlandia Utara yang diajukan oleh menteri luar negeri Vatikan.


Acara, yang diselenggarakan oleh Kedutaan Inggris dan Irlandia untuk Tahta Suci itu menyatukan para pemimpin Gereja Katolik, Anglikan, Presbiterian dan Methodis, bersama beberapa tokoh politik utama yang berperan dalam menyusun perjanjian penting yang ditandatangani di Belfast tanggal 10 April 1998 itu.


Perjanjian yang disetujui dalam referendum 22 Mei itu menandai perkembangan besar dalam proses perdamaian Irlandia Utara karena membantu mengakhiri kekerasan sektarian yang meluas antara umat Katolik dan Protestan.


Untuk menandai ulang tahun ke-20 itu, Uskup Agung Armargh (Katolik) Mgr Eamon Martin dan Uskup Agung Armargh (Anglikan) Richard Clarke mengeluarkan pernyataan bersama yang mengatakan bahwa meskipun situasi politik saat ini rapuh, mereka berharap kesempatan itu akan mengobarkan semangat untuk mendapatkan kesempatan yang baik, penyembuhan, dan pengharapan.


Kedua pemimpin Gereja itu berbicara tentang pencapaian terpenting dari Perjanjian Jumat Agung itu dan tentang harapan mereka atas kunjungan Paus Fransiskus ke Irlandia di bulan Agustus.


Uskup Agung Martin menggambarkan Perjanjian Jumat Agung sebagai “momen penyelamatan jiwa” dan Uskup Agung Clarke mengatakan perjanjian itu, “membuka pintu yang jauh kekerasan.”


Menanggapi untuk kunjungan Paus Fransiskus ke Dublin untuk menghadiri Pertemuan Keluarga se-Dunia, Uskup Agung Clarke berharap gagasan “karunia keluarga” dapat disadari kembali oleh semua tradisi Kristen. Menurut uskup agung itu, para pemimpin Gereja Anglikan serta Mothes’ Union (ikatan ibu-ibu) terlibat dalam persiapan untuk acara itu.


Uskup Agung Martin berharap bahwa Paus akan “berbicara dalam situasi kami” di mana begitu banyak keluarga telah mengalami trauma akibat dampak The Troubles yang meninggalkan luka-luka mendalam. Prelatus itu juga berharap Paus akan memberi alasan untuk berharap, serta “penegasan untuk proses perdamaian yang rapuh dan belum matang yang telah dimulai.”


The Troubles (masalah) adalah sebuah konflik etno-nasionalis di Irlandia Utara selama akhir abad ke-20. Konflik yang dikenal secara internasional sebagai konflik Irlandia Utara itu dimulai akhir tahun 1960-an dan dianggap berakhir melalui Perjanjian Jumat Agung tahun 1998. Meskipun umumnya konflik ini terjadi di Irlandia Utara, kekerasan juga meluas ke beberapa bagian di Republik Irlandia, Inggris dan daratan Eropa.(paul c pati)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.