USAI paparan teoritik,  para peserta dibagi ke dalam kelompok untuk melakukan kegiatan reportase di lapangan. Selama 1,5 jam mereka harus berhasil mewawancarai narasumber guna menggali beragam informasi yang diperlukan sesuai dengan panduan yang diberikan. Selain itu, peserta juga diminta membuat dokumentasi tentang kegiatan reportasenya.

Jadi, ibarat kata pepatah, maka sekali kayuh, dua tiga pulau terlampaui: merumuskan materi reportase, praktik mencari berita by design, wawancara narasumber, mendokumentasi ‘peristiwa’ liputan berita, olah berita dan foto, baru kemudian proses memproduksi berita secara cetak disertai layout.

Usai dari lapangan, inilah saatnya proses produksi berita dimulai. Praktik kerjasama, berbagi wawasan di sinilah tempatnya.

Setiap anggota kelompok diberi kesempatan secara intens untuk berbagi cerita pengalaman reportasenya. Hasilnya didiskusikan bersama untuk kemudian secara bersama menentukan ‘produksi’ berita mereka, lengkap dengan ilustrasi gambar berupa foto hasil jepretan mereka sendiri.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30, ketika diskusi proses produksi berita ini bergulir. Namun, ternyata antusiasme dan semangat ‘baja’ tak gentar oleh waktu yang semakin larut. Enam kelompok bertahan dalam diskusi dan proses produksi berita hingga lewat tengah malam: pukul 12.30 WIT.

Diputuskan, proses dihentikan agar semua peserta harus beristirahat tidur. Namun, esok hari tepat pukul 06.00 pagi, proses produksi berita dimulai lagi. Yang membanggakan, semua peserta taat asas, disiplin tinggi: sudah beranjak kerja lagi tepat pukul 05.00 hingga pukul 07.30 ketika harus dilakukan rehat untuk sarapan.

Ternyata, antusiasme belum pudar; lanjut lagi hingga pukul 09.00 dan baru kemudian presentasi hasil kerja bersama di depan audiens untuk kepentingan review bersama.

Banjarmasin final project

Enam kelompok, enam hasil cetak: Hasil final projek penerbitan media cetak karya enam kelompok peserta Pelatihan Jurnalistik bersama tim Redaksi Sesawi.Net berhasil dikerjakan dalam hitungan jam, sekalipun waktunya mepet. (Dok. Sesawi.Net/Dio Bowo)

Dari hasil produksi berita cetak yang dibuat masing-masing kelompok itulah, kedua narasumber bisa mendapat ‘bahan’ untuk kritik konstruktif. Tata letak (layout) dan perwajahan materi berita cetak itu penting. Bukan hanya soal urusan cantik di tampilan semata, tapi juga menjadi semacam panduan bagi konsumen untuk bisa membaca secara enak dan mudah.

Website Keuskupan Banjarmasin
Tim Redaksi Sesawi.Net berhasil mendesain dan membuatkan official website Keuskupan Banjarmasin dengan alamat situs: www.keuskupan-banjarmasin.org.

Hasil reportase para peserta lokakarya dengan demikian menjadi sumbangan naskah untuk mengisi website ini. Pun pula, kata Mathias, website ini juga menjadi semacam etalase keuskupan dimana sejarah keuskupan lengkap dengan semua aneka detilnya bisa tersimpan dalam format virtual digital memenuhi kriteria: murah meriah, cepat, efisien, tak lekang oleh perjalanan waktu dan bisa diakses kapan pun dan dimana pun.

Inilah nilai strategisnya sebuah website profil keuskupan dimana bisa menjadi sarana ‘penghubung’ antara umat katolik seantero Keuskupan Banjarmasin, tidak peduli darimana dia berada dan dari mana mereka mengakses informasi ini.

Awalnya jenuh, demikian kata Fransiskus Viancyni Rote Sinaga dari Paroki Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin, namun hari berikutnya situasinya berubah 180 derajad karena memakai metode partisipatif. “Saya senang bisa praktek langsung dan ternyata berhasil membuat majalah dalam waktu sehari,” kata Franky.

Banjarmasin workshop 5

Lintas daerah: Pelatihan Jurnalistik ini diikuti oleh para peserta seluruh Keuskupan Banjarmasin baik dari kawasan kota maupun pedalaman di Provinsi Kalsel. (Dok. Komsos Keuskupan Banjarmasin)

Banjarmasin workshop 2

Sesi pencerahan dan wawasan jurnalistik: Sebelum melakukan praktik lapangan peliputan berita by design dan produksi berita cetak, wawasan tentang dunia jurnalistik menjadi kebutuhan para peserta. (Dok. Komsos Keuskupan Banjarmasin)

Ke depan, tandasnya, mestinya ada program acara berkelanjutan agar teknik dan kemampuan menulis bisa semakin ditingkatkan.

Sr. M. Mikaella PRR dari Paroki Ave Maria Tanjung mengucapkan terima kasih kepada para narasumber dan semua pihak yang telah memfasilitasi terselenggaranya pelatihan ini.

“Saya mempunyai hobi membaca dan menulis. Saya pernah mempunyai akun Facebook dan saya selalu meng-update status saya setiap hari. Namun beberapa waktu terakhir, saya tidak aktif lagi di Facebook. Dan setelah mengikuti pelatihan ini, entah mengapa secara tiba-tiba muncul kerinduan untuk kembali membagikan pengalaman saya kepada dunia melalui Facebook,” kata suster anggota Kongregasi Putri Renha Rosari ini.

Fitri Utaminingtyas Naibaho – salah seorang pelajar SMA Negeri di Banjarbaru mengaku belum pernah memiliki pengalaman di bidang jurnalistik. “Setelah pelatihan ini saya ingin mengasah kembali pengetahuan saya, dengan harapan saya bisa melangkah from zero to hero. Terima kasih kepada Komsos KWI dan Komsos Keuskupan Banjarmasin dan para nara sumber yang memberikan pengalaman kepada saya,” tandasnya.

Banjarmasin workshop 6

Kerja senang: Meski sudah larut malam, Sr. Stefani SFD tetap berkanjang dalam suka ketika bersama anggota kelompok bekerja memproduksi berita cetak bersama fasilitator dari tim Redaksi Sesawi.Net (Dok. Komsos Keuskupan Banjarmasin/Dionisius Agus Puguh Santosa)

Photo credit: Suasana latihan peliputan berita dan proses produksi berita cetak yang dikerjakan para peserta Pelatihan Jurnalistik dan Lokakarya Penulisan bersama tim Redaksi Sesawi.Net di Keuskupan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 9-11 Mai 2014. (Dok. Komsos Keuskupan Banjarmasin/Dionisius Agus Puguh Santosa)

Tautan:

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.