Pelaku Bukan Penonton

Ayat bacaan: 1 Petrus 2:9
==================
“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib”

Siapa aktor atau aktris kesayangan anda? Ada yang ngefans karena penampilan atau wajah yang cantik/ganteng, dari perawakan tubuh yang sempurna, ada pula yang lebih mementingkan kehebatan berakting. Saya lebih tertarik kepada aktor watak yang bisa memerankan tokoh berbeda-beda dengan pendalaman sangat baik, yang bisa membawa penonton untuk masuk mendalami karakter kemudian lupa bahwa itu adalah hasil olah peran dari aktor yang bersangkutan. Ambil contoh peran almarhum Heath Ledger sebagai Joker dalam The Dark Knight sebagai tokoh antagonis dari seri Batman era baru. Ia melebur sempurna, mencekam dan terlihat menakutkan meski wajahnya dicat seolah badut sirkus. Atau lihat pula peran-peran Johnny Depp yang meski berwajah tampan tapi kerap menomorduakan penampilan secara fisik dan lebih mengedepankan seni peran. Teman saya masih tetap memfavoritkan Sylvester Stallone dan sangat bergembira dengan kembali suksesnya sang aktor lewat seri The Expandables dengan membawa segudang artis laga dari masa lalu digabung dengan tokoh-tokoh laga masa kini. Jika anda masih muda, mungkin anda akan lebih tertarik melihat aktor/aktris remaja baik dalam dan luar negeri. Anda tentu punya pilihan sendiri. Saya bukan hendak bercerita mengenai para pelaku industri perfilman Hollywood, Bollywood, Asia atau dalam negeri sendiri. Tapi ijinkan saya bertanya: bagaimana rasanya jika anda bukan hanya menonton aksi aktor/aktris kesayangan anda, tapi terlibat beradu akting secara langsung dengan mereka? Anda bukan lagi duduk di kursi empuk bioskop atau sambil mengunyah pop corn di depan televisi, tetapi anda ada di dalam layar, turut serta sebagai bagian dari cerita? Apakah anda berani atau tidak, itu soal lain. Tapi saya yakin itu akan anda rasakan sebagai sebuah pengalaman yang luar biasa membanggakan. Bagi saya yang berkecimpung di dunia musik, saya pernah tampil di atas panggung yang sama dengan para musisi luar biasa yang sebelumnya hanya saya lihat di layar kaca atau dengar lewat rekaman album mereka saja. Meski saya berada di sana bukan bermain musik bersama mereka, berada pada posisi seperti itu, bukan dari tempat penonton melainkan dari panggung melihat mereka yang bersorak dan bernyanyi, memberikan sebuah pengalaman baru yang sulit untuk dilupakan.

Hari ini saya ingin mengajak anda merenungkan sebuah pertanyaan yang penting. Dalam kehidupan kerohanian kita dimanakah posisi kita berdiri? Apakah kita berada di posisi pelakuatau masih sebagai penonton? Apakah kita hanya mendengar berbagai kesaksian orang lain atas mukjizat ajaib Tuhan yang terjadi atas mereka atau kita sudah mengalaminya sendiri secara langsung? Apakah kita sudah berkontribusi dan berperan langsung sebagai saluran berkat, menjadi duta-duta Kerajaan yang menyampaikan Amanat yang Agung secara nyata atau masih pada posisi yang hanya menyaksikan dari kejauhan? Apakah kita sudah memberi atau masih hanya menerima saja? Pada kenyataannya lebih banyak orang Kristen yang puas dengan hanya berada di bangku penonton ketimbang aktif secara langsung dalam melakukan pekerjaan Tuhan di dunia ini.  Kebanyakan lebih suka untuk berpangku tangan, hanya ingin menerima berkat buat diri sendiri dan tidak mau terlibat langsung untuk menjadi agen-agen Tuhan. Melayani Tuhan itu hanya tugas pendeta atau para pengerja. Urusan duniawi seringkali dianggap jauh lebih penting ketimbang menerima panggilan Tuhan yang menurut kita hanya buang-buang waktu. “Buat apa? Mending saya kerja siang malam supaya banyak uang, pelayanan itu ribet dan enggak ada duitnya…” kata seorang yang saya kenal pada suatu kali sambil tertawa. “Saya sih karunianya jemaat bro, bukan melayani.” kata seorang lagi. Bukankah banyak orang yang memiliki pola pikir seperti itu?

Pertanyaan selanjutnya, apakah benar hanya sebagian yang punya tugas sementara yang lain boleh berpangku tangan sambil tetap menerima segala curahan berkat dan anugerahNya? Apakah Tuhan hanya menginginkan sebagian orang saja buat berperan secara aktif mewartakan Injil? Alkitab tidak berkata seperti itu. Firman Tuhan secara tegas berkata: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1 Petrus 2:9). Sebuah bangsa, itu bicara tentang keseluruhan orang percaya dan bukan hanya segelintir pribadi. “Kamulah bangsa yang terpilih”, demikian Firman Tuhan berkata, itu artinya anda dan saya berada dalam bangsa yang terpilih itu, sebuah bangsa yang kudus, yang berisi umat kepunyaan Allah sendiri. Selanjutnya kita dikatakan imamat yang rajani. Imamat yang rajani, itu berarti dimata Tuhan kita adalah sebagai imam-imam yang melayani raja atau dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan royal priesthood. Gelar sebesar ini tentulah bukan tanpa maksud. Itu menunjukkan panggilan bagi setiap kita untuk memberitakan perbuatan-perbuatan besar Tuhan secara aktif lewat berbagai kesaksian akan karya nyata Tuhan dalam hidup kita. Ini adalah sebuah panggilan untuk semua anak-anak Tuhan tanpa terkecuali, bagi anda dan saya. Yesus sendiri sudah berpesan dengan sangat jelas agar kita menjadi rekan sekerjaNya lewat Amanat Agung yang Dia berikan tepat sebelum kenaikanNya kembali ke Surga. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20).

Untuk menjalankan itu semua kita pun sudah dipersiapkan secara baik. selain Yesus sudah berjanji untuk senantiasa menyertai kita, Dia juga telah membekali kita dengan kuasa-kuasa luar biasa. Tidak mudah? Sulit? Repot? Ribet? Mungkin ya, tapi ketahuilah bahwa Tuhan tidak pernah hanya menyuruh kita tanpa menyediakan sarana dan prasarana dalam menjalankan tugas. Ketika Tuhan memberi tugas, Dia pula yang menyediakan segala kebutuhan untuk itu. Lihatlah ayat berikut ini: “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.” (Lukas 10:19). Yesus juga berkata “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8). Kuasa tidak ditahan tapi diberikan agar kita mampu berperan langsung menjadi saksi Kristus baik di lingkungan kita bahkan bisa meningkat sampai ke ujung bumi. Semua ini dengan jelas menyatakan bahwa tidak satupun dari kita yang dipanggil hanya untuk berpuas diri dengan berada di kursi penonton saja. Kita semua dituntut untuk menjadi pemain-pemain yang siap berbuat yang terbaik dengan segala yang kita miliki, berperan secara langsung dan nyata sesuai dengan panggilan kita masing-masing, untuk menjadi rekan-rekan sekerja Tuhan di muka bumi ini. Disanalah anda akan mengalami berbagai perbuatanNya yang ajaib, bukan untuk disimpan sendiri melainkan untuk disiarkan kepada orang lain sebagai bentuk kesaksian akan kuasa Allah yang tak terbatas yang berlaku dalam kehidupan kita secara nyata hingga hari ini.

Kerajaan Allah tidak akan turun di muka bumi ini tanpa peran orang-orang percaya. Anda tidak bisa berharap untuk sebuah dunia yang damai, aman, sejahtera, sentosa jika anda tidak mulai berpikir untuk melakukan sesuatu yang nyata. It’s our job, we ought to do something according to our callings. Jika anda rindu untuk melihat Kerajaan Allah terus diperluas di dunia ini, maka itu artinya anda harus pula terjun dan berperan secara langsung di dalamnya. Bukan lagi sekedar menempatkan diri sebagai jemaat biasa yang datang ke gereja hanya sebagai penonton saja, hanya mencari berkat bagi diri mereka sendiri dan tidak mempedulikan keselamatan orang-orang di sekitarnya, hanya mau menerima tanpa pernah mau memberi, melainkan harus mulai berpikir untuk tampil secara langsung sebagai pelaku-pelaku yang menyandang gelar imamat yang rajani. Yesus sendiri sudah menyatakan, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” (Matius 9:37). Seharusnya kita tersentil mendengar kata-kata Yesus ini dan mulai mau berpikir untuk melakukan karya nyata kita secara langsung.

Saatnya menjadi terang yang bercahaya bagi sekitar kita. Yesus menghimbau kita “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 9:16). Tidak ada terang yang akan berfungsi jika hanya disimpan dibawah kolong atau ditutup rapat dalam kotak. Terang hanya akan bercayaha jika diletakkan di atas dalam kegelapan. Jika terang sudah berfungsi sebagaimana mestinya, maka tidak ada satupun kegelapan yang mampu menelan terang. Demikian pula kita semua, anak-anak Tuhan hendaklah bertindak sebagai pemain-pemain andalan Tuhan secara langsung dan tidak berhenti hanya sebagai penonton saja, apalagi hanya sibuk mengomentari, mengeluh, memprotes dan mencela tanpa mau berbuat sesuatu yang nyata. It’s time to go out of the box, time to play our part, to go and do something real. Kita dipersiapkan Tuhan untuk menjadi pelaku-pelaku, rekan sekerjaNya dalam menuai di dunia ini dan bukan penonton yang tidak pernah merasakan apa-apa daripadaNya. Siapkah anda berperan sebagai pelaku langsung dalam arena Kerajaan Allah? Siapkan diri anda, jadilah pelaku-pelaku tangguh sebagai rekan sekerjaNya, sandanglah gelar imamat yang rajani dengan penuh tanggung jawab dan rasa syukur, dan beritakanlah betapa besar perbuatan-perbuatanNya.

Sebagai bangsa terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus dan umat kepunyaan Allah, kita seharusnya menjadi pelaku-pelaku tangguh yang aktif, bukan penonton pasif

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: