Pelita Hati: 16.02.2018 – Mensyukuri Kebersamaan dengan Tuhan


Bacaan Matius 9:14-15


Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.


KEBERSAMAAN dengan Yesus adalah suatu anugerah yang harus disyukuri dan tak boleh dilewatkan. Kebersamaan itu digambarkan seperti kegembiraan sanak saudara yang sedang merayakan pesta syukur dengan mempelai. Pasti ada rasa sukacita dan gembira bahkan disyukuri dalam perjamuan pesta. Tidak pada tempatnya keluarga akan berpuasa di saat menggelar pesta pernikahan atau menunjukkan dukacita ketika perjamuan dengan mempelai masih berlangsung.


Yesus adalah ‘Sang Mempelai Gereja’.  Karenanya kebersamaan dengan Tuhan harus disyukuri. Bukankah tujuan hidup orang beriman adalah mengalami kebersamaan dengan Tuhan?


Pada dasarnya doa adalah mengalami keintiman dengan Tuhan. Dan pada saatnya -ketika ‘Sang Mempelai” alias Tuhan tidak ada bersama-sama dengan  mereka- pada saat itulah para murid harus ‘berpuasa’.


Pada saat Tuhan diambil dari tengah-tengah mereka alias Ia harus memulai penderitaan hingga wafat-Nya para murid mau tidak mau harus berduka. Mereka harus berprihatin dan berjuang keras untuk memperlihatkan kesetiaannya kepada Tuhan.


Hari ini adalah hari pantang, saatnya kita mengekang hati untuk mengendalikan keinginan manusiawi kita agar dapat merasakan  kebersamaan dengan Tuhan.


Jangan mudah putus asa,
tak boleh juga berhati jumawa.
Inilah hari pantang dan puasa,
mengekang hati kendali jiwa.


Salam kasih dari bumi Cendrawasih,
Berkah Dalem, rm.istoto


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Stephanus Istoto Raharjo Pr

Imam diosesan Keuskupan Agung Semarang yang kini berkarya di Keuskupan Manokwari-Sorong; Pembantu Ketua III Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPK) St. Benediktus di Sorong, Papua Barat.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: