ANTUASIASME besar yang membuncah memenuhi sudut-sudut ruangan Aula Rumah Retret Sikhar, persis di depan Gereja Paroki Bunda Maria Banjarbaru, Keuskupan Banjarmasin di Kalimantan Selatan. Suasana riang, semangat, sekaligus aroma ‘kompetitif’ secara sehat terjadi di sini, ketika 28 peserta mengikuti program acara lokakarya jurnalistik cetak, olah foto dan tampilan layout bersama tim Redaksi Sesawi.Net dari Jakarta.

Inilah acara pelatihan yang digagas pertama-tama oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI  –melalui Sekretaris Eksekutifnya Romo Kamilus Pantus Pr—bersama mitra lokalnya di Keuskupan Banjarmasin: Komisi Komsos Keuskupan dan manajemen Redaksi Majalah Keuskupan Ventimiglia. Program acara spesialis untuk para penggerak Komsos Keuskupan Banjarmasin ini berlangsung seru, efektif, dan efisien, mulai tanggal 9-11 Mei 2014.

Ke-28 peserta lokakarya penulisan, jurnalistik cetak, metode olah foto dan tampilan layout ini datang dari 8 paroki se-antero Keuskupan Banjarmasin. Mengapa ‘hanya’ delapan paroki ? Itu karena Keuskupan Banjarmasin ini ‘mini’ dalam jumlah paroki yang hanya sembilan, sekalipun wilayah teritorial administratif gerejani meliputi satu kawasan Provinsi Kalimantan Selatan.

Ikut bergabung dalam lokakarya ini adalah sejumlah perwakilan siswa-siswi SMA Negeri di Banjarbaru, para seminaris postulan Kongregasi Imam Misionaris Keluarga Kudus (MSF), mahasiswa, bruder, dan dua orang suster biarawati dari Kongregasi Suster-suster Putri Renha Rosari (PRR) dan Kongregasi Suster  SFD.

DSC_7797

Pelatihan Jurnalistik bersama Sesawi.Net untuk para penggerak Komsos Keuskupan Banjarmasin di Rumah Retret Sikhar, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 9-11 Mei 2014. (Dok. Komsos Keuskupan Dionisius Agus Puguh Santosa)

Resminya –sesuai judul—program ini bertajuk Pelatihan Jurnalistik Cetak dan Pengolahan Foto yang difasilitasi oleh Romo Kamilus Pantus Pr mewakili Komsos KWI, Mathias Hariyadi (Co-founder dan Pemred Sesawi.Net) dan Dio Bowo, anggota tim Sesawi.Net sekaligus dosen visual artistik Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Tidak gampang
Selaku tuan rumah acara, Ketua Komsos Keuskupan Banjarmasin Romo Agus Doni Tupen MSF mengatakan, salah satu cara mendekatkan hati kita di zaman sekarang adalah melalui media komunikasi sosial. Itu dengan tujuan agar hati kita menjadi semakin dekat satu sama lain. “Harapannya sesudah pelatihan ini, kita bisa memanfaatkan media yang ada untuk saling berkomunikasi antar paroki,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris Komsos KWI RD Kamilus Pantus yang mengungkapkan bahwa perutusan Gereja masa kini diantaranya adalah masuk di dunia digital sebagai salah satu sarana pewartaan. Semangat ini juga mendapatkan dukungan positif dari tiga Paus terakhir: Santo Yohanes Paulus II, Paus Benediktus XVI dan Paus Fransiskus untuk mewartakan Kerajaan Allah kepada dunia luas. Di sisi lain, RD. Kamilus mengakui bahwa menjadi penulis yang baik itu tidak gampang.

Dunia yang serba cepat berubah

Pada sesi awal, Mathias Hariyadi membawakan tema “Presentasi tentang Dunia yang Serba Cepat Berubah.” Menurut dia, berita bisa jatuh dari langit secara tiba-tiba, tanpa kita duga-duga sebelumnya. Mathias memberikan contoh ilustrasi, ketika terjadi tsunami di Aceh, ada orang yang berhasil mendokumentasikannya hanya melalui kamera handphone, dan berhasil dijual kemana-mana karena foto itu langka.

DSC_7855

Etika jurnalistik dan praktik lapangan: Tim Sesawi.Net memberi wawasan tentang etika kerja jurnalistik dan praktik mencari, meliput dan memproduksi berita cetak. (Dok. Komsos Keuskupan Banjarmasin/Dionisius Agus Puguh Santosa)

“Berita yang terpenjara dalam teks, cenderung maknanya hanya pada teks itu sendiri. Namun jika disampaikan dalam foto, akan berbicara lebih banyak,” ungkap Dionisius Bowo saat membawakan materi pengantar foto jurnalistik. Soal dilema moral sifatnya situasional, kata dia, karena setiap photo journalist,dilindungi karena profesinya.

Sebelum pelatihan pada hari pertama ditutup, peserta diajak untuk berdiskusi sekaligus berefleksi bersama tentang hal-hal mendasar yang selama ini telah diketahui tentang dunia jurnalistik.

Di hari kedua pelatihan, Mathias Hariyadi mengajak peserta belajar tentang seluk-beluk penulisan berita, dimana wawasan seorang wartawan akan sangat berpengaruh terhadap mutu dan hasil tulisannya. Mathias menegaskan bahwa dalam etika peliputan, perlu diperhatikan cover both sides yang berarti memberi ruang bicara bagi kedua belah pihak tanpa berat sebelah.

DSC_7852

Hingga lewat tengah malam: Suasana diskusi dan praktik kerjasama terlihat dalam proses produksi berita cetak di dalam setiap kelompok. (Dok. Dionisius Agus Puguh Santosa)

Sebagai wartawan, demikian kata Mathias, kita harus menaati kode etik jurnalistik, dimana tanggungjawab moral seorang jurnalis besar sekali, karena bisa merusak atau membangun suatu bangsa. Di sisi lain Mathias prihatin melihat realitas dewasa ini dimana keluarga-keluarga sudah dikuasai oleh gadget, yang kemudian memunculkan pertanyaan, “Masihkah ada waktu untuk berkomunikasi satu sama lain?”

Pada sesi selanjutnya, Dionisius Bowo membeberkan secara cukup mendalam materi foto jurnalistik. Dengan sangat inspiratif ia mengajak para peserta pelatihan untuk melihat sekaligus mengomentari beberapa karya foto jurnalistik yang ditayangkan melalui presentasi . Ia juga menggarisbawahi foto jurnalistik tidak mementingkan alatnya, namun yang dipentingkan adalah aspek momen atau kejadiannya. Selain itu juga dijelaskan beberapa poin penting tentang etika foto jurnalistik dan dasar-dasar fotografi.

Photo credit: Suasana Pelatihan Jurnalistik dan Lokakarya Menulis, Tata Letak dan Fotografi bersama tim Redaksi Sesawi.Net atas prakarsa Komsos KWI, Komsos Keuskupan Banjarmasin, dan Majalah Keuskupan Ventimiglia/Diosius Agus Puguh Santosa.

Tautan:

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.