Bacaan Markus 10:21-27


Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Mrk 10:21-23.25)


Sahabat pelita hati,


KATA-KATA bijak menasehatkan, “kita boleh dekat tetapi jangan lekat.” Apa itu? Terhadap harta benda kita boleh dekat dan nemang harus dekat tetapi tak boleh lekat apalagi terikat. Harus kita akui bahwa harta benda dibutuhkan oleh setiap manusia/keluarga untuk menopang hidupnya. Demikian juga lembaga pendidikan,  komunitas/biara dan bahkan Gereja pun butuh dukungan dana untuk menopang keberlangsungannya. Tetapi, sekali lagi, tak boleh menggantungkan pada harta, seakan-akan ia menjadi penopang utama.


Sahabat terkasih,


Dalam pelita sabda ini Tuhan tidak sedang berbicara tentang kekayaan yang dilawankan kemiskinan. Tuhan juga tidak sedang memihak orang miskin dan membenci orang kaya.  Namun Tuhan sedang mengajarkan kepada kita bersikap bijak dan memiliki sikap lepas bebas terhadap harta dunia. Bukan kekayaan yang akan mengantar kita menuju pintu surgawi. Bukan juga kemiskinan yang akan menjamin kita menempati surga abadi. Sikap bijak dan lepas bebas terhadap harta kekayaan serta menyandarkan hidup pada Tuhan lah yang akan mengantar kita menuju jalur surgawi. Maka benarlah sabda Yesus “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Maksudnya, orang yang memiliki sikap lepas bebas adalah orang yang memiliki kebijaksanaan berkata “cukup” dan tak serakah pada harta demi kepuasan diri. Tuhan tak mengajarkan kita menumpuk harta demi diri sendiri tetapi harus mengembangkan sikap peduli. Kita syukuri segala anugerah yang telah kita terima sambil mengarahkan hidup kita pada Yesus Sang penopan hidup kita.


Jika ada sumur di ladang,
bolehlah kita menumpang mandi.
Jika hati tulus dan lapang,
niscaya Tuhan kan memberkati.


dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, Rm.Istoto


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Stephanus Istoto Raharjo Pr

Imam diosesan Keuskupan Agung Semarang yang kini berkarya di Keuskupan Manokwari-Sorong; Pembantu Ketua III Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPK) St. Benediktus di Sorong, Papua Barat.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.