Pelatihan Jurnalistik dan Foto, Belajar Menjadi Wartawan

JpegSekitar 20 peserta dari berbagai paroki di Jakarta dan Bogor mengikuti pelatihan jurnalistik di dan foto di Wisma KWI, Jalan Cikini No.2, Jakarta Pusat, Sabtu (7/02/2015). “Semoga kegiatan ini bisa memotivasi orang muda untuk menjadi jurnalis. Juga bisa menjadi orang yang mewartakan kabar gembira kepada siapa saja”, demikian sambutan Rm. Haryanto, Pr, saat membuka pelatihan. Dalam pelatihan ini dibeberkan sejumlah teknik menulis berita secara sederhana. Menurut Bayu Wardhana, “Ciri terpenting dari sebuah berita adalah faktual, penting, umum, dan terpercaya. Perlu menyajikan berita dari hasil riset, pengamatan, pengecekan secara berimbang, dan akurasi data”. Hal senada juga ditegaskan oleh Edi Sukmana, pemateri Foto Jurnalistik. Menurut Edi, membuat foto jurnalis harus mengandung berita atau kisah. Inilah identitas penting dari sebuah foto. Hal lain adalah gagasannya tersampaikan, memiliki sisi kemanusiaan, dan unik. Dalam sesi Jurnalisme Sosial Media, Budi Pruwanto Henricus, mengingatkan bahwa saat ini siapa saja bisa menggunakan sosial media sebagai sarana publikasi. Keuntungan dari sosial media adalah berita tersebar cepat dan bisa menjadi lebih akurat. Kita juga perlu melakukan verifikasi, karena sangat berhubungan dengan informasi dan narasumber dan undang-undang. Menurutnya, ketika menggunakan media sosial, kita harus terbuka dengan kritik langsung. Seluruh peserta  sangat antusias mengikuti seluruh proses ini dengan baik. “Kegiatan ini penting bagi saya, untuk bisa belajar Jurnalis. Saya juga dapat keluar dari saya, dan mengajar orang lain untuk menulis”, ungkap Marsela, umat dari Paroki St. Andreas. Bagi Sili, “Aku sih belajar banyak nih. Awalnya kukira menulis itu tanpa aturan. Yang penting asal jadi gitu. Rupanya ada patokan-patokannya. Saya juga belajar untuk berbagi dengan orang lain lewat sebuah tulisan lho”. Demikian ungkap anak muda Paroki St. Andreas Sukaraja, Keuskupan Bogor. Kegiatan yang dimotori oleh Komisi Kepemudaan KWI ini ditutup dengan praktik menulis dan membuat foto jurnalis berdasarkan tulisan tersebut.

Jpeg

Sekitar 20 peserta dari berbagai paroki di Jakarta dan Bogor mengikuti pelatihan jurnalistik di dan foto di Wisma KWI, Jalan Cikini No.2, Jakarta Pusat, Sabtu (7/02/2015).

“Semoga kegiatan ini bisa memotivasi orang muda untuk menjadi jurnalis. Juga bisa menjadi orang yang mewartakan kabar gembira kepada siapa saja”, demikian sambutan Rm. Haryanto, Pr, saat membuka pelatihan.

Dalam pelatihan ini dibeberkan sejumlah teknik menulis berita secara sederhana. Menurut Bayu Wardhana, “Ciri terpenting dari sebuah berita adalah faktual, penting, umum, dan terpercaya. Perlu menyajikan berita dari hasil riset, pengamatan, pengecekan secara berimbang, dan akurasi data”.

Hal senada juga ditegaskan oleh Edi Sukmana, pemateri Foto Jurnalistik. Menurut Edi, membuat foto jurnalis harus mengandung berita atau kisah. Inilah identitas penting dari sebuah foto. Hal lain adalah gagasannya tersampaikan, memiliki sisi kemanusiaan, dan unik.

Dalam sesi Jurnalisme Sosial Media, Budi Pruwanto Henricus, mengingatkan bahwa saat ini siapa saja bisa menggunakan sosial media sebagai sarana publikasi. Keuntungan dari sosial media adalah berita tersebar cepat dan bisa menjadi lebih akurat. Kita juga perlu melakukan verifikasi, karena sangat berhubungan dengan informasi dan narasumber dan undang-undang. Menurutnya, ketika menggunakan media sosial, kita harus terbuka dengan kritik langsung.

Seluruh peserta  sangat antusias mengikuti seluruh proses ini dengan baik. “Kegiatan ini penting bagi saya, untuk bisa belajar Jurnalis. Saya juga dapat keluar dari saya, dan mengajar orang lain untuk menulis”, ungkap Marsela, umat dari Paroki St. Andreas.

Bagi Sili, “Aku sih belajar banyak nih. Awalnya kukira menulis itu tanpa aturan. Yang penting asal jadi gitu. Rupanya ada patokan-patokannya. Saya juga belajar untuk berbagi dengan orang lain lewat sebuah tulisan lho”. Demikian ungkap anak muda Paroki St. Andreas Sukaraja, Keuskupan Bogor.

Kegiatan yang dimotori oleh Komisi Kepemudaan KWI ini ditutup dengan praktik menulis dan membuat foto jurnalis berdasarkan tulisan tersebut.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply