Bacaan Markus 9:41-50

Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan. (Mrk 9:42-43)

PELITA sabda ini mengangkat dua pokok penting yaitu hukuman bagi yang menyesatkan anak kecil dan sikap tegas tehadap anggota tubuh yang menyesatkan. Menyikapi dua hal ini Yesus bersikap amat tegas dan bahkan  sepintas teramat sangat keras.

Pertama, yang menyesatkan anak kecil harus ditenggelamkan ke laut. Tentu Yesus tidak mengajarkan kekerasan yang tak manusiawi. Pesan yang mau disampaikan adalah sangat berdosa besar jika kita ‘membunuh’ masa depan anak berkat tindakan penyesatan kita. Ia sungguh cinta anak-anak bukan? Karena dalam diri anak-anak itulah kepolosan dan kejujuran bersemayam. Tak boleh kita merampasnya.

Kedua, mengapa tangan harus dipenggal jika menyesatkan kita? Sejatinya Tuhan ingin mengajarkan perlunya kita membuang, membasmi dan membunuh sumber-sumber dosa atau yang bisa membawa kita kepada perbuatan dosa. Sebenarnya ajaran ‘memenggal tangan’ adalah sebuah sikap untuk memangkas berkembangnya dosa hingga membawa kita kepada jurang dosa yang mematikan. Bukankah tindakan seorang dokter mengamputasi kaki, tangan atau bagian tubuh lainya adalah wajar jika hal jtu menjadi jalan bagi keselamatan nyawa manusia?  Pendek kata,  Tuhan mengajarkan kepada kita untuk berani bersikap tegas dan keras jika demi keselamatan jiwa dan iman kita. Jangan kita permisif dan mudah menyerah jika berkaitan dengan iman. Apakah kita sudah menanamkan sikap militan pada anak-anak atau generasi muda kita dalam hal iman?

Mekar indah bunga di taman,
kicau burung pun saling bersahutan.
Jangan lelah memperjuangkan iman,
jadilah murid Yesus yang militan.

dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, rm.istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Stephanus Istoto Raharjo Pr Imam diosesan Keuskupan Agung Semarang yang kini berkarya di Keuskupan Manokwari-Sorong; Pembantu Ketua III Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPK) St. Benediktus di Sorong, Papua Barat.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.