Pelit Ilmu

Ayat bacaan: Daniel 6:4
===================
“Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya.”

pelit ilmu, kikir

Beberapa bulan yang lalu saya bertemu dengan seorang sepupu saya yang juga sama-sama mengajar, walaupun dalam bidang yang berbeda. Ia bercerita mengenai rekan-rekan sesama dosennya yang hanya memberikan sedikit dari apa yang mereka ketahui untuk diajarkan kepada para siswa. Singkatnya mereka-mereka ini termasuk dosen yang pelit ilmu. Mereka tidak rela jika siswa-siswi yang mereka bimbing nantinya bisa lebih baik dari mereka. “Mengajar itu cukup 50% saja.. jangan semuanya, rugi..” kata salah satu rekan dosen sepupu saya itu. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bercerita kepada saya. Bagaimana bangsa ini bisa maju kalau setiap generasi kualitasnya terus menurun dengan kehadiran pengajar-pengajar seperti ini, katanya. Sama seperti saya, dia pun tipe orang yang memberikan segalanya dalam mengajar. Apapun yang ia tahu akan ia sampaikan kepada para siswa. Bagi kami berdua, ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat anak-anak yang dibimbing bisa mencapai kesuksesan. Itu bentuk kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan uang sebesar apapun. Toh pelit ilmu tidak memberikan manfaat apa-apa. Berkat bukan berasal dari kehebatan ilmu kita, bukan berasal dari keahlian kita, tapi dari Tuhan. Tuhanlah yang memberkati pekerjaan kita sehingga kita bisa berhasil. Jika demikian, buat apa pelit ilmu?

Mari kita lihat sejenak mengenai Daniel. Daniel dikatakan sebagai sosok yang memiliki roh yang luar biasa dengan kecerdasan di atas rata-rata. Ia diangkat oleh raja Darius sebagai satu dari tiga pejabat tinggi yang membawahi 120 wakil-wakil raja. Diantara ketiga sosok ini, pekerjaan Daniel dianggap lebih baik dari dua orang lainnya. “Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya.” (Daniel 6:4). Daniel tidak setengah-setengah dalam bekerja, ia memberikan segala yang terbaik yang bisa ia lakukan. Termasuk dalam imannya yang tidak goyah sedikitpun ketika menghadapi bahaya. Semua itu berkenan di hadapan Tuhan, dan kita tahu bagaimana Daniel selamat dari cengkraman singa-singa lewat pertolongan Tuhan. Dalam perjanjian baru kita bisa melihat figur Paulus. Dalam melakukan pelayanan, Paulus tidak lalai dalam melakukan proses pemuridan. Ia menunjukkan kebesaran jiwanya dengan mendidik anak-anak muda yang setia mengikutinya dengan sungguh-sungguh, seperti kepada Timotius dan Titus. Kepada mereka, Paulus mengajarkan bagaimana sikap yang harus dimiliki dalam melayani dengan rinci dan jelas. Paulus tidak menyimpan-nyimpan sesuatu agar ia tetap menjadi yang terdepan. Ia ingin maju dan sukses bersama-sama dengan anak-anak didiknya. Timotius melayani di Efesus (1 Timotius 1:2-4) sedangkan Titus di Kreta. (Titus 1:4-6). Kedua anak muda ini tumbuh menjadi pelayan Tuhan yang begitu luar biasa.

Bagi saya, hidup akan jauh lebih bermakna ketika kita bisa membantu orang lain untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. McGinnis, Seorang penulis ternama di Amerika mengatakan “There is no more noble occupation in the world than to assist another human being – to help someone succeed”. Tidak ada pekerjaan yang lebih mulia di dunia selain membimbing orang lain-membantu mereka untuk meraih sukses. Saya setuju. Tuhan pun tidak menginginkan kita menjadi pribadi-pribadi yang kikir, hanya mementingkan diri sendiri dan tidak peduli kepada kemajuan orang lain. Dalam Korintus dikatakan “Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” (1 Korintus 6:9-10). Perhatikan bahwa orang kikir digolongkan ke tempat yang sama dengan kesesatan lainnya. Pelit tidak saja berbicara soal harta, tapi tentu juga termasuk ilmu.

Tuhan memberikan kita talenta untuk dikembangkan, bukan untuk disimpan sendiri. Ketika kita diberkati Tuhan dengan kemampuan akan sesuatu, hendaklah kita mempergunakannya juga demi kemajuan dan kesuksesan sesama kita. Jangan iri terhadap kesuksesan orang lain, jangan takut jika orang bisa sukses, bahkan ketika ada orang yang sukses melebihi kita. Ingatlah bahwa segala berkat datangnya dari Tuhan dan bukan dari kehebatan atau kepintaran kita. Seperti halnya Tuhan memberkati kita dengan segudang kemampuan, hendaklah kita memberkati orang lain lewat apa yang ada dalam diri kita. Apa yang kita miliki bukanlah untuk kita sendiri melainkan juga berguna bagi kemajuan orang lain. Apakah anda ada dalam posisi yang berhubungan dengan pengembangan kapasitas bawahan anda? Apakah ada di antara teman-teman yang juga berprofesi sama seperti saya sebagai pengajar? Jangan pelit ilmu. Bantulah mereka dengan sungguh-sungguh agar mereka bisa mencapai sukses. Biarlah nama Tuhan dipermuliakan lewat pekerjaan kita. Sebagai anak-anak Tuhan kita tidak boleh pelit. Tuhan siap memberkati siapapun yang mengasihi dan peduli kepada sesamanya.

Pelit ilmu bukanlah gambaran anak-anak Tuhan yang benar

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply