Buku “Creative Teaching” terbitan PT Grasindo, 2018.

ILUSTRASI menarik pada awal buku ini, mengajar merupakan aktivitas yang menyenangkan. Anak-anak pergi dengan gembira ke sekolah. Setiap malam saat tidur, rasanya ingin cepat terbit matahari pagi dan dengan gembira mereka menyambut pagi. Terutama, mereka akan menemui teman-teman dan guru-guru yang dicintai.


Gambaran yang menarik sekaligus menantang itu akan berbeda, jika pada kenyataan terjadi ketika belajar mengajar dan mengajar menjadi sebuah momok.


Apa yang terjadi ketika anak-anak mogok belajar? Apa yang harus dilakukan oleh guru?


 Momok dalam pendidikan


Pokok permasalahan ini akan diulas secara komprehensif oleh penulis buku ini, Robert Bala, dalam Bab 1 dengan judul momok dalam pendidikan. Momok dalam pendidikan ini menurut Robert Bala meliputi tidak menguasai materi pembelajaran, mengajar ala ‘bank’, pendidikan yang membisukan, kekerasan verbal, dan momok kualitas.


Hal inilah yang memicu daya tarik guru melemah di mata siswa.


Guru sebagai aktor yang seharusnya menentukan dalam proses belajar mengajar malah kurang memahami materi secara menyeluruh. Guru tidak sanggup memberikan inspirasi bagaimana kesinambungan mata pelajaran ini, baik secara internal maupun eksternal.


Momok lain, ada asumsi bahwa masa belajar adalah masa ‘mengumpulkan’ ilmu sebanyak-banyaknya sebagai bekal hidup. Anak diibaratkan papan kosong. Kekeliruan dibalik mengajar ala ‘bank’ ini adalah tanpa disadari, pendidikan ala bank memahami pendidikan seperti kegitan menabung, bukan proses komunikasi timbal balik. Murid dijadikan bak ‘celengan’ dan guru sebagai penabung. Guru menyampaikan peryataan dan pertanyaan untuk ‘mengisi tabungan’.


Model pendidikan ala bank, pendidikan yang menindas ini sudah dialami oleh penggagas Paulo Freire. Pria kelahiran Recife, Timur Laut Brazil 19 September 1921 ini melihat pendidikan ala bank memperlakukan peserta didik sebagai benda atau wadah untuk menampung sejumlah rumusan atau dalil pengetahuan, padahal siswa itu adalah anak yang dinamis dan kreasi. Yang pasti pendidikan ala bank telah menjauhkan baik siswa maupun guru dari kreativitas.


Otak kiri, otak kanan


Robert Bala, yang mengenyam pendidikan formal pada beberapa perguruan tinggi di Madrid, Spanyol ini mengulas secara mendalam dan efektif tentang otak dalam Bab 2 dan Bab 3.


Fungsi otak kiri dan kanan berkebalikan. Maksudnya, otak kiri berfungsi mengatur koordinasi fungsi motorik anggota tubuh sebelah kanan, sedangkan otak kanan mengatur anggota tubuh sebelah kiri kita.


Otak kiri (otak logika) mengatur fungsi mental dan pengolahan sistem informasi yang berhubungan dengan kata, angka, analisis, logika, urutan, garis, daftar, dan hitungan. Sifat ingatan pada otak kiri adalah jangka pendek.


Otak kanan (otak seni atau otak kreatif). Otak kanan berfungsi untuk mengatur fungsi mental yang berhubungan dengan berpikir secara konseptual, gambar, irama, warna, dimensi atau bentuk, imajinasi, atau melamun. Sifat ingatan pada otak kanan adalah jangka panjang.


Otak kanan cenderung melamun


Keterampilan yang dimiliki otak kanan yakni melamun. Melamun memberi istirahat pada bagian otak yang telah melakukan pekerjaan analitis dan pengulangan, melatih pemikiran proyektif dan imajinatif. Umumnya jenius besar menggunakan lamunan untuk membantu memecahkan masalah, menghasilkan ide, dan mencapai tujuan.


Demi perkembangan diri yang utuh, kedua otak (kiri dan kanan) semestinya bekerja secara sinergis.


Pembelajaran kreatif atau creative teaching adalah sebuah model pembelajaran yang pada dasarnya berpijak pada cara kerja otak dan menyesuaikan model pembelajaran tersebut.


Di sini kita bisa memahami dengan jelas perbedaan antara pengajaran (teaching) dan pembelajaran (instruction).


Pengajaran cirinya:

Dilaksanakan oleh orang yang berprofesi sebagai pengajar.Tujuannya menyampaikan informasi kepada orang yang belajar.Merupakan salah satu penerapan strategi pembelajaran.Kegiatan belajar berlangsung bila ada guru atau pengajar.

Pembelajaran cirinya:

Dilaksanakan oleh mereka yang dapat membuat orang belajar.Tujuannya agar terjadi proses belajar pada siswa-siswi belajar.Merupakan cara untuk mengembangkan rencana yang terorganisasi untuk keperluan belajar.Kegiatan belajar dapat berlangsung dengan atau tanpa hadirnya guru

Robert Bala tidak hanya menulis buku Creative Teaching, juga telah menulis buku Homili Yang Membumi (Kanisius, 2017), Menjadi Fasilitator yang Menarik, Efektif, dan Aktual (Kanisius, 2017), dan Berbuah di Usia Senja (Kanisius, 2017).


Tidak bosan


Agak berbeda ukuran huruf dengan ketiga bukunya yang terdahulu, dalam buku Creative Teaching, ini font size berukuran kecil, sedang dan sangat besar. Sepintas dengan variasi ukuran yang berbeda membantu pembaca supaya tidak bosan membaca dan langsung ketahuan bahwa ukuran huruf yang paling besar merupakan kalimat kunci dalam sebuah topik pembahasan.


Buku Creative Teaching ini terdiri dari 5 bab yakni momok dalam pendidikan, anatomi dan arsitektur otak, melawan kemauan otak, membuat mind map, dan pengajaran kreatif.


Pada bagian akhir buku ini memuat 2 bagian lapiran yaitu lampiran pertama berisi mempraktikan mind map, dan bagian kedua memuat 32 metode mengajar kreatif.


Misalnya model pembelajaran problem based introduction (pembelajaran berbasis masalah) yang mengangkat satu masalah aktual sebagai satu pembelajaran yang menantang dan menarik. Siswa diharapkan dapat belajar memecahkan masalah tersebut secara adil dan objektif.


Ada juga model role playing. Model pembelajaran bermain peran ini di mana kelompok memperagakan skenario yang telah disiapkan guru.


Model pembelajaran student facilitator and explaining atau model di mana siswa mempresentasikan pendapat kepada rekan peserta didik lain. Model ini sangat efektif untuk melatih siswa berbicara untuk menyampaikan ide atau gagasannya sendiri.


Ke-32 model pembelajaran dalam buku ini sebagai tawaran model pembelajaran yang bisa dicoba atau dipraktikan ketika mengajar. Semua model itu disertakan disertai langkah-langkah pembelajarannya masing-masing. 


Kreatif dan inovatif


Dua kali saya ke toko buku Gramedia Palembang untuk mendapatkan buku Creative Teaching ini,  namun jawaban pelayan toko Gramedia bahwa buku tersebut telah habis.


Setelah saya kontak penulis buku ini, Robert Bala, apakah dia masih memiliki buku ini, jawaban Pak Robert, buku ini telah habis, namun ia memberikan harapan akan memesan ulang.


Saya bersyukur dan berterima kasih, akhirnya saya mendapatkan buku menginspirasi bagi guru ini langsung dari penulisnya, Robert Bala dari Tangerang. Artinya buku ini laris-manis karena memberikan pola kreatif dan inovatif serta ide baru dalam proses pendidikan.


Para guru, orangtua, atau pemerhati pendidikan, bahkan masyarakat umum dengan membaca buku ini akan sangat terbantu untuk memahami dan bisa menghadirkan pola baru yang bisa saja lebih menjawab kebutuhan dan tantangan zaman. Lagipula, diulas dengan bahasa yang gampang dipahami.


Akhirnya, guru yang baik dan kreatif akan menjadi pusat perhatian sehingga siswa semakin berkembang. 


Data buku

Judul: Creative Teaching, Mengajar Mengikuti Kemauan Otak.Penulis: Robert Bala.Penerbit: PT Grasindo, Jakarta: 2018.Tebal: X+134 hlm.

 

Guru SMA Xaverius 1 Palembang.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.