Pelita Hati: 27.02.2018 – Menjadi Pelaku Firman


Bacaan Matius 23:1-12


Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya:  “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. (Mat. 21:1-3)


ORANG-ORANG Farisi dan para ahli Taurat dikenal sebagai penjaga dan pewaris hukum musa sehingga mereka sangat paham dan mengerti isi dari hukum taurat. Karenanya apa yang mereka ajarkan bersumber dari hukum yang benar adanya. Sudah pada tempatnya jika para murid harus mendengarkan apa yang mereka ajarkan. Namun Tuhan menambahkan bahwa hidup dan perilaku orang-orang Farisi serta ahli Taurat jauh dari apa yang mereka ajarkan alias hidup mereka tak sesuai dengan ajaran Taurat. Para murid tak boleh mengikuti cara hidup dan perbuatan mereka. Inilah sebentuk contoh cara hidup yang tidak padu antara yang diajarkan/diucapkan dengan tingkah lakunya.


Sahabat-sahabat pelita hati,


ada parikan dalam bahasa Jawa “Gajah diblangkoni, iso kojah ora iso nglakoni”.  (Gajah memakai blangkon/topi yang artinya bicara banyak tetapi tidak bisa menjalani). Persis inilah tipe dan gaya pewartaan para Farisi. Mereka suka menimpakan beban berat pada pundak orang lain tetapi dirinya sendiri tidak melaksanakan. Bertolak belakang dengan Tuhan, Ia tidak hanya bersabda tetapi juga berkarya. Ia tidak hanya mengajarkan tentang kerendahan hati, kasih dan pengurbanan. Ia sendiri memberi teladan bagaimana harus rendah hati, mengasihi sesama bahkan musuh-musuhnya dan Ia pun menjadi kurban utama. Mari kita perjuangkan komitmen kita untuk menjadi pelaku dan pelaksana firman bukan hanya mengajarkan sabda.


Beli mangga murah harganya,
mangga madu manis rasanya.
Marilah dengarkan sabda kudus-Nya,
smoga tekun melaksanakannya.


Salam kasih dari bumi Cendrawasih,
Berkah Dalem, rm.istoto


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Stephanus Istoto Raharjo Pr

Imam diosesan Keuskupan Agung Semarang yang kini berkarya di Keuskupan Manokwari-Sorong; Pembantu Ketua III Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPK) St. Benediktus di Sorong, Papua Barat.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: