Bacaan Lukas 4:16-30


LALU Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: “Bukankah Ia ini anak Yusuf?” Maka berkatalah Ia kepada mereka: “Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!” Dan kata-Nya lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. (Luk.16:21-24)


Kisah ‘Yesus ditolak di Nazaret’ mengajak kita belajar  untuk menghargai sesama bukan atas dasar asal-usul atau latar belakang tetapi atas dasar mutu kualitas dirinya. Dengan kata lain kita semestinya rendah hati mengakui apa yang baik, luhur, mulia dan indah dalam diri sesama kita, tanpa ’embel-embel’ apa pun. Harus mengasihi, menghormati dan menghargai mereka dengan segala ketulusan hati, siapa pun itu. Semoga kita tidak mewarisi sikap congkak hati seperti orang-orang Nazaret tetapi hidup rendah hati seperti Tuhan.


Di sini gunung di sana gunung,
di tengah-tengah pulau Sumatra. 
Jangan ragu dan jangan bingung,
ikut Tuhan ada damai sejahtera.


dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem rm.is


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Stephanus Istoto Raharjo Pr

Imam diosesan Keuskupan Agung Semarang yang kini berkarya di Keuskupan Manokwari-Sorong; Pembantu Ketua III Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPK) St. Benediktus di Sorong, Papua Barat.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.