Pelita Hati: 04.12.2017 – Iman dan Kerendahan Hati

Bacaan Matius 8:5-11

Tetapi  jawab perwira Kapernaum itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. (Mat 8:8.10)

KATA-KATA perwira di Kapernaum itu kini menjadi doa pendek yang selalu kita ucapkan sebelum menyambut hosti suci alias tubuh Kristus dalam perayaan ekaristi. Doa itu mengingatkan kita bahwa kita pun sejatinya tidak layak menerima Tuhan di dalam hati kita. Inilah ungkapan iman terdalam seorang perwira Romawi. Walau ia bukan orang Yahudi tetapi ia memiliki hati yang peduli terhadap hamba atau budaknya yang sakit. Bagi Tuhan, cinta dan perhatian terhadap hambanya adalah wujud nyata dari imannya. Lebih istimewa lagi, sang Perwira sungguh percaya pada maha kuasa Yesus. Tak perlu Tuhan datang, cukup dengan sabda dan kata-kata, Tuhan pasti menyembuhkan.

Sikap iman dan kerendahan hati sang perwira inilah yang menggetarkan hati Tuhan. Tuhan tak hanya menyembuhkan hambanya, tetapi juga memuji iman perwira itu melebihi iman orang-orang Israel.

Pelajaran dan pesan iman dari kisah ini adalah bahwa kerendahan hati itu berbanding lurus dengan iman yang mendalam.  Semakin beriman berarti semakin rendah hati, tidak sombong apalagi congkak. Pengakuan akan ketidakpantasan di hadapan Tuhan ini jugalah yang menyebabkan Tuhan melimpahkan rahmat dengan karya mujizat. Semoga kita pun semakin beriman dan semakin rendah hati.

Buah mangga buah duku,
buah merah direbus diramu.
Tuhan layakkan aku,
menerima anugerah mujizat-Mu.

dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, rm.is

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Stephanus Istoto Raharjo Pr

Imam diosesan Keuskupan Agung Semarang yang kini berkarya di Keuskupan Manokwari-Sorong; Pembantu Ketua III Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPK) St. Benediktus di Sorong, Papua Barat.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply