Peluncuran Buku Cerita Rakyat hasil karya Guru Sorong lulusan Unika Atma Jaya

foto buku Sorong

DULU ada anggapan keliru bahwa dengan ganti kurikulum maka permasalahan pendidikan kita akan menjadi beres. Padahal pihak yang menentukan perubahan adalah orang-orang yang melaksanakan yaitu para guru, bukan kurikulum,” demikian ditegaskan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, dalam sambutannya pada acara Peluncuran Buku Cergam dan Komik Cerita Rakyat Pertama dari Sorong Selatan Papua Barat di Auditorium Yustinus, kampus Semanggi Unika Atma Jaya (28/4).

Cerita-cerita rakyat sebanyak 26 buah yang tertuang dalam dua bentuk – komik dan cerita bergambar (cergam) – itu merupakan tulisan pilihan yang disortir dari karya 193 guru sekolah dasar Sorong yang berhasil lulus sebagai sarjana kependidikan Unika Atma Jaya dan diwisuda kemarin di Jakarta Convention Center (26/4).

Awalnya tulisan tersebut merupakan salah satu tugas kuliah mereka. Para guru tersebut diminta menuliskan cerita rakyat Papua yang belum pernah dipublikasikan selama ini. Tim dosen Unika Atma Jaya yang menilai hasil karya mereka merasa bahwa tulisan tersebut bisa digunakan sebagai media pembelajaran bagi para siswa terutama di Papua.

“Kami berpikir mengapa tidak menggunakan cerita lokal sebagai media pembelajaran bagi para siswa? Tokoh cerita daerah lain seperti Joko Tingkir asing bagi mereka. Maka kami menugaskan para guru mahasiswa kami untuk mengumpulkan cerita rakyat mereka sendiri. Hasil yang ditampilkan merupakan pilihan; tampak keseriusan menggali cerita-cerita tersebut, mereka mengumpulkan informasi terutama dari narasumber sesepuh yang ada,” demikian terang Luciana, dosen PGSD yang diberi tanggung jawab menjadi Koordinator Proyek Buku Cergam dan Komik Cerita Rakyat Sorong Selatan.

Cerita tersebut lalu diedit dan dituangkan dalam gambar oleh ilustrator profesional di Jakarta. Ketika ditanya mengapa dalam bentuk komik dan cergam, Luciana menjelaskan bahwa “komik dan cergam adalah gerbang pemikat bagi pembaca muda.” “Tak ada anak yang tidak suka membaca, tetapi dia hanya belum menemukan buku yang menarik baginya untuk dibaca,” demikian keyakinan Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Pendidikan dan Bahasa Unika Atma Jaya ini.

Pendidikan Jarak Jauh PGSD Unika Atma Jaya

Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) PGSD Unika Atma Jaya ini merupakan kerjasama antara Pemkab Sorong Selatan dengan Unika Atma Jaya yang memiliki izin resmi untuk mengadakan kelas jarak jauh dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Program perkuliahan PJJ ini dimulai pada 11 September 2013 lalu di Teminabuan, Sorong. Metode pembelajaran dilaksanakan dengan tatap muka langsung serta melalui internet.

Terhadap program tersebut, Anies Baswedan menyatakan penghargaan tinggi pemerintah terhadap Unika Atma Jaya. “Atma Jaya sebenarnya tidak memiliki kewajiban konstitusional yang mengharuskannya melakukan pelayanan ini, tetapi program ini dilakukan Atma Jaya dengan sungguh-sungguh dan baik hasilnya.”

Anies menegaskan bahwa untuk bisa berhasil, pendidikan perlu dipandang sebagai gerakan bukan sekedar program pemerintah. Contoh nyata gerakan itu adalah seperti hasil program PJJ PGSD Unika Atma Jaya ini.

foto sorong 2

Kepada para guru Sorong, Anies berpesan agar tetap belajar terus karena mereka adalah wajah masa depan Papua.

“Menjadi guru itu layaknya melukis wajah masa depan Indonesia. Maka jadilah guru yang menyenangkan bukan yang menyebalkan,” pesan Anies disambut tepuk tangan meriah oleh para guru.

Kredit foto: Unika Atma Jaya

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply