Pelita Hati: 25.03.2018 – Keledai bukan Kuda


Bacaan Markus 11:1-10


Lalu  mereka membawa keledai itu kepada Yesus, dan mengalasinya dengan pakaian mereka, kemudian Yesus naik ke atasnya. Banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menyebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang. Orang-orang yang berjalan di depan dan mereka yang mengikuti dari belakang berseru: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!” (Mrk 11:7-10)


HARI ini kita membuka Pekan Suci atau Minggu sengsara dengan perayaan Minggu Palma atau Minggu Daun. Saat Yesus diarak sebagai raja, bukan sebagai Raja yang mengumbar kuasa tetapi Raja Damai yang melayani dengan rendah hati. Ada dua simbol yang dipakai dalam peristiwa ini, yakni daun palma dan keledai.


Kala itu, oleh orang Yahudi daun palma dipakai sebagai simbol kemenangan dan kejayaan. Daun palma itu kemudian dipasang di salib sebagai tanda kemenangan sebagai Kristus Raja yang jaya dengan pengorbanan salib-Nya. Setiap kali memandang salib berdaun palma kita diingatkan akan pengurbanan Tuhan melalui salib-Nya.


Selain daun palma, Tuhan memilih keledai bukan kuda, mengapa?  Kuda identik dengan kegagahan, kekuatan dan sarana perang bagi pasukan berkuda. Sedangkan keledai atau kuda beban adalah simbul kesederhanaan, kerendahan hati dan perdamaian. Ia tak dapat berlari kencang tetapi ia sangat kuat memikul beban. Yesus memasuki kota Yerusalem menaiki keledai sebagai lambang bahwa Ia siap memikul beban dosa manusia dengan sengsara dan wafat-Nya. Itulah pengorbanan paripurna sebagai puncak karya penebusan-Nya. Hosanna putera Daud Sang penebus dosa hamba-hamba-Mu yang hina ini. Semoga kita tidak menyia-nyiakan pengurbanan-Nya. Jauhkan diri dari belenggu dosa.


Jika pergi ke kota Kudus,
jangan lupa dengan jenangnya.
Ya Yesus Sang Kristus,
dosa manusia  ditebus dengan wafat-Nya.


dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, rm.istoto


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Stephanus Istoto Raharjo Pr

Imam diosesan Keuskupan Agung Semarang yang kini berkarya di Keuskupan Manokwari-Sorong; Pembantu Ketua III Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPK) St. Benediktus di Sorong, Papua Barat.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: