Pelangi Alangkah Indahmu

Ayat bacaan: Mazmur 104:24
=======================
“Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.”

pelangi indah

Indahkah bagi anda pelangi melengkung terlukis di langit sehabis hujan? Bagi saya pelangi itu sangat indah. Saya ingat waktu kecil saya selalu mencari pelangi setiap kali hujan reda. Saya akan sangat gembira jika saya melihat untaian pelangi di langit. Dongeng waktu kecil yang saya tahu, “there’s a pot of gold at the end of the rainbow”. Saya pernah bergegas mencari ujung pelangi, yang tentu saja tidak akan pernah saya temukan. Tapi meski demikian, keindahan pelangi itu tidak pernah saya lewatkan, seringkali dengan senyum karena apa yang saya lihat itu begitu indah. Seiring perjalanan waktu, berbagai kesibukan dari pekerjaan dan rutinitas membuat saya jarang punya kesempatan lagi untuk melihat pelangi. Ketika saya dalam perjalanan pulang beberapa hari yang lalu, saya melihat pelangi, masih dalam bentuk yang sama seperti apa yang saya lihat pada waktu saya kecil. Saya pun tersenyum. “Betapa indahnya pelangi, betapa indahnya ciptaanMu ya Tuhan..”

Ketika hari begitu panas, kita ingin hujan turun. Ketika hujan turun, kita ingin hari panas lagi disinari matahari. Seringkali kita hanya mengeluhkan apa yang kita dapatkan dari cuaca. Kesibukan yang menyita waktu kita membuat kita lupa untuk mengingat Pencipta dari segalanya. Bunga-bunga yang indah bermekaran, senja yang berwarna merah, langit biru penuh awan, matahari yang bersinar, bintang-bintang yang berkilauan, bahkan bulan yang kemarin terlihat bulat utuh dan sangat terang, burung-burung yang berkicau menjelang pagi, semua itu ada yang menciptakan. Begitu indahnya apa yang diciptakan Tuhan, begitu indah seolah-olah itu semua merupakan bentuk senyum Tuhan yang penuh kasih menyapa kita setiap harinya. Apakah kita menanggapi sapaan itu dan mengingat Pribadi yang menciptakan, atau kita malah mengeluh terhadap segala sesuatu yang Dia ciptakan karena mengasihi kita? Daud tidak terperangkap pada hal itu. Dia menyadari betul betapa kreatifnya Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan sangat indah. “Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.” (Mazmur 104:24).

Begitu luasnya alam semesta, begitu banyaknya keragaman hewan dan tumbuhan, bukit dan lembah, darat dan laut, beserta isinya, dan itu semua diciptakan oleh Dia yang begitu mengasihi kita. Apa yang Dia ciptakan dengan begitu indah seringkali lewat dari pandangan kita. Padahal ada begitu banyak keindahan yang seharusnya menjadi alasan bagi kita untuk mengucap syukur kepadaNya. Itu baru dari sudut keindahan bumi beserta isinya dan alam semesta yang luas. Bagaimana mengenai kita, manusia yang Dia ciptakan secara begitu istimewa menurut gambar dan rupaNya? Lihat apa kata Tuhan mengenai kita: “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” (Yesaya 49:15-16). Begitulah pentingnya kita di mata Tuhan! Yesus memberikan janji yang sama dari sisi lain. “Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” (Lukas 12:6-7). Jika burung pipit yang kecil saja diperhatikan Tuhan, apalagi kita yang Dia ciptakan menurut gambar dan rupaNya. Tangan Tuhan menciptakan alam semesta yang begitu besar dan luas berikut isinya, tapi tangan yang sama bisa juga memeluk kita yang begitu kecil ini. Daud melihat ini semua dan berkata: “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mazmur 8:4-5). Dan ia pun menutup Mazmur bagian ini dengan “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (ay 10).

Menurut pandangan kita, hidup mungkin penuh ketidakpastian. Karena itu kita bekerja keras untuk memampukan kita menghadapi segala ketidakpastian itu. Namun janganlah lupa untuk berhenti sejenak untuk menghargai dan mensyukuri segala yang telah Dia sediakan bagi kita. Senyum Tuhan yang penuh kasih menyapa kita setiap hari lewat segala keindahan alam, hembusan angin, goyang dedaunan dan bunga-bunga yang harum dan indah. KasihNya hadir lewat hujan dan sinar matahari. Semua itu menggambarkan kebesaranNya. Dan lebih dari itu semua, kita diciptakanNya secara istimewa untuk menjaga dan mengelola segala hasil ciptaanNya yang lain. Tangan yang sama yang Dia pakai untuk menciptakan segala sesuatu itu Dia pakai pula untuk memeluk dan menjaga kita. Atas segalanya ini, tidakkah kita pantas untuk bersyukur tanpa henti?

“Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!” (Mazmur 105:1)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply