Pelita Hati: 09.02.2018 – Tak Tuli Hati


Bacaan Markus 7:31-37


Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata!”, artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. (Mrk. 7:32.34-36)


ANTARA tuli dan bisu bagaikan sekeping mata uang dengan dua sisi, selalu ada bersama. Karena tuli dan tidak bisa mendengar suara apapun sehingga tidak bisa meniru atau mengucapkan apa-apa. Sudah barang tentu yang terlahir tuli dipastikan akan menjadi bisu. Karenanya orang yang bisu dan tuli dipastikan akan terganggu dalam berinteraksi sosial. Sebaliknya orang yang hidup dengan pendengaran nornal alias tidak tuli dan tak bisu juga kesulitan dalam berkomunikasi dengan mereka. Penyembuhan orang yang bisu dan tuli dipastikan membawa kegembiraan bagi si penderita maupun sanak saudaranya serta para lawan bicaranya. Yang semula terkendala dalam berinteraksi kemudian menjadi mudah dalam berkomunikasi. Yang semula terbatasi dan bahkan terisolasi dalam berkomunikasi kini tidak lagi.


Sahabat-sahabat pelita hati,


Kita bersyukur karena dikarunai panca indera yang lengkap sehingga bisa mendengar dan berkata-kata alias tidak bisu dan tuli. Pertanyaannya,  hati dan perasaan kita tidak tuli terhadap ketidakadilan atau penderitaan yang ada di sekitar kita? Apakah kita dapat menyuarakan kebenaran demi membela keadilan sesama? Semoga hati kita sungguh peka terhadap sesama, terutama yang menderita.


Gugur bunga di musim semi,
bunga sakura menawan hati.
Ya Tuhan sembuhkan kami,
dari buta dan tuli hati.


Salam kasih dari bumi Cendrawasih,
Berkah Dalem, rm.istoto


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Stephanus Istoto Raharjo Pr

Imam diosesan Keuskupan Agung Semarang yang kini berkarya di Keuskupan Manokwari-Sorong; Pembantu Ketua III Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPK) St. Benediktus di Sorong, Papua Barat.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: